Category Archives: 12 Seruan Dzulhijjah

Pahala Sholat di Masjid Haram dan Masjid Nabawi


Pertama: Telah ada ketetapan pelipatgandaan pahala shalat di dalam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, no. 1406. Dari Jabir radhiallahu’anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ ، وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil haram. Dan shalat di Masjidilharam lebih utama seratus ribu (dibandingkan) shalat di selainnya.“ (Hadits dishahihkan oleh Al-Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata: “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146).

Kedua: Telah ada di soal jawab yang menyebutkan perbedaan tentang ‘Masjidil Haram’ yang telah ada ketetapan pelipatgandaan (pahala). Apakah khusus di Masjid (yang ada) Ka’bah. Atau mencakup semua yang ada di dalam perbatasan (tanah) haram. Yang telah kami jelaskan bahwa pendapat yang kuat adalah yang pertama.

Ketiga: (Tanah) Haram di Madinah (pahalanya) tidak dilipatgandakan di dalamnya. Bahkan yang (ada pahala) dilipatgandakan khusus di dalam Masjid yang Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bangun saja. Dan para ahli fiqih berbeda pendapat mengenai (apakah pahala tersebut masih) didapatkan dalam penambahan masjid sepeninggal beliau sallallahu’alaihi wa sallam? Mayoritas (ulama) berpendapat bahwa shalat di dalamnya dilipat gandakan sebagaimana dilipat gandakan dalam masjid yang asli. Mereka mengambil dalil akan hal itu dalam sebagian atsar.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Hukum tambahan (sama dengan) hukum yang ditambahi dalam masalah keutamaannya juga. Maka apa bagian tambahan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sallallahu’alaihi wa sallam semuanya sama dalam masalah pelipatgandaan (pahala) dan keutamaan.

Dikatakan: “Bahwa hal itu tidak ada perbadaan di kalangan ulama salaf dahulu.akan tetapi yang ada perbedaan adalah para ulama generasi khalaf, di antaranya Ibnu Uqail, Ibnu Al-Jauzi dan sebagian pengikut Imam Syafi’i. Akan tetapi telah diriwayatkan bahwa Imam Ahmad (berpendapat) tawaqquf (abstain) dalam hal itu.

Atsram berkata: “Saya berkata kepada Abu Abdullah, shaf manakah (yang disebut) shaf pertama di masjid Nabi sallalahu’alaihi wa sallam, karena saya melihat orang-orang berusaha berada sebelum mimbar dan meninggalkan shaf pertama? (beliau) berkata: “Saya tidak tahu, saya berkata kepada Abu Abdullah: “Apakah penambahan di Masjid Nabi sallallahu’alaihi wa sallam itu menurut anda termasuk di dalamnya? Beliau berkata: “Aku tidak memiliki jawaban, sesungguhnya mereka, penduduk Madinah, lebih mengetahui hal ini.”

Diriwayatkan Umar bin syabah dalam kitab ‘Akhbaru Al-Madinah’ dengan sanad yang masih dipertanyakan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Kalau sekiranya masjid ini dibangun sampai San’a (Kota di negara Yaman) maka ia termasuk di dalam masjidku.’ Abu hurairah berkata: “Kalau sekiranya masjid ini diperpanjang sampai pintu rumahku, maka saya tidak lewati kesempatan untuk shalat di dalamnya.”

Dalam sanadnya yang lemah, terdapat riwayat dari Ibnu Umar, dia berkata: “Umar menambah bangunan masjid hingga bagian Syamiah. Kemudian berkata: “Kalau kami tambah sampai Jabanah, maka ia termasuk masjid Nabi sallallahu’alaihi wa sallam.”

