Category Archives: 11 Pondasi Dzulqodah

Jalan Cinta

Untuk anak-anakku,
Yang sedang bertanya-tanya
Tentang masa depan yang tersembunyi dan terbayang begitu jauh
Berharap-harap tentang hidup yang sedang dan akan dihadapinya
Anak-anakku,
yang sedang mencari keyakinan jiwa
Terhadap jiwa lain yang menjadi pasangan jiwanya

Anak-anakku,
Yang sedang gelisah
Menjalani hidup yang penuh ketidakpastian
Dan godaan-godaan yang memberatkan

Anak-anakku,
Yang semakin dewasa
Dan penuh dengan beban tanggungjawab kehidupan
Aku berdoa untuk kalian
Ya Allah,
Karuniakanlah kebajikan dan keteguhan hati kepada mereka
Jiwa-jiwa yang sedang tumbuh dewasa
Bersihkanlah jiwa mereka
Masukkanlah mereka dalam lindunganMu dan pemeliharaanMu


Anakku,
Pada mulanya engkau dan dia bertemu dalam ketidaksengajaan
Karena sejak mulanya adalah engkau dan dia dipertemukan
Oleh Tangan Gaib yang mengatur kehidupan
Dan sejak engkau bertemu lelaki bermata kuat
Dengan tatapannya yang tajam
Ada yang tersentak dari dalam dadamu
Engkau sering menyendiri duduk dalam gelap
bersenandung nyanyian kasmaran
Dan tersenyum entah untuk siapa
Nampaknya engkau tengah mabuk kepayang
memahat langit dengan angan-angan
mengukir malam dengan bayang-bayang
Jangan hanya diam engkau simpan dalam duduk termenung
Malam yang engkau sapa lewat tanpa jawab
Bersikaplah jujur dan terbuka
Tumpahkanlah perasaan yang sarat dengan cinta yang panas bergelora
Barangkali takdir tengah bicara
Telah datang seorang lelaki diperuntukkan buatmu
Dan pandangan matanya memang khusus buatmu
Mengapa engkau harus sembunyi dari kenyataan
Cinta kasih sejati kadang datang tak terduga
Bergegaslah bangun dari mimpi
Atau engkau akan kehilangan keindahan yang tengah engkau genggam
Anggap saja takdir tengah bicara
Ia datang dari langit buatmu dan pandangan matanya khusus buatmu
Engkau akan segera menyadari
Keadaannya tidaklah jauh berbeda
Takdir tengah bicara kepadanya
Ada yang tersentak dari dalam dadanya
Sejak ia bertemu denganmu gadis bermata lembut
Dan tatapanmu yang sejuk
Ia mengasingkan diri dari keriuhan
Merenungi keajaiban ruhaniah yang menggetarkan jiwanya
Bermalam-malam lewat tanpa jawab
Berharap-harap ia bertemu lagi denganmu
Menyusun angan-angan duduk berdua di bawah pohon cemara
Dan bercerita tentang sepasang burung yang bercumbu di atas dahan
Ia menyematkan kembang di rambut telinga kananmu
Lalu waktu yang engkau dan dia bayangkan pun tiba
Engkau bertemu dengannya berdiri di dekat duduknya
Tetapi ia hanya duduk terdiam
Engkaupun hanya berdiri terpaku berharap-harap
Ia berdiri mendekat ke hadapanmu dan menyapamu
Angin dan daunan dan waktu bercanda menunggu
Tetapi engkau dan dia tidak beranjak menyambut suara alam
Yang mengabarkan harapanmu terhadapnya
Dan mengabarkan hasratnya terhadapmu
Keraguanlah yang menyelimuti langkahmu
Engkau ragu keliru memahami pandangan matanya
Ketakutanlah yang menyelubungi langkahnya
Ia takut menemui kenyataanmu yang berbeda
Waktu berlalu dan engkau dan dia berlalu
Sejak ia berlalu dari hadapanmu
Sepi menggelayut di dalam dadamu dan rindu bayang-bayangnya
Sejak engkau berlalu dari hadapannya
Di dadanya bergelayut sepi dan rindu bayang-bayangmu
Engkau dan dia memang tidak seperti kanak-kanak lagi
Kanak-kanak tidak pandai berdusta apalagi terhadap perasaan di dada
Kanak-kanak yang begitu jujur tentang apa yang disukainya atau
dibencinya
Dan disampaikannya dengan tanpa beban
Sedang engkau menyembunyikan darinya
Perasaanmu yang bergelora
Dan dia menyembunyikan darimu
Hasratnya yang membara
Kedua-duanya bersembunyi dibalik harga diri
Mengapa engkau dan dia tidak bersegera mengikuti panggilan jiwa
Yang disatukan Tangan Gaib dalam cinta
Anugerah yang mengejawantah dalam dirimu dan dirinya
Pabila cinta telah memanggilmu ikutilah jalannya
Meski dibalik sayapnya yang anggun
Tersimpan pedang tajam melukaimu
Yakinlah anugerah gaibNya akan membimbing engkau dan dia
Dalam perjalanan yang menggembirakan betapa pun jauhnya
Apabila anugerah cinta telah melingkupi jiwamu dan jiwanya
Maka atas kehendakNya engkau dan dia akan dipertemukan
Betapapun engkau tidak menginginkan
Atau dia tidak menghendaki
Apabila hanya hasrat dan gelora nafsu yang melingkupi jiwamu dan
jiwanya
Maka atas kehendakNya engkau dan dia akan dipisahkan
Betapapun engkau ingin menemukannya
Atau dia ingin menemukanmu
Sesungguhnya atas kehendakNyalah engkau dan dia dipertemukan atau
dipisahkan
Nampaknya kegelisahanmu dan hasratnya
Hendak dipertemukan olehNya dalam cinta
Sehingga waktu membuatmu sering berhadapan dengannya
Dan ruang sering menempatkannya di dekatmu
Lalu engkau dan dia menjadi lebih mudah berbicara
Dan mendekatkan jiwamu dengan jiwanya
Sampai tiba waktu yang engkau dan dia tunggu
Benih yang dianugerahkan untukmu dan untuknya
Telah mulai bersemi dan tumbuh sebagai pohon cinta dengan cepatnya
Kalian menjadi sepasang kekasih yang saling mengikat janji setia
Sepasang kekasih saling menumpahkan perasaan
Mengikat waktu dengan memadu rindu
Saling bercerita tentang kegembiraan
Saling bercerita tentang kesedihan
Saling membagi tentang harapan dan beban
Memupuk pohon cinta dengan terbuka
Kepercayaan dan keikhlasan tentang hidup yang nampak atau tersembunyi
Memberikan dengan segala kerelaan kesempatan dan dukungan
Meminta dengan lembut pembelaan dan perlindungan
Memberikan pengertian dengan sepenuh hati dan pikiran
Sepasang kekasih saling menjaga dan memelihara
Karena ada kalanya di tengah waktu
Datang masa-masa yang mengganggu dan membingungkan
Menjadi masalah dan kemarahan
Lalu seperti kanak-kanak kalian saling membenci
Tentang keadaannya yang tidak engkau inginkan
Tentang keadaanmu yang tidak dia inginkan
Lalu seperti kanak-kanak kalian saling berdiam
Tentang ketidakmengertiannya terhadap keinginanmu
Tentang ketidakmengertianmu terhadap keinginannya
Anugerah cinta, harapan dan kedewasaan yang membimbing kalian
Membawamu kembali mendekat kepadanya
Membawanya kembali mendekat kepadamu
Lalu kalian saling bercerita
Tentang pemeliharaan dan penjagaan sepasang kekasih
Lalu kalian saling mengingatkan tentang pohon cinta yang kalian
ikrarkan
Di sepanjang perjalanan selalu datang kabut
Mengaburkan pandangan dan menghalangi tujuan hidup
Kekuatanmu dan kekuatannya dan anugerah cinta yang dapat
membersihkannya


