Category Archives: 1 Muharam Saat Hijrah

Ikhlaslah dalam Taubat

Sahabat yang baik,
Taubat yang benar akan menghapus dosa dan kesalahan masa lalu
Benarnya taubat … Membutuhkan keikhlasan dan pengorbanan

Menyatukan iman di hati dengan pikiran yang benar Untuk melangkah di jalan dan tindakan yang benar

Semoga ditolong Allloh, jujur dan ikhlas dalam taubat.
Mari perbanyak beristighfar, minimal 70 kali sehari

Berdoalah : kami memohon ampunanmu Ya Alloh dan kami bertaubat kepadaMu. Tiada Tuhan selain Engkau.


Adab Menuntut Ilmu (Rumusan Imam Syafii)

(1) Ikhlas Karena Allah:
“Siapa menuntut ilmu untuk meraih kebahagiaan negeri akhirat; ia kan beruntung meraih kemuliaan dari Allah yang Maha Pemberi Petunjuk; Maka dia pun akan meraih kebaikan yang berasal dari hamba-Nya”
(2) Meninggalkan Perbuatan Dosa:
“Aku mengadu kepada Waki’ tentang kelemahan hafalanku; ia pun memberikan nasehat agar aku meninggalkan maksiat; Ia memberitahuku pula bahwa ilmu itu cahaya; dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang maksiat.”
(3) Menuntut Ilmu Sejak Dini:
“Siapa yang kehilangan waktu belajar pada waktu mudanya; takbirkan dia empat kali; anggap saja ia sudah mati. Seorang pemuda akan berarti apabila ia berilmu dan bertaqwa; Jika dua hal itu tiada, pemuda pun tak bermakna lagi.”
(4) Mencatat Setiap Ilmu yang dipelajari:
“Ilmu itu bagaikan binatang buruan, dan menulis adalah pengikatnya; ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat; Sebab diantara bentuk kebodohan, engkau memburu seekor rusa; lalu kau biarkan rusa itu bebas begitu saja.”
(5) Sabar Dibimbing Guru:
“Sabarlah dengan sikap guru yang terasa pahit di hatimu; sebab kegagalan itu disebabkan meninggalkan guru. Barangsiapa yang tak mau merasakan pahitnya menuntut ilmu sesaat; sepanjang hidupnya ia akan menjadi orang hina karena kebodohannya.”
(6) Manajemen Waktu yang Baik:
“Takkan ada seorang pun yang akan mencapai seluruh ilmu; takkan ada, meskipun ia terus berusaha seribu tahun lamanya. Sesungguhnya ilmu itu bagaikan lautan yang sangat dalam, sebab itu ambilah semua yang terbaik dari ilmu yang ada.”
(7) Menikmati Ilmu yang Dipelajari:
“Malam-malamku untuk mempelajari ilmu terasa lebih indah daripada bersentuhan dengan wanita cantik dan aroma parfum. Mata penaku yang tertuang dalam lembaran-lembaran kertasku lebih nikmat daripada bercinta dan bercumbu. Menepuk debu-debu yang menempel di lembaran-lembara kertasku lebih indah suaranya daripada tepukan rebana gadis jelita.”
(8) Bergaul dengan Orang Berilmu dan Saleh:
“Bergaullah dengan orang-orang berilmu dan bertemanlah dengan orang-orang saleh diantara mereka; sebab berteman dengan mereka sangat bermanfaat dan bergaul dengan mereka akan membawa keuntungan. Janganlah kau merendahkan mereka dengan pandanganmu; sebab mereka seperti bintang yang memberi petunjuk, tak ada bintang yang seperti mereka.”
(9) Mengembara Mencari Ilmu:
“Mengembaralah! Engkau akan mendapat sahabat-sahabat pengganti sahabat-sahabat yang ditinggalkan. Bekerja keraslah, karena kelezatan hidup adalah dalam bekerja keras. Saya berpendapat bahwa air jika tetap di suatu tempat, ia akan busuk. Jika ia mengalir barulah ia bersih, dan kalau tidak mengalir akan menjadi kotor. Singa, jika tidak keluar dari sarangnya, ia tak akan dapat makan. Anak panah jika tak meluncur dari busurnya ia takkan mengena.”
(10) Menghargai Pendapat Orang Lain:
“Jika Anda benar-benar memiliki ilmu dan pemahaman tentang ikhtilaf ulama dulu dan sekarang. Maka hadapilah lawan diskusimu dengan tenang dan bijak; jangan sombong dan keras kepala.”
(11) Tak Pernah Puas dengan Ilmunya:
“Setiap aku mendapat pelajaran dari masa, setiap itu pula aku tahu segala kekurangan akalku. Setiap ilmuku bertambah, setiap itu pula bertambah pengetahuanku akan kebodohanku.”
Demikianlah adab mencari ilmu rumusan Imam Syafii rahimahullah, yang kiranya bisa dijadikan panduan oleh para penuntut ilmu dimanapun berada.
[Dikutip dari Kitab Diwan al-Imam al-Syafii karya Muhammad Abdurrahim (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), sebagaimana yang dituliskan oleh Dr. Adian Husaini dalam artikel bertajuk; “Kuliah Kemana?” di Hidayatullah.com]