Dengan sanadnya dari Ibnu Abi Dzi’bi, dia berkata, Umar berkata: “Kalau Masjid Nabi sallahu’alaihi wa sallam diperluas sampai ke Dzulhulaifah, maka ia termasuk di dalamnya.” (Fathul Bari, Ibnu Rajab, 2/479)

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 37/251: “Ada usulan untuk menambah bangunan Masjid Nabawi untuk perluasan dan penambahan dari apa yang ada sejak zaman Nabi sallallahu’alaihi wa sallam. Para ulama telah membahas hukum bangunan tambahan dari sisi pahala. Sebagian di antaranya mengatakan bahwa keutamaan yang telah ditetapkan pada masjid Nabi sallallahu’alaihi wa sallam juga ditetapkan pada tambahannya. Pendapat ini dipilih oleh Mazhab Hanafi, Hanbali dan pilihan Ibnu Taimiyah.

Ibnu ‘Abidin mengatakan: “Telah dimaklumi bahwa Masjid Nabawi telah ditambah. Umar, Utsman, Walid kemudian Al-Mahdi telah menambahnya. Maka isyarat tersebut (yakni dalam sabda Nabi sallallahu’alaihi wasallam “Dan Masjidku ini”) menunjukkan termasuk tambahan masjid juga. Tidak diragukan lagi bahwa semua masjid yang ada sekarang (tetap) dinamakan Masjid Nabawi sallallahu’alaihi wa sallam. Maka, karena petunjuk dan penamaan telah disepakati, maka penamaan tidak dapat digugurkan, dan dengan demikian pelipatgandaan (pahala) yang telah disebutkan dalam hadits, juga termasuk pada bagian tambahan masjid tersebut.”

Sebagaimana dikutip oleh Al-Jara’i dari Ibnu Rajab (kesimpulan) seperti itu juga. Dikatakan bahwa tidak didapati dari kalangan (ulama) salaf perbedaan dalam masalah itu.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau tawaqquf (tidak memberikan pendapat). As-Samhudi –dari mazhab Maliki- menguatkan bahwa tambahan dari Masjid Nabawi termasuk dalam keutamaan yang ada di hadits.

Dikutip juga dari Imam Malik bahwa beliau ketika ditanya tentang batasan Masjid (Nabawi) yang ada dalam hadits, apakah ia seperti waktu zaman Nabi sallallahu’alaihi wa sallam atau seperti yang ada sekarang? Beliau menjawab: “Justeru, yang sekarang ada itu (termasuk batasan Masjid).” Lalu beliau (melanjutkan) berkata, karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam telah memberitahukan apa (yang akan terjadi) setelahnya, didekatkan baginya bumi, dan diperlihatkan kepadanya timur dan baratnya. Dan menyampaikan sesuatu yang ternyata terjadi setelah itu. Terlepas ada orang yang mengingatnya atau melupakannya. Kalau bukan karena (pandangan) ini, para Kulafaur Rasyidun tidak akan berani menganggap boleh menambahkannya di dalamnya, dengan disaksikan para shahabat dan tidak ada di antara mereka yang mengingkarinya.

Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa keutamaan ini khusus pada Masjid Nabi sallallahu’alihi wa sallam yang ada pada zamannya saja tanpa tambahan yang ada setelahnya. Yang sependapat dengan ini adalah Ibnu Uqail, Ibnu Al-Jauzi dan sekelompok dari mazhab Hanbali.

Wallahu’alam .

Keunggulan Orang GENDUT


1. Orang gendut dosanya lebih sedikit, jarang orang gendut yg jadi maling, karena mereka sadar kalo gampang ketangkep

2. Orang gendut rata2 lebih kaya daripada orang kurus, lihat boss2, konglomerat, mafioso, dll. Mana ada yg kurus? Besarnya lingkar pinggang mereka menandakan tingkat kesuksesan hidup mereka

3. Orang gendut mempunyai tingkat kebisingan yg rendah:
orang… kurus ketika nubruk tembok akan menghasil suara
“BRAAAKKKKKK!!!” sedangkan orang gendut hanya menimbulkan suara “MmmBLuugghh” terus “tooeeenk” 🙂 “mbendhal”

4. Orang gendut punya suara indah: lihat penyanyi seriosa yg
punya suara tenor dan sopran, rata2 endut kan? Contoh: Pavarroti.