Maka hanya kepadaNya berlindung dan berserah diri
Sepasang kekasih memohon penjagaan dan pemeliharaan
Sepasang kekasih memohon limpahan kasih sayang
Pohon cinta tumbuh subur dan semakin dewasa
Akarnya semakin kuat dan pokoknya semakin kokoh
Daunnya semakin rimbun meneduhi
Pohon dewasa yang siap berbunga dan berbuah
Dalam jiwamu mulai tumbuh perasaan-perasaan baru
Tentang tujuan dan harapan pohon cinta
Akankah ini berbunga dan berbuah dengan lebatnya
Engkau menjadi putik benih bagi hidup baru
Dan dia menjadi sari menghidupkan benih
Dalam jiwanya mulai tumbuh gagasan-gagasan baru
Tentang kedewasaan pohon cinta dan tujuan dan harapannya
Akankah ini berbunga dan berbuah dengan lebatnya
Akankah dia menikmatinya bermusim-musim
Malam-malam berlalu tanpa jawab
Kegelisahanmu dan kegundahannya dipertemukan dalam diam
Engkau tidak tahu bagaimana memulai kata ungkapan tentang perasaanmu
yang baru
Dia tidak tahu bagaimana menceritakan gagasannya yang baru
Kedewasaanmu dan kedewasaannya mendapat ujian
Menghadapi kenyataan dengan terbuka dan jujur
Bermalam-malam berlalu dengan doa
Engkau dan dia berdoa

Ya Allah,
Bersihkanlah diriku, jernihkanlah pikiranku, beningkanlah hatiku
Tunjukkanlah kepadaku keyakinan yang benar
Pilihkanlah bagiku asal yang baik dan akhir yang baik
Sampai tiba waktunya
Engkau dan dia dikuatkan
Saling membuka dan bercerita tentang hal yang sama
Dan kalian saling tertawa tentang kekakuan beberapa masa sebelumnya
Kalian saling memantapkan harapan dan tujuan
Kalian saling mengingatkan tanggungjawab dan kenyataan hidup
Kalian saling setuju hidup bersekutu


Maka atas KehendakNYa kalian dipersatukan
Atas NamaNya kalian menjadi Suami Istri dengan kasih sayang
Berjanji saling menjaga dan mengingatkan tentang kebaikan
Saling melindungi dan mendukung dalam kehidupan
Dan hidup menjadi lebih nyata dan membahagiakan
Begitulah kalian menjalani hidup bersekutu
Bulan-bulan berlimpah kegembiraan dan kesenangan
Memadu kasih dengan bahagia tanpa kesedihan dan kegelisahan
Seolah-olah hanya kalian berdua yang ada di dunia
Lalu waktu berjalan semakin panjang
Dan hidup menjadi semakin nyata
Keriuhan dan gejolak hidup menampakkan wujudnya


Engkau mengandung anakmu yang pertama
Lalu seperti mendapat jiwa lain bersemayam dalam tubuhmu
Engkau dan dia merasakan ikatan yang batin
Suamimu bergembira dan menjadi semakin dewasa
Sembilan bulan engkau menjaga anak dalam kandunganmu
Dengan susah payah yang bertumpuk
Ada kalanya engkau menyimpan marah dan kesal
Ada kalanya engkau begitu gembira dan bahagia
Penuh syukur dan doa kepadaNya
Ketika tiba saatnya
Beban kandungan semakin memuncak
Punggungmu semakin berat dan payah
Pinggangmu semakin pegal dan sulit bernapas
Anakmu mengabarkan waktunya semakin dekat
Dan engkau melahirkannya dengan kesulitan dan berat
Antara rasa hidup dan mati yang menyakitkan
Suamimu menjagamu dan menguatkanmu
Ketika suara tangis bayi terdengar
Manusia baru telah lahir di tengah-tengah keluargamu
Dan engkau merasakan kebahagiaan yang tinggi
Memeluk bayi basah begitu merah
Jiwamu penuh dengannya dan jiwanya mengenalimu sebagai ibunya
Udara seperti penuh malaikat-malaikat suci
Menyambut dengan doa kehadiran anakmu
Membisikkan kepadamu harapan-harapan dan janji dari Tuhan
Hidupmu menjadi begitu berharga dan mulia
Dan mendapat tempat istimewa di surgaNya
Engkau menjadi ibu
Suamimu menjadi bapak
Engkaupun mengasuh dan memeliharanya
Dengan kasih sayang yang berlimpah
Jiwamu terikat dengan jiwanya
Air susu yang engkau minumkan kepadanya
Menjadi air jiwa bagi anakmu
Dan kebahagiaannya meminum air susumu
Menjadi tali yang tidak pernah putus bagimu
Kemanapun engkau bepergian
Yang ada dalam hati dan pikiranmu hanyalah wajah mungilnya
Maka bila tiba waktu pulang
Engkau bergegas dan cepat-cepat hendak sampai rumah
Di halaman engkau dengar tangisnya
Ia mencium aroma tubuhmu lewat angin
Hatimu tersayat-sayat penuh dengan rasa rindu bergumpal-gumpal di
dadamu
Air susumu menetes karenanya
Tidak sabar engkau angkat dan engkau cium wajahnya
Disambutnya engkau dengan senyum dari mulut mungil
Dan mata lucu yang merasa aman pelindungnya telah datang
Diusap-usapnya dengan kedua tangan mungil kulit wajahmu yang lekat di
wajahnya
Seolah-olah dapat dipastikan olehnya halus kulit wajahmu
Matanya semakin berbinar
Mendapati air susumu yang segar dan menyehatkan
Dan hatimu semakin bersinar
Kebahagiaan yang bertumpuk di atas kebahagiaan
Engkau lupakan semua lelah dan payah yang engkau jalani
Menungguinya bermalam-malam tanpa tidur
Ketika merengek ia basah oleh ompol atau kotoran
Ketika menangis ia tengah malam haus atau lapar