Kepala Orang Durhaka Masuk Ke Baju

Kekeringan menimpa Bani Israel pada zaman Nabi Musa ‘alahih-salam. Lalu mereka beramai-ramai mendatanginya. “Hai orang yang diajak bicara langsung oleh Allah, mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya menurunkan hujan untuk kami!” Musa ‘alahih-salam bangkit bersama mereka, lalu bersama lebih dari tujuh puluh ribu orang pergi ke padang pasir.

Kekeringan menimpa Bani Israel pada zaman Nabi Musa ‘alahih-salam. Lalu mereka beramai-ramai mendatanginya. “Hai orang yang diajak bicara langsung oleh Allah, mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya menurunkan hujan untuk kami!” Musa ‘alahih-salam bangkit bersama mereka, lalu bersama lebih dari tujuh puluh ribu orang pergi ke padang pasir.

Di sana Musa ‘alahih-salam berseru, “Tuhanku, turunkanlah hujan-Mu untuk kami, tebarkanlah rahmat-Mu atas kami, dan kasihanilah kami karena bayi-bayi yang masih menyusu, binatang-bintang yang merumput dan orang-orang tua yang bungkuk!” Ternyata, langit justru makin bersih dan sinar mentari kian membakar!

Melihat itu Musa ‘alahih-salam berseru, “Tuhanku, bila memang kedudukanku di sisi-Mu telah lapuk, maka aku memohon dengan kedudukan Nabi ummi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang akan Engkau utus di akhir zaman!”

“Kedudukanmu di sisi-Ku tidak lapuk, engkau tetap mulia di sisi-Ku. Tetapi, di tengah-tengah kalian ada seorang hamba yang menentang-Ku selama empat puluh tahun dengan kemaksiatan. Serulah orang-orang itu hingga hamba pendurhaka itu maju ke hadapan kalian, sebab hanya karena dialah aku tidak menurunkan hujan atas kalian,” wahyu Allah kepada Musa.

“Tuhanku, aku hamba yang lemah, suaraku juga lemah. Bagaimana mungkin ia akan terdengar oleh mereka padahal mereka berjumlah tujuh puluh ribu lebih?” tanya Musa.

“Kamu hanya berseru, Akulah yang akan menyampaikan!” jamin Allah.

Musa ‘alahih-salam kemudian berdiri dan berseru, “Hai hamba pendurhaka yang menentang Allah selama empat puluh tahun, majulah ke depan kami, sebab hanya karenamulah kita tidak memperoleh hujan!”

Si hamba pendurhaka berdiri lalu menoleh ke kanan kiri, namun ia tidak melihat seorang pun yang keluar. Maka ia pun tahu bahwa dirinyalah yang dimaksud.

“Jika aku maju ke hadapan orang sebanyak ini aibku akan terbongkar di hadapan Bani Isreal, namun jika aku tetap duduk, mereka akan tetap tidak mendapatkan hujan,” gumamnya dalam hati.

Ia lalu memasukkan kepalanya ke baju sambil menyesali perbuatan dosanya seraya berseru, “Tuhanku, aku telah mendurhakai-Mu selama empat puluh tahun, namun Engkau tetap memberiku tangguh. Kini aku datang kepada-Mu dengan penuh kepatuhan, maka terimalah aku!”

Ternyata, sebelum ia selesai berdoa, mendung putih telah menggelantung di langit dan langsung menurunkan hujan seperti mulut-mulut bejana (sangat deras-Penerj.).

“Tuhanku, karena apa Engkau menurunkan hujan atas kami padahal belum seorang pun keluar ke hadapan kami? Tanya Musa ‘alahih-salam keheranan.

“Musa, Aku menurunkan hujan atas kalian karena orang yang menjadi sebab Aku menahan hujan untuk kalian telah bertaubat dengan ikhlas” jawab Allah ‘Azza wa Jalla.

“Tuhanku, perlihatkan kepadaku hamba pendurhaka ini!” pinta Musa penasaran.

“Musa, Aku tidak membuka aibnya kala ia mendurhakai-Ku, lalu Aku akan membuka celanya saat ia telah menaati-Ku?! Musa, Aku benci para pengadu domba, kemudian Aku menjadi pengadu domba?!” tanya Allah.

Hadits Menuntut Ilmu : Sampai ke Negeri Cina

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنَ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ اَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًابِمَا يَطْلُبُ
Artinya: “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut. (H.R. Ibnu Abdil Bar).