5. Orang gendut menyejukkan dunia: Ketika upacara ditengah terik matahari, pasti orang kurus
berlindung dibalik bayangan orang gendut

6. Orang gendut lebih disayang ortu. Liat aja balita gendut lebih disukai ketimbang yg ceking: Aduch anak capa nie lucunyaa, koq endut bangeet “cubit2 pipi”

7. Orang gendut itu keren, ketika orang gendut, botak lagi, keluar dari sedan mewah, pasti langsung
dikira juragan. Tapi kalo orang  kurus yg keluar dari sedan mewah, “halah palingan supirnya…”

Suluk Tanzhimi si ‘Pedang Allah’


Jutaan orang tidak dapat melebihi keutamaanmu….
Mereka gagah perkasa tapi tunduk di ujung pedangmu…
Engkau pemberani melebihi Singa Betina…..
Yang sedang mengamuk melindungi anaknya……
Engkau lebih dahsyat dari air bah…..
Yang terjun dari celah bukit curam ke lembah……
Rahmat Allah bagi Abu Sulaiman,
Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada yang ada di dunia.
Ia hidup terpuji, dan berbahagia setelah mati…..
Untaian syair indah yang dilantunkan Ibunda Khalid saat mengantarkan sang putra ke pemakaman terakhir.

Di penghujung pertempuran menjelang akhir, datang seorang utusan kepada Khalid Bin Walid. Utusan Khalifah yang baru, Umar Bin Khattab ra yang menggantikan Abu Bakar ra yang telah wafat. Surat itu berisi pemberhentian Khalid dari jabatannya sebagai panglima perang dengan Abu Ubaidah ra sebagai pengganti.
Dengan tenang Khalid bin Walid membaca surat itu dan meminta kepada kurir untuk tidak memberitahukan isi surat kepada siapa pun sampai peperangan berakhir. Pertimbangan Khalid saat itu adalah khawatir instruksi dari Khalifah ini dapat memecah konsentrasi pasukan muslimin. Pertempuran terus berlanjut sampai akhirnya pasukan muslimin dapat mencapai kemenangan.

Usai pertempuran yang melelahkan, saat peluh masih membasah, luka masih belum terobati, darah masih menetes di ujung pedang. Sang Pedang Allah bergegas menjumpai Abu Ubaidah untuk menyampaikan pesan pengangkatannya sebagai panglima pengganti dirinya. Pemecatan Khalid oleh Khalifah Umar bukan sama sekali dilandasi ketidaksukaan (like or dislike). Tapi lebih didasarkan atas firasyatul mu’min untuk menyelamatkan aqidah umat dan keimanan Khalid sendiri.
Kemenangan demi kemenangan yang dicapai Khalid dalam pertempuran menjadikan namanya harum semerbak, popularitasnya memuncak. Tapi prestasi spektakulernya ini membawa pada kecenderungan pengkultusan akan dirinya. Khalifah Umar membaca ini dan khawatir umat terperosok, begitu juga Khalid akan mendapatkan fitnah yang besar.
Selanjutnya Khalid kembali berjuang di bawah kendali mantan anak buahnya sebagai jundi al-muthi’ah tanpa mempedulikan statusnya yang “turun pangkat”. Ketika dikonfirmasi tentang pemecatan dirinya, beliau menjawab: “Aku berperang bukan untuk Umar tapi karena Allah swt”.

Subhanallah! Sepenggal kisah yang sarat makna dan penuh hikmah. Tarbiyah qiyadiyah yang sungguh luar biasa. Penghentian tugas struktural (wazhifah tanzhimiyah) oleh Khalifah terhadap Panglima Perangnya adalah soal ru’yah qiyadiyah, sebuah keputusan yang harus disikapi dengan ketaatan. Sama sekali tidak menghilangkan tugas fungsionalnya (wazhifah mashiriyah) sebagai mujahid yang harus selalu berada di barisan tentara Allah. Inilah inspirasi sekaligus spirit bagi kita di tengah tugas-tugas kita menuntaskan agenda-agenda dakwah ke depan.