Waktu terus berjalan
Engkau melihat anakmu tumbuh berkembang
Belajar berguling dan menengkurapkan tubuhnya
Belajar merangkak dan berjalan
Dan mengucapkan kata-katanya yang pertama
Engkau mengajarinya memanggilmu ibu
Dan memanggil suamimu bapak
Engkau mengajarinya tentang alam
Api itu panas es itu dingin
Obat itu menyembuhkan racun itu mematikan
Engkau mengajarinya makan dan memakai baju
Menyisirkan rambutnya
Sambil bersenandung lagu kesukaannya
Dan menggumam betapa eloknya anakmu
Kesukaanmu kepadanya bertambah-tambah
Ikatanmu terhadapnya semakin kuatnya
Sedikit saja ia luka terjatuh atau tersayat pisau
Engkau begitu khawatirnya
Seolah-olah darah yang tumpah itu adalah darahmu sendiri
Dan kulitmulah yang tersayat atau luka
Begitu sayangnya engkau kepadanya
Sehingga yang engkau ucapkan adalah rasa marah
Yang lalu rasa sedihmu sebab telah memarahinya
Membuatmu menggendongnya dan mengusap lembut lukanya
Dengan obat yang paling lunak tetapi menyembuhkan
Engkau melihat anakmu tumbuh semakin dewasa
Dan menghadapi hidup dengan jalannya sendiri
Engkau semakin kesulitan menghadapinya
Seolah-olah ia tidak dapat mengerti keinginanmu
Dan engkau tidak lagi mengerti keinginannya
Ia hidup dengan teman-temannya sendiri
Berbicara sedikit denganmu dan dengan suamimu
Ia seolah-olah semakin jauh
Engkau bimbang dan gagap menghadapi dunianya yang berubah
Rasa cintamu kepadanya begitu ingin
Mengikatnya dalam rengkuhanmu
Mengamankannya dalam dekapanmu
Menggendong dan mengelus wajahnya seperti ketika ia kecil
Sedang gagasanmu tentang tantangan hidupnya begitu ingin
Membebaskannya melakukan pencarian
Mendukungnya tumbuh dan belajar menghadapi masa depannya
Melepaskannya untuk hidup dalam masanya
Sampai tiba waktunya ia benar-benar menjadi dewasa
Dan memahami duniamu dengan lebih leluasa
Dan engkau memahami dunianya dengan lebih lega
Percaya dan ikhlas tentangnya
Yakin karena engkau telah membimbingnya dengan benar
Maka engkau berdoa untuk anakmu setiap malam dalam sujud


Ya, Allah,
Tunjukkanlah kepada anakku jalan yang benar
Dekatkanlah ia kepada jalanMu
Bimbinglah ia, jagalah ia, lindungilah ia
Berikanlah kepadanya keteguhan dan keyakinan yang kuat
Tabahkanlah ia menghadapi hidup
Dan sabarkanlah kami dan bimbinglah kami orang tuanya


Ya Allah,
Kami berserah diri kepadaMu
Tiba waktu bagi anakmu menemukan kekasihnya
Seperti engkau ketika muda
Engkau begitu ingin melihat kekasihnya
Dililit rasa cemburu karena perhatiannya kepadamu
Tidak lagi seperti dahulu
Ia lebih banyak bersama kekasihnya daripada bersamamu
Dan ketika bersamamu
Ia lebih banyak bercerita tentang kekasihnya daripada tentangmu
Engkau merasa akan tiba waktunya
Dan ketika anakmu menikahi kekasihnya
Waktu pun tiba
Engkau berpisah dengannya
Anakmu menjalani hidup sendiri
Mendiami rumahnya sendiri
Bersama dengan istrinya seperti engkau dahulu
Dan hidupmu seolah-olah kesepian
Waktu terus berputar
Dan kalian berdua menjadi begitu tua
Rambut memutih dan tubuh melemah
Kenangan berjalan satu-satu di depan mata
Engkau menjadi memiliki kesadaran dan memahami
Hidup ini bisa begitu mudah atau rumit
Tergantung bagaimana engkau melihat dan menjalaninya
Sekarang engkau telah tua sehingga engkau melihat
Apa yang dahulunya engkau anggap
Sebagai kerumitan dan kesulitan yang besar
Ternyata hanyalah hal yang sederhana dan mudah saja
Ternyata engkau lahir bukan untuk bersiap-siap menghadapi hidup
Engkau lahir adalah untuk hidup dan menjalani hidup
Engkau lalu menjadi begitu pasrah dan ikhlas
Menerima waktu yang semakin habis
Tubuhmu menjadi sakit dan terbaring di dipan
Anak-anakmu yang dekat maupun yang jauh berdatangan
Berdoa dan memohonkan ampun di samping dipan
Mengantarkanmu memenuhi waktu terakhir
Sampai akhirnya engkau pergi meninggalkan dunia dengan tenang
Anak-anakmu bahagia
Melihatmu tersenyum dengan tenang di saat terakhir
Menandakan keberhasilanmu menjalani hidup
Mereka mendoakan
Hidupmu lebih bahagia dan tenang
Di alam yang lebih kekal
Mereka bangga terhadapmu.


:: Kahlil Gibran ::

http://kakitujuhlangit.wordpress.com

Benarkah Kita Kader Dakwah?

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kepahaman yang utuh. Paham akan falsafah dasar perjuangan, paham akan nilai-nilai yang diperjuangkan, paham akan cita-cita yang hendak dicapai, paham akan jalan yang harus dilalui. Kader dakwah memiliki pemahaman yang komprehensif. Paham akan tahapan-tahapan untuk merealisasikan tujuan, paham akan konsekuensi setiap tahapan, paham akan logika tantangan yang menyertai setiap tahapan, paham bahwa di setiap tahapan dakwah memiliki tingkat resiko yang berlainan. Kepahaman kader dakwah terus berkembang.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keikhlasan yang tinggi. Ikhlas artinya bekerja hanya untuk Allah semata, bukan untuk kesenangan diri sendiri. Sangat banyak godaan di sepanjang perjalanan dakwah, baik berupa harta, kekuasaan dan godaan syahwat terhadap pasangan jenis. Hanya keikhlasan yang akan membuat para kader bisa bersikap dengan tepat menghadapi segala bentuk godaan dan dinamika dakwah. Sangat banyak peristiwa di sepanjang perjalanan dakwah yang menggoda para kader untuk meninggalkan jalan perjuangan. Ikhlas adalah penjaga keberlanjutan dakwah.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki amal yang berkesinambungan. Amal dalam dakwah bukanlah jenis amal yang setengah-setengah, bukan jenis amal sporadis, spontan dan tanpa perencanaan. Sejak dari perbaikan diri dan keluarga, hingga upaya perbaikan masyarakat, bangsa, negara bahkan dunia. Amal dalam dakwah memiliki tahapan yang jelas, memiliki tujuan yang pasti, memiliki orientasi yang hakiki. Kader dakwah tidak hanya beramal di satu marhalah dan meninggalkan marhalah lainnya. Kader dakwah selalu mengikuti perkembangan mihwar dalam dakwah, karena itulah amal yang harus dilalui untuk meretas peradaban.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki etos jihad yang abadi. Jihad dalam bentuk kesungguhan, keseriusan, dan kedisiplinan dalam menggapai visi dakwah yang hakiki. Kesungguhan membela hak-hak umat, kesungguhan mendidik masyarakat, keseriusan mengusahakan kesejahteraan masyarakat, kedisiplinan membersamai dan menyelesaikan persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Kader dakwah harus memberikan kesungguhan dalam menjalankan semua agenda dakwah, hingga menghasilkan produktivitas yang paripurna, di lahan apapun mereka bekerja. Itulah makna jihad dalam konteks perjalanan aktivitas dakwah.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki pengorbanan yang tak terhingga nilainya. Dakwah tidak mungkin akan bisa dijalankan tanpa pengorbanan. Sejak dari pengorbanan harta, waktu, tenaga, pikiran, fasilitas, hingga pengorbanan jiwa. Rasa lelah, rasa jenuh, rasa letih selalu mendera jiwa raga, kesenangan diri telah dikorbankan demi tetap berjalannya roda dakwah. Aktivitas dijalani sejak berpagi-pagi hingga malam hari. Kadang harus bermalam hingga beberapa lamanya, kadang harus berjalan pada jarak yang tak terukur jauhnya, kadang harus memberikan kontribusi harta pada kondisi diri yang belum mapan dari segi ekonomi. Pengorbanan tanpa jeda, itulah ciri kader dakwah yang setia.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki ketaatan kepada prinsip, keputusan organisasi, dan kepada pemimpin. Prinsip-prinsip dalam dakwah harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan. Taat kepada pondasi manhaj adalah bagian penting yang akan menghantarkan dakwah pada tujuannya yang mulia. Taat kepada keputusan organisasi merupakan syarat agar kegiatan dakwah selalu terbingkai dalam sistem amal jama’i. Taat kepada pemimpin merupakan tuntutan agar pergerakan dakwah berjalan secara efektif pada upaya pencapaian tujuan. Ketaatan bukan hanya terjadi dalam hal-hal yang sesuai dengan pendapat pribadi, namun tetap taat terhadap keputusan walaupun bertentangan dengan pendapatnya sendiri.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keteguhan tiada henti. Kader dakwah harus selalu tegar di jalan dakwah, karena perjalanan amatlah panjang dengan berbagai gangguan dan tantangan yang menyertainya. Teramat banyak aktivis dakwah semasa, dimana mereka memiliki semangat yang menyala pada suatu ketika, namun padam seiring berjalannya usia. Ada yang tahan tatkala mendapat ujian kekurangan harta, namun menjadi gugur saat berada dalam keberlimpahan harta dunia. Ada yang tegar saat dakwah dilakukan di jalanan, namun tidak tahan saat berada di pucuk kekuasaan. Kader dakwah harus berada di puncak kemampuan untuk selalu bertahan.

Benarkah kita kader dakwah? Kader dakwah itu memiliki kemurnian dan kebersihan dalam orientasi aktivitasnya. Sangat banyak faktor yang mengotori kebersihan orientasi dakwah. Ada kekotoran cara mencapai tujuan. Ada kekotoran dalam usaha mendapatkan harta. Ada kekotoran dalam langkah menggapai kemenangan. Kader dakwah harus selalu menjaga kemurnian orientasinya, tidak berpaling dari kebenaran, tidak terjebak dalam kekotoran. Karena dakwah memiliki visi yang bersih, sehingga harus dicapai dengan langkah dan usaha yang bersih pula.

Benarkah kita kader dakwah? Kader dakwah itu memiliki solidaritas, persaudaraan dan kebersamaan yang tinggi. Ukhuwah adalah sebuah tuntutan dalam menjalankan agenda-agenda dakwah. Semakin besar tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah, harus semakin kuat pula ikatan ukhuwah di antara pelakunya. Kader dakwah saling mencintai satu dengan lainnya, saling mendukung, saling menguatkan, saling meringankan beban, saling membantu keperluan, saling berbagi dan saling mencukupi. Kader dakwah tidak mengobarkan dendam, iri dan benci. Kader dakwah selalu membawa cinta, dan menyuburkan dakwah dengan sentuhan cinta.

Benarkah kita kader dakwah? Kader dakwah itu memiliki tingkat kepercayaan yang tak tertandingi. Berjalan pada rentang waktu yang sangat panjang, dengan tantangan yang semakin kuat menghadang, menghajatkan tingkat kepercayaan prima antara satu dengan yang lainnya. Berbagai isu, berbagai fitnah, berbagai tuduhan tak akan menggoyahkan kepercayaan kader dakwah kepada para pemimpin dan kepada sesama kader dakwah. Berbagai caci maki, berbagai lontaran benci, berbagai pelampiasan kesumat, tak akan mengkerdilkan kepercayaan kader terhadap langkah dakwah yang telah dijalaninya.

Jadi, benarkah kita kader dakwah?

Oleh : Cahyadi Takariawan

Menyerang Qiyadah Melumpuhkan Dakwah

Wahai Ikhwan, karena dakwah kalian merupakan kekuatan besar melawan kedzoliman, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian, bahkan tidak ada satu pun cara kecuali mereka manfaatkan untuk memerangi dan memberangus dakwah kalian.

Cara paling berbahaya yang digunakan oleh musuh yang licik adalah upaya menimbulkan friksi internal di dalam dakwah, sehingga mereka dapat memenangkan pertarungan karena kekuatan dakwah melemah akibat terpecah belah. Dan hal yang paling efektif menimbulkan friksi internal dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah antara prajurit dan pimpinan. Sebab bila prajurit sudah tidak memiliki sikap tsiqah pada pimpinannnya, maka makna ketaatan akan segera hilang dari jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin ada eksistensi kepemimpinan dan karenanya pula tidak mungkin jamaah dapat eksis.

Oleh karena itulah, maka Imam Asy-Syahid menekankan rukun tsiqah dalam Risalah At-Ta’alim dan menjadikannya sebagai salah satu rukun bai’at. Imam Asy-Syahid juga menjelaskan urgensi rukun ini dalam menjaga soliditas dan kesatuan jamaah, ia mengatakan:

“…Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah – yang timbal balik – antara pimpinan dan yang dipimpin menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan. “Ta’at dan mengucapkan perkataan yang baik adalah lebih baik bagi mereka” (QS 47:21). Dan tsiqah terhadap pimpinan merupakan segala-galanya bagi keberhasilan dakwah.”

Kita tidak mensyaratkan bahwa yang berhak mendapat tsiqah kita adalah pemimpin yang berkapasitas sebagai orang yang paling kuat, paling bertakwa, paling mengerti, dan paling fasih dalam berbicara. Syarat seperti ini sangat sulit dipenuhi, bahkan hampir tidak terpenuhi sepeninggal Rasulullah saw. Cukuplah seorang pemimpin itu, seseorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikui amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang ikhwah (saudara) yang merasa bahwa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pimpinannya, maka hendaklah ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk dipergunakan oleh pimpinan, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinannya bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan jamaahnya.

Saudaraku, mungkin anda masih ingat dialog yang terjadi antara Abu Bakar ra dan Umar ra sepeninggal Rasulullah saw.

Umar berkata kepada Abu Bakar, ‘Ulurkanlah tanganmu, aku akan membai’atmu.’
Abu Bakar berkata, ‘Akulah yang membai’atmu.’
Umar berkata, ‘Kamu lebih utama dariku.’
Abu Bakar berkata, ‘Kamu lebih kuat dariku.’