1. Tidak Panik, Tetap Berada dalam Kesadaran
Bagi orang biasa ‘Pemecatan’ serasa gempa bumi, begitu cepat membuat banyak orang panik. Tapi itu tidak terjadi pada diri Khalid Bin Walid, padahal kejadiannya ketika pertempuran tengah berkecamuk, yang bisa jadi memicu orang mata gelap, kalap bahkan hilang akal sehat. Kekuatan jiwa kepemimpinannya berhasil mengelola kepanikan yang menimpanya. Baik itu kepanikan anak buah, ataupun dirinya sendiri. Sehingga, seluruh kepanikan yang terjadi dapat diatasi dengan baik, ada strategi dan ada solusi yang cukup realistis. Dengan kata lain, Khalid adalah pemimpin yang menjadi “penenang” dan “pengarah” dalam menghadapi kepanikan, bukan justru menjadi lebih panik daripada anak buahnya sendiri. Dia memiliki arah untuk membawa anak buah ke jalan yang seharusnya, bahkan cenderung rela berkorban untuk keselamatan barisan tentaranya. Sehingga dalam kepanikan, akan terdengar ucapan yang menyejukkan. “Aku berperang bukan untuk Umar tapi karena Allah swt”.

2. Tidak Kecewa, Tetap Berada dalam Tsiqah
Bagaimana sikap Khalid membaca surat pemecatan dirinya? Ia menerima pemberhentian tersebut dengan sikap kesatria. Tidak sedikit pun kekecewaan dan emosi terpancar dari wajahnya. Kekecewaan akan menyulut kemarahan, sementara kemarahan hanya akan menenggelamkan seseorang dalam “kuburan” ego yang akan menjerumuskan diri dalam persoalan. Sikap mudah emosi atau temperamental tidak ada pada Khalid Bin Walid. Khalid dapat menguasai naluri kekuasaan yang ada padanya (hubbus siyadah) dan tidak menjadikan dukungan anak buahnya kepadanya sebagai alat untuk mempertahankan dan melanggengkan jabatannya. Bahkan dia tetap berperang di bawah komando baru dan menaati segala perintah Abu Ubaidah yang kini menjadi atasannya.
Bagi orang biasa tentu sudah sakit hati bila berada pada posisi yang sama seperti dialami oleh Khalid Bin Walid. Kekecewaan akan membuat seseorang mudah diprovokasi dan ujung-ujungnya ia akan bertindak sembrono sehingga akan membodohi diri sendiri. Oleh karena itu, kemarahan yang disulut karena kekecewaan biasanya hanya akan “terjebak” dalam kubangan yang mencelakakan.
Sesungguhnya apapun yang kita miliki, harta, anak atau jabatan, prinsipnya adalah ‘laysa maalikan ashilaan’ kita bukanlah pemilik aslinya. Jabatan itu sifatnya mandatory, secara hirarkis amanah jabatan diberikan kepada seseorang. Tidak bisa dituntut, direkayasa apalagi dengan melakukan ‘gerakan-gerakan’ illegal mendukung atau membendungnya.