Setelah itu Umar ra berkata, ‘Kekuatanku kupersembahkan untukmu karena keutamaanmu.’
Umar pun terbukti benar-benar menjadikan kekuatannya sebagai pendukung Abu Bakar sebagai kholifah.

Tatkala seseorang bertanya kepada Imam Asy-Syahid, ‘Bagaimana bila suatu kondisi menghalangi kebersamaan anda dengan kami? Menurut anda siapakah orang yang akan kami angkat sebagai pemimpin kami?’

Imam Asy-Syahid menjawab, ‘Wahai ikhwan, angkatlah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah dia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian.’

‘Wahai Ikhwan, mungkin anda masih ingat perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dalam menyikapi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Sebagian besar sahabat berpendapat seperti pendapat Umar, yaitu tidak memerangi mereka. Meski demikian tatkala Umar mengetahui bahwa Abu Bakar bersikeras untuk memerangi mereka, maka ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan yang sempurna, ‘Demi Allah, tiada lain yang aku pahami kecuali bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka aku tahu bahwa dialah yang benar.’

Andai Umar ra tidak memiliki ketsiqahan dan ketaatan yang sempurna, maka jiwanya akan dapat memperdayakannya, bahwa dialah pihak yang benar, apalagi ia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Allah swt telah menjadikan al haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar.’

Alangkah butuhnya kita pada sikap seperti Umar ra tersebut, saat terjadi perbedaan pendapat di antara kita, terutama untuk ukuran model kita yang tidak mendengar Rasululiah saw memberikan rekomendasi kepada salah seorang di antara kita, bahwa kebenaran itu pada lisan atau hatinya.

Mengingat sangat pentingnya ketsiqahan terhadap fikrah dan ketetapan pimpinan, maka musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan keragu-raguan pada Islam, jamaah, manhaj jamaah, dan pimpinannya. Betapa banyak serangan yang dilancarkan untuk melaksanakan misi tersebut.

Oleh karena itu, seorang akh jangan sampai terpengaruh oleh serangan-serangan tersebut. Ia harus yakin bahwa agamanya adalah agama yang haq yang diterima Allah swt. Ia harus yakin bahwa Islam adalah manhaj yang sempurna bagi seluruh urusan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia harus tetap tsiqah bahwa jamaahnya berada di jalan yang benar dan selalu memperhatikan Al Quran dan Sunah dalam setiap langkah dan sarananya. Ia harus tetap tsiqah bahwa pimpinannya selalu bercermin pada langkah Rasulullah saw serta para sahabatnya dan selalu tunduk kepada syariat Allah dalam menangani persoalan yang muncul saat beraktivitas serta selalu memperhatikan kemaslahatan dakwah.

Kami mengingatkan, bahwa terkadang sebagian surat kabar atau media massa lainnya mengutip pembicaraan atau pendapat yang dilakukan pada pimpinan jamaah, dengan tujuan untuk menimbulkan keragu-raguan, menggoncangkan kepercayaan, dan menciptakan ketidakstabilan di dalam tubuh jamaah. Oleh karena itu, seorang akh muslim tidak diperbolehkan menyimpulkan suatu hukum berdasarkan apa yang dibaca dalam media massa, tidak boleh melunturkan tsiqahnya, dan tidak boleh menyebarkannya atas dasar pembenaran. Ia harus melakukan tabayyun terlebih dahulu.

Allah swt menegur segolongan orang yang melakukan kesalahan dengan firman-Nya,
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka serta merta menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja di antaramu.” (QS 4:83).
Muhammad Abdullah Al Khatib*


*Dikutip dari Kitab Nadzharat Fii Risalah at-Ta’alim (Bab Ats-Tsiqoh) terbitan Asy-Syaamil.

Takjub ..


Takjub…
Diundang silaturahim oleh teman untuk walimatussafar [semacam hajatan bagi yang akan pergi haji]
diadakan di lorong sempit perumahan padat penduduk di kelurahan Gunung, Kebayoran Baru. dan jamaah pun duduk di sisi lorong tersebut.

Keakraban, guyub sesama tetangga, tangis haru, ucapan selamat kontras dengan tampilan sepi disekeliling perumahan yang mewah, besar, terkesan ‘tak peduli’, egois dengan tetangganya.

Selamat jalan nek! menjadi tamu Alloh yang penyayang, menikmati jamuan terindah ditanah suci. Moga kembali membawa kemabruran. Amiin!

Labbaik Allahumma Labbaik!

Evaluasi Kinerja


Evaluasi kinerja adalah suatu metode dan proses penilaian dan pelaksanaan tugas seseorang atau sekelompok orang atau unit-unit kerja dalam satu perusahaan atau organisasi sesuai dengan standar kinerja atau tujuan yang ditetapkan lebih dahulu. Evaluasi kinerja merupakan cara yang paling adil dalam memberikan imbalan atau penghargaan kepada pekerja.

Tujuan evaluasi kinerja adalah untuk menjamin pencapaian sasaran dan tujuan perusahaan dan juga untuk mengetahui posisi perusahaan dan tingkat pencapaian sasaran perusahaan, terutama untuk mengetahui bila terjadi keterlambatan atau penyimpangan supaya segera diperbaiki, sehingga sasaran atau tujuan tercapai. Hasil evaluasi kinerja individu dapat dimanfaatkan untuk banyak penggunaan.

• Peningkatan kinerja

• Pengembangan SDM

• Pemberian kompensasi

• Program peningkatan produktivitas

• Program kepegawaian

• Menghindari perlakuan diskriminasi

Tujuan Penilaian kinerja
Ada pendekatan ganda terhadap tujuan penilaian prestasi kerja sebagai berikut:

1. Tujuan Evaluasi

Hasil-hasil penilaian prestasi kerja digunakan sebagai dasar bagi evaluasi reguler terhadap prestasi anggota-anggota organisasi, yang meliputi:

a. Telaah Gaji. Keputusan-keputusan kompensasi yang mencakup kenaikan merit-pay, bonus dan kenaikan gaji lainnya merupakan salah satu tujuan utama penilaian prestasi kerja.

b. Kesempatan Promosi. Keputusan-keputusan penyusunan pegawai (staffing) yang berkenaan dengan promosi, demosi, transfer dan pemberhentian karyawan merupakan tujuan kedua dari penilaian prestasi kerja.

2. Tujuan Pengembangan

Informasi yang dihasilkan oleh sistem penilaian prestasi kerja dapat digunakan untuk mengembangkan pribadi anggota-anggota organisasi, yang meliputi:

a. Mengukuhkan Dan Menopang Prestasi Kerja. Umpan balik prestasi kerja (performance feedback) merupakan kebutuhan pengembangan yang utama karena hampir semua karyawan ingin mengetahui hasil penilaian yang dilakukan.

b. Meningkatkan Prestasi Kerja. Tujuan penilaian prestasi kerja juga untuk memberikan pedoman kepada karyawan bagi peningkatan prestasi kerja di masa yang akan datang.

c. Menentukan Tujuan-Tujuan Progresi Karir. Penilaian prestasi kerja juga akan memberikan informasi kepada karyawan yang dapat digunakan sebagai dasar pembahasan tujuan dan rencana karir jangka panjang.

d. Menentukan Kebutuhan-Kebutuhan Pelatihan. Penilaian prestasi kerja individu dapat memaparkan kumpulan data untuk digunakan sebagai sumber analisis dan identifikasi kebutuhan pelatihan.

Faktor-Faktor Penilaian kinerja
Tiga dimensi kinerja yang perlu dimasukkan dalam penilaian prestasi kerja, yaitu:

1. Tingkat kedisiplinan karyawan sebagai suatu bentuk pemenuhan kebutuhan organisasi untuk menahan orang-orang di dalam organisasi, yang dijabarkan dalam penilaian terhadap ketidakhadiran, keterlambatan, dan lama waktu kerja.

2. Tingkat kemampuan karyawan sebagai suatu bentuk pemenuhan Kebutuhan organisasi untuk memperoleh hasil penyelesaian tugas yang terandalkan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas kinerja yang harus dicapai oleh seorang karyawan.

3. Perilaku-perilaku inovatif dan spontan di luar persyaratan-persyaratan tugas formal untuk meningkatkan efektivitas organisasi, antara lain dalam bentuk kerja sama, tindakan protektif, gagasan-gagasan yang konstruktif dan kreatif, pelatihan diri, serta sikap-sikap lain yang menguntungkan organisasi.

Perbaiki Taat dan Berdakwahlah!


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan kita di tempat ini. Kita berasal dari berbagai bangsa, negeri, berkumpul ditempat ini, tanpa ada ikatan rahim di antara kita. Tetapi yang menggerakkan kita untuk datang ke tempat ini karna kita punya akidah yang sama.

Saya teringat dengan masyarakat pertama yang dibina oleh Rasulullah SAW, yang terdiri Abu Bakar al-Shiddiq dari Bani Taim, Bilal ibn Rabah al-Habasyi, Suhaib ibn Sinan al-Rumy, yang berasal dari berbagai negeri tetapi disatukan oleh akidah.

Ikhwah dan Akhwat fillaah.
Islam tegak di atas jamaah, kalau untuk urusan ibadah fardi mungkin semua muslim bisa melakukannya. Tetapi sebagian pelaksanaan hukum-hukum Allah dia tidak akan bisa ditegakkan kecuali dengan adanya jamaah. Jika tidak, siapa yang akan melaksanakan hukum hudud? siapa yang memberi komanda untuk berjih4d? Oleh sebab itu kita memerlukan sebuah hukumah, dan hukumah ini tidak akan muncul kecuali dari jamaah. Karenanya berjamaah adalah sebuah keniscyaan.

Sebuah jamaah tidak akan muncul, kecuali dari peribadi-peribadi yang shalih, yang hati-hatinya telah terpaut dalam cinta kasih karena Allah, bertemu untuk taat kepada Allah, bersatu untuk berdakwah kepada Allah, saling berjanji untuk menolong agama Allah.

Ikhwah dan Akhwat sekalian.
Satu hal yang perlu saya tegaskan di sini adalah bahwa Islam bukan hak untuk satu orang, bukan juga hak untuk satu jamaah. Ia adalah milik semua orang. Karenanya kewajiban berdakwah juga adalah kewajiban semua orang.

Hanya yang perlu diingat bahwa orang-orang yang mengemban risalah ini perlu kepada rijal yang saling diikat oleh ikatan ukhuwwah, saling mencintai, ikatan yang diikat hanya oleh Allah SWT.

Saya duduk di kalangan ikhwah sekarang, pertama sekali, apa perasaanku, apakah aku terasa asing? takut? tidak. Saya merasa tenang, saya merasa seperti berada ditengah orang yang saya kenal 1000 tahun yang lalu.

Yang kedua dakwah ini perlu kepada rijal yang siap berkorban. Siap melakukan kerja-kerja mentarbiyah untuk melahirkan insan yang benar akidahnya, sahih ibadahnya. Sebab dari sinilah akan keluar sebuah hukumah yang baik.

Bagaimana jalan untuk sampai ke hukumah? Hukumah berasal dari ummah. Ummah ini perlu dikeluarkan dari kegelapan kepada cahaya. Dengan cara hikmah, mauizah dan mujadalah billati hiya ahsan. Karenanya kita bergerak dengan akhlak. Ali ibn Abi Thalib berkata: “Siapa yang lembut kata-katanya maka wajib mencintainya”. Dengan manhaj yang benar, rijal yang benar, yang mampu berdiskusi dengan menggunakan hujjah-hujjah yang kuat, maka insya Allah ummat ini akan mampu keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Lihatlah sejarah Rasulullah SAW, kondisi masyarakatnya yang luar biasa jahilnya. Bagaimana Rasulullah bergerak? Beliau bergerak dari pembinaan manusia, sebab pelaku perubahan itu adalah manusia.

Tengok juga kondisi masayarakat Mesir, yang saat itu dijajah oleh Inggeris, riba dipraktekkan secara resmi, ditambah lagi serangan ghazwul fikri dan kristenisasi. Sementara jika ada muslim yang multazim dianggap sampah. Sungguh luar biasa. Dalam kondisi seperti ini kita kembali bertanya: Bagaimana Imam al-Banna bergerak? Tidak lain adalah dengan pembinaan rijal. Membina dengan memberikan kefahaman Islam yang shamil dan mutakamil. Alangkah miripnya hari ini dengan hari kemaren.

Pembinaan dengan menitik beratkan praktek ubudiyyah kepada Allah SWT. Sebab ada istilah “kun ubbaadan qobla quwwaadan” jadilah kami `abid-`abid sebelum menjadi qai`d.

Lihatlah apa yang Allah sifatkan mengenai sahabat-sahabat Rasululullah SAW di dalam surah al-Fath:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
Artinya:
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya keras kepada orang kafir kasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka ruku` dan sujud, mencari kurnia dari Allah SWT, ada tanda pada wajah mereka dari bekas sujud. (al-Fath : 29)

Imam al-Banna ketika berdiskusi tentang perbaikan umat, ia mengatakan kita mesti beranjak dari satu titik yang mesti kita sepakati, yaitu:

الصلاة ثم الإصلاح
Shalat dulu kemudian Ishlah

Imam al-Banna sendiri mengingatkan kita dalam wasiatnya: “Segera lakukan shalat ketika engkau mendengar azan, walau bagaimanapun kesibukanmu”, Sunnah rawatib itu seolah-olah menjadi wajib bagi orang yang berjalan diatas jalan dakwah ini. Sebab itulah kenapa muncul istilah “katibah”. Katibah yang kegiatannya sarat dengan muatan-muatan ruhi dan maknawi, dan inilah yang disebut dengan “ubbaadan”.

Sebab itu juga kenapa Imam al-Banna menjadikan kewajiban ikhwah untuk memiliki wirid harian, yang tidak kurang sari satu juz. istighfar 100 kali, sebab itu juga kenapa muncul istilah al-Ma`thurat wirid pagi dan petang, qiyamullail dan sebagainya. Kesemuanya ini menjadi titik berat dalam menshiyaghah pribadi muslim.