3. Tidak Membalelo, Tetap Berada dalam Tansik
Tentu akan lain situasinya andaikan Khalid protes atas pemberhentian dirinya sebagai Panglima dan kemudian memobilisasi pendukungnya demi jabatan itu, seperti yang sering dan banyak terjadi saat ini, pasti akan terjadi kekacauan dan umat akan terpecah belah, sehingga terjadi perkelahian dan pertempuran didalam barisan dan tentunya musuh akan dengan mudah menghantam mereka, dan penaklukan Romawi pun mungkin hanya akan ada dalam angan-angan. Sungguh luar biasa, kebesaran jiwa Khalid.
Tidak mudah bagi seseorang menerima kenyataan yang menimpa dirinya. Pemecatan terkadang diartikan sebagai ketidakpercayaan terhadap dirinya. Siapa pun kita, pasti ingin dicintai, mencintai, dipercayai, dan mempercayai orang lain. Tetapi, ketika sakit hati tiba, sulit rasanya untuk kembali memaafkan dan mempercayai orang yang melakukannya. Bahkan mungkin merasa sulit untuk membuka hati dan perasaan kepada orang lain yang tidak tahu apa-apa. Ini adalah dilema yang harus dihadapi. Akhirnya, terserah kita, memilih untuk berjalan sendiri atau melanjutkan hubungan setelah apa yang terjadi. Satu hal yang pasti, roda dakwah akan terus berputar dengan atau tanpa sakit hati.

Tetap disiplin pada ketentuan dan kendali struktur. Ketentuan tersebut menjadi aksioma yang mengikat kader-kader yang berhimpun di dalamnya. Dengan begitu seluruh sikap kader senantiasa atas arahan yang menjadi kebijakan struktur (Tansik al a’mal). Tidak ‘menyempal’ sendirian. Karena sikap semacam itu akan berakibat bagi yang lainnya dan tanzhim secara langsung. Karenanya mereka yang melakukan perbuatan semisal itu dikategorikan sebagai sikap indisipliner. Hal itu ditunjukkan walaupun sudah bukan menjadi mas’ul wilayah tertentu. Seseorang tidak berhak memobilisasi mantan anak buahnya tanpa berkoordinasi dengan shahibul wilayah yang baru. Inilah kesalihan berorganisasi yang ada pada diri Khalid ra.

4. Tidak ‘Diam’ Tetap Berada dalam Amal.
Seorang panglima perang terbaik di zamannya, sedang berada di puncak karir. Harus mundur di tengah masa jabatan atas permintaan atasannya. Oleh suatu alasan yang tidak dapat didefinisikan secara teks hukum di masa kini. Lalu apakah ia kemudian marah dan kemudian mangkir dari perang setelah tidak menjabat lagi sebagai panglima? Atau memperkarakan atasannya ke meja hijau? Ternyata tidak, iapun kembali ikut berperang sebagai prajurit biasa tanpa ada rasa malu atau sakit hati. Betapa bahagianya Khalid bin Walid. Lihatlah, betapa mudahnya ia menyerahkan jabatan kepada anak buahnya. Orientasi perjuangannya adalah Allah, bukan jabatan, ketenaran dan kepuasan nafsunya.
Sungguh pribadi yang memiliki loyalitas kuat (Quwwatul Intima’i). Hal ini sebagai sikap yang amat prinsipil. Lantaran dari situlah prestice keimanan terbentuk menjadi bangunan yang kuat dalam sanubari seorang mukmin. Bila demikian halnya kader dakwah mampu mengemban amanah yang diserahkan pada dirinya. Kemudian melaksanakannya dengan segera, berpikir, bersikap dengan langkah tidak keliru. Agar dalam waktu yang cepat dapat segera mengambil posisi untuk musyarakah da’awiyah (partisipasi dakwah).
Seorang ulama dakwah bergumam lantang pada dirinya. ‘Wahai fulan bin fulan, duhai teman hari ini semua tempat telah jelas untuk siapa? Tiada tempat yang kosong. Semua sibuk mencarinya namun tak seorang pun yang berani berada pada posisi duduknya yang berbahaya. Aku inginkan diriku yang menempatinya. Siapkan kalian mengikuti ku untuk mengambil posisi suci?. “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Q.S. Yusuf: 108).
Marilah kita terus mengevaluasi diri. Boleh jadi kita sibuk beramal, namun sebaik-baik amal adalah dalam konteks jihad fi sabilillah. Dan sebaik-baik jihad fi sabilillah adalah yang selalu dalam bingkai nizhamiyatut thaat. Wallahu a’lam.

Aidil Heryana, S.Sosi – dakwatuna.com