Jika kita kembali kepada sejarah. Yang dikhawatirkan oleh Abu Bakar saat beliau memberangkat pasukan perangnya adalah jauh mereka dari ubudiyah kepada Allah, sebab itu beliau berpesan: “Sesungguhnya kamu tidak akan menang atas musuh-musuh kamu kecuali kedekatan kamu kepada Allah SWT.

Secara logik, orang yang punya persenjataan cukup pasti akan menang. Akan tetapi bisa saja Allah berkehendak lain. Karena kuatnya hubungan kita dengan Allah, maka Allah akan berikan kemenangan, sebab kemenangan itu datangnya dari Allah. Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang besar.

Ini juga yang dipesankan oleh Umar ibn Khattab: “Sesuatu yang paling aku takutkan kepada kalian adalah dosa-dosa kalian”.

Karena itu juga Allah mewajibkan qiyamullail kepada Rasulullah SAW sebelum memberikan tugas-tugas dakwah kepada beliau. Bangunlah, lakukan qiyamullail… sesungguhnya Aku akan memberikan kepadamu qaulan thaqilan.

Di dalam surah al-Isra` juga dijelaskan bahwa solusi yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad dalam menghadapi tekanan dari masyarakat Quraisy adalah dengan shalat.

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا (78) وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
Artinya:
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan [dirikanlah pula shalat] subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadat tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (al-Isra:78-79)

Jika kesiapan maknawi cukup bagus yang terjadi adalah seperti yang dikisahkan dalam sejarah mengenai seorang sahabat.

Diriwayatkan oleh Abdullah ibn Syaddad ibn al-Had bahwa seorang A`raby datang kepada Rasulullah SAW, ia beriman dan kemudian berbaiah kepada Rasulullah SAW, seraya berkata: “Saya mau ikut hijrah bersamamu Ya Rasulullah”. Kemudian ia ikut berperang bersama Rasulullah SAW dan menang. Saat ghanimah dibagikan kepadanya ia berkata: “Apa ini?”, Rasulullah SAW menjawab: “Ini adalah bagianmu dari ghanimah”. Ia berkata: “Bukan untuk ini aku berbai`ah kepadamu, hanya saja aku ingin agar aku dipanah disini” sembari menunjuk lehernya, kemudian bangkit dan maju ke medan perang, sehingga ia terpanah persis pada tempat yang ditunjuknya, dan mati syahid.

Sungguh orang yang jujur kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan mengabulkan permintaannya. Orang-orang seperti inilah yang kita inginkan, untuk tegaknya agama Allah di atas permukaan bumi ini, sekalipun perlu waktu yang cukup panjang. Sebab kemenangan tidak diukur dengan umur kita.

Saya selalu berpesan kepada para mukhaththith kita, berwuduklah, sebelum membuat perancangan, sebab boleh jadi dengan demikian Allah akan memberikan taufiq-Nya kepada kita dalam membuat rancangan-rancangan ini.

Berapa banyak diantara kita orang-orang yang punya kepakaran di yang kapasitas mereka diatas rata-rata, banyak membuat kebijakan, perancangan dan proyek-proyek, tetapi karena tangan-tangan mereka tidak berwuduk, maka berakhir dengan kehancuran.

Satu hal yang perlu saya tegaskan disini adalah tentang Tabiah Ma`rakah ini, peperangan antara hak dan kebathilan. Perang yang bersifat continiu, sebab itu Allah ungkap dalam bentuk fiil mudhori` (present). Allah berfirman:
وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا
Artinya:
Mereka akan terus menerus memerangi kamu hingga kamu murtad dari agama kamu jika mereka mampu.(al-Baqarah:217)

Oleh sebab itu jangan pernah jemu, jangan putus asa, siapkan dirimu untuk berjihad. Orang beriman yakin akan pertolongan Allah, sekalipun turun pada umat atau jamaah ini ujian Allah. Kita semua mesti meyakini bahwa semua itu adalah baik. Lihatlah sikap orang beriman yang diceritakan Allah dalam al-Qur`an.

وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا خَيْرًا لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

Artinya:
Dan Ketika orang-orang bertaqwa ditanya: “apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan-mu?” mereka menjawab: “Sesuatu yang baik”, bagi orang-orang yang berbuat Ihsan di dunia ada kebaikan, dan sungguh rumah akhirat lebih baik dan sebaik-baik rumah orang-orang yang bertaqwa.(al-Nahl:30)

Modal berikutnya untuk menjadi insan rabbani adalah ukhuwwah dan mahabbah. Ukhuwwah bukan fadhilah (keutamaan), akan tetapi ia adalah sebuah faridhah (kewajiban). Jika seseorang sudah dicintai Allah, disebakan dia mencintai orang lain karena Allah, maka Allah akan membuat dia mudah dicintai oleh orang lain dan mudah diterima oleh orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ
Artinya:
Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril, sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia, diapun dicintai oleh Jibril. Jibril memanggil penduduk langit dan mengatakan sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia, maka diapun dicintai oleh penduduk langit, kemudian ditetapkan untuknya peneriman di bumi. (HR. Bukhari)

Karena itu ukhuwwah dan mahabbah ini menjadi modal dalam perjuangan kita, bekerjalah dengan mahabbah, berdakwahlah dengan mahabbah bahkan berperang dengan mahabbah. Karena itu ukhuwwah ini menjadi salah satu rukun bai`ah kita. Menjadi modal kita dalam merubah masyarakat.
Saya ingin menutup pembicaraan ini dengan bebepa langkah-langkah yang dilakukan Imam al-Banna dalam memulai proyek kebangkitan umat.

> Beliau mulai menyenaraikan tantangan-tantangan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

> Mengkaji sejarah, kemudian mengambil kesimpulan dari sejarah tadi serta mengaitkannya dengan kondisi masa kini, dan bagaimana mengimplimentasikannya.

> Mengkaji kondisi masyarakat, sebab itu kita melihat Imam al-Banna membagi 4 golongan masyarakat: mu`min (yakin), mutaraddid (ragu), naf`i (oportunis) dan mutahamil (dengki). Dan bagaimana berinteraksi dengan masing-masing golongan ini.

> Imam al-Banna juga mengkaji sejarah umat yang pernah bangun, sebab “hikmah itu adalah barang mukmin yang tercecer, dimana ia mendapatkannya, maka ia adalah orang yang paling berhak memungutnya. Dah hal ini sangat jelas dalam perkataan beliau di dalam majmuah al-Rasail “ Saya lihat orang-orang yang bekerja untuk membangun peradaban kebangkitan umat, diberi taufiq dan berhasil, berbuah, sebab mereka mempunyai manhaj yang jelas, di atasnya mereka bekerja, tujuan yang jelas, kepadanya mereka menuju, digariskan oleh para pendakwah kepada kebangkitan dan mereka bekerja untuk mewujudkannya, selagi ajal masih ada selagi itu pula mereka terus bekerja.. hingga habis masa mereka digantikan oleh generasi yang berikutnya yang datang setelah mereka, mereka bekerja mengikut manhaj yang telah digariskan, mereka memulai dititik mana mereka mengakhiri, mereka terus mengambil tongkat estafet, tidak merubah pondasi yang telah dibina, tidak menghancurkan apa yang telah dibangun, bahkan jika tidak mereka mempercantik apa yang telah dibangun oleh pendahulu mereka, atau memperkokoh.” Wallahu’alam

Jumah amin

Fiqh Dakwah Imam Syahid Hasan Al-Banna

Imam Syahid dikenal memiliki sifat yang berpengaruh yakni sifat pemimpin yang mampu mengubah:
Sifat-sifat tersebut tampak nyata pada:
1. Kemampuannya memilih pilihan tepat dari sekian banyak opsi.
2. menghindarkan diri dari membuat sesuatu menjadi tidak jelas dan “njelimet” (rumit).
3. kemampuannya menerjemahkan pemikiran dan teori menjadi kerja nyata
4. kemampuannya menyelesaikan perselisihan dan mengoreksi kesalahan dengan bijak
5. kemampuannya membawa da’wahnya melewati berbagai marhalah dan sasaran dengan menggunakan syiar-syiar dan skill aplikatif.

Tentang kemampuannya memilih pilihan tepat dari sekian banyak opsi terlihat sejak awal kehidupannya, yakni ketika beliau dihadapkan pada pilihan tashawwuf yang benar dengan ikhlas dan amalnya dan pilihan ta’lim (pendidikan) dan irsyad (mengarahkan masyarakat) dengan keharusan bergaul dengan mereka dan menghadiri pertemuan-pertemuan mereka.
Imam Syahid berkata dalam memoarnya: “ ..maka aku memilih yang kedua setelah kulalui pilihan pertama.. karena amal yang manfaatnya tidak melampaui diri sendiri adalah amal yang kurang dan kecil. Sedangkan amal yang manfaatnya dirasakan oleh pelakunya dan juga orang lain di kampung atau bangsanya memiliki kemuliaan, posisi dan keagungan yang lebih.”
Kemampuan memilih secara tepat ini juga terlihat saat beliau memilih segmen da’wahnya yang pertama di warung-warung kopi, jalan-jalan dan masjid-masjid sekaligus… beliau menyatakan bahwa masjid saja tidak cukup. Beliau melihat pada keluguan mereka ada potensi iman yang terabaikan..bahwa mereka lebih membutuhkan penjagaan dan pemeliharaan, pengajaran dan arahan, pengorganisasian dan pengawasan.. dan beliau benar-benar mendapati kecukupan bersama mereka meskipun tidak ada keistimewaan pada mereka kecuali kesiapan untuk mendengar dan ikut yang berarti bahwa mereka mampu belajar dan siap menerima perubahan. Beliau juga tahu bahwa yang diinginkan dari mereka adalah menjadi contoh untuk yang lain dalam hal kesiapan penuh mereka untuk memperbaiki kekurangan, menjadi teladan bagaimana mereka menugaskan diri mereka dengan pekerjaan yang mereka tunaikan dengan segenap kemampuan. Boleh jadi ada yang datang kemudian dengan kemampuan yang lebih dari mereka.. Beliau puas jika mereka menjadi shaf pertama yang akan diikuti oleh shaf-shaf berikutnya yang seperti mereka. Diantara mereka ada yang menghadapi kematian tanpa pernah takut dan peduli dengan kezaliman penguasa saat itu.
Kemampuannya memilih pilihan tepat dari sekian banyak opsi terlihat pula saat beliau dihadapkan pada warisan ummat yang amat banyak dan cemerlang hasil dari pemikiran sekian banyak akal yang brilian selama 14 belas abad, beliau mampu memilih dari semua itu pilihan yang sesuai dengan spirit zamannya, lalu melontarkan kepada ummatnya fikrah yang telah matang yang di dalamnya terkandung semua kelengkapan dan kebaikan yang diidam-idamkan oleh ummat.. semuanya ada bahkan lebih.. dan telah beliau “edit” dengan baik..
Beliau menyatakan bahwa…
Kita tidak akan mengikat diri kecuali dengan sesuatu yang Allah telah perintahkan kita untuk mengikat diri kita dengannya..
Kita tidak akan mewarnai zaman ini dengan warna zaman yang tidak sesuai dengannya..bahwa Islam adalah din untuk semua manusia dan kemanusiaan.
Lalu beliau menampilkan fikrah dengan tampilan yang laik dan mulia, bisa diandalkan dan mampu diaplikasikan, serta memenuhi berbagai kebutuhan ummat semuanya, hal ini diakui oleh orang-orang yang hidup di zamannya.. maka setiap titik tolak kebangkitan ummat yang jauh dari fikrah beliau biasanya menjadi “kurang dan terbatas” atau “mustahil”.
Kemampuan ini terlihat kembali ketika beliau diajak oleh rekan sejawatnya (yang kemudian berpisah) untuk mengubah proyek da’wahnya yang teramat panjang, aktivitas damai, tenang dan moderat, menjadi proyek perlawanan dan konfrontatif (melawan pemerintah), namun beliau menyatakan bahwa beliau tidak akan meninggalkan keyakinannya hanya karena keraguan mereka, sebab wasilah yang telah beliau pilih untuk mencapai tujuan adalah hasil istiqra (bacaan mendalam satu persatu hingga akhir) terhadap Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya yang telah memakan waktu dan tenaga beliau dalam kajian dan penelitian mendalam. Semua itu telah melahirkan perasaan ithmi’nan (ketentraman), keyakinan, ridha dan kepuasan.
Inilah yang beliau isyaratkan dengan ucapannya: “Memusuhi penguasa dan menyerangnya dalam segala situasi bukanlah ajaran Islam, karena bisa jadi suatu saat ia berdiri berhadapan dengan musuh kaum muslimin dan menghalangi tujuan musuh, maka merupakan sikap bodoh, dan bukanlah ajaran Islam kalau kita menyerang penguasa yang demikian.”
Demikianlah sikap beliau ketika ada keputusan pembubaran jamaah beliau dan penangkapan tokoh-tokohnya yang membuat sempit dada mereka yang sempit dadanya, namun beliau tetap menjauhkan diri dan da’wahnya dari konflik sesama muslim (dengan memberontak terhadap penguasa muslim), dan beliau menyimpan kekuatannya untuk berkhidmat kepada tanah airnya dan untuk ummatnya yang besar.
Oleh karena itu beliau berkata kepada pengikutnya: “Serahkan diri kalian kepada Sa’diyyin*. Aku tidak akan mengorbankan ummat demi pemerintah, dan tidak akan mengorbankan tanah air karena masalah kekuasaan. Yang menjadi patokan adalah akhlak bangsa dan bukan bentuk pemerintahan. Negara dalam Islam adalah bentuk ungkapan dan aplikasi pemahaman terhadap agama dan akhlak.”
Semua itu menjelaskan kemampuan beliau memilih opsi yang tepat dari berbagai alternative yang ada.
*Sa’diyyin : orang-orang pemerintah pimpinan Sa’ad Zaghlul Basya yang ingin menangkap Ikhwan pasca jihad Palestina. (Dr. Shalah)::: Al-Ikhwan.net