Category Archives: 3 Tawakal Rabiul Awal

Sunan Bonang – Menjadi Pribadi yang Menang

​*Menjadi Pribadi yang Menang (Falsafah Hidup Sunan Bonang)*

Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam arena peperangan *“Baratayudha”* _(jihad)_ antara kekuatan _nafsu muthmainnah/_ nafsu yang tenang/ sumber inspirasi ilahi _(Pendawa Lima)_ melawan _nafsu ammarah/_ nafsu yang mengajak pada keburukan, dan _nafsu lawwamah/_ nafsu yang mengajak pada penyesalan masa lalu, dan kebimbangan masa depan  (100 pasukan Kurawa).

Perang berlangsung di medan perang  yang bernama *“Padang Kurusetra”* _(Kalbu)._ Melambangkan peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang adalah perang melawan diri sendiri yang letaknya di dalam kalbu. Continue reading Sunan Bonang – Menjadi Pribadi yang Menang

Jauhi Hidup Seperti “Ember Bocor”

By Jamil Azzaini

Setiap moment Training Bootcamp & Contest (TBnC) saya selalu mendapat banyak hal, salah satunya ilmu dari peserta. Para peserta adalah trainer dengan berbagai penguasaan tema yang berbeda. Ada yang mahir membawakan materi bertema bisnis, spiritual, online, pengembangan diri, management, leadership, MLM, kesehatan dan lain sebagainya.

Di TBnC Angkatan 14 (10-13 Desember 2015) saya juga memperoleh banyak ilmu. Salah satunya dari Hari Sanusi, trainer dari MQ – DT Jakarta. Ilmunya tentang ember bocor. Beliau mengibaratkan hidup itu seperti ember. Mengapa ember bila diisi air tak penuh-penuh? Jawabnya karena embernya bocor. Continue reading Jauhi Hidup Seperti “Ember Bocor”

Menikmati Proses Mendidik Anak

🌷 Lelah mendidik anak ? Itu adalah bukti bahwa sebagian orang belum menikmati proses dan hasil mendidik anak.

🌺Apakah kita bahagia setelah anak kita sukses (sarjana, dapat kerja, dll)? Itu terlalu lama. Apalagi kalau anaknya banyak.

🌹 Anak-anak itu aset. Bukan beban. Anak sholeh yang bisa mendoakan orang tuanya, itu aset. Ketika kita meninggal, maka yang paling berhak mensholatkan kita adalah anak kita. Itu aset. Sholat jenazah itu isinya doa semua. Anak itu kekayaan di dunia dan akhirat. Continue reading Menikmati Proses Mendidik Anak

Nikmatnya Bersahabat, Indahnya Berteman

‎1.ooh nikmatnya bersahabat, dan itu diawali karena hati selamat dari buruk sangka #sahabat

2. selalu punya 1000 alasan untuk ber #baiksangka kepada #sahabat

‎3. karena kedudukan persahabatan yg mulia maka #sumpahpalsu adalah dosa besar yg merusak ukhuwah

Tingkatan terendah dari persahabatan adalah selamatnya hati dari buruk sangka. Semoga.

Dan Bershalawatlah Atas Rasulullah SAW

Dialah seorang lelaki mulia diatas akhlaq yang agung. Agung sejak kali penciptaannnya yang masih berupa cahaya, jauh sebelum para nabi tercipta.

“Aku telah menjadi nabi tatkala Adam masih berada antara air dana tanah. [HR.Bukhori]

Dinantikan dan disebut-sebut namanya, Ahmad dalam Kitab Taurat dan Injil berabad-abad sebelum kakinya menginjak bumi dan matanya menatap langit. Menjadi teladan jauh sebelum ia menyatakan kenabiannya di usia 40 tahun. Ia telah disiapkan dan dididik langsung oleh Rabbul Jalil, ia saw, berkata, “Rabbku telah mendidik aku dan Ia adalah sebaik-baik yang mendidik”.


Ia terlahir dalam keadaan yatim, dan ia mengatakan, aku dan pecinta anak yatim seperti jari tengah dan jari telunjuk di surga kelak. Maka, cintai dan santunilah anak yatim jika benar-benar ingin bersamanya di surga. Ia tidak pandai baca dan tulis, karena ia tidak pernah punya guru yang mengajarinya. Namun, ia adalah manusia yang paling bijak. Baginya, gurunya adalah Rabbnya. Ia memang manusia tetapi bukan manusia pada umumnya. Seperti satu buah batu tetapi bernama Yaqut bukan batu kali.


Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia. “Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluargaku.” “Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina,” demikian pesannya.

Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung atau di panglimai shahabatnya sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Al-Qur’an, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua pertempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.

Ia kerap bercengkerama dengan para sahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, bahkan memangku balita mereka di pangkuannya. Ia terima undangan mereka; yang merdeka, budak laki-laki atau budak perempuan, serta kamu miskin. Ia jenguk rakyat yang sakit di ujung Madinah. Ia terima permohonan ma’af orang.

Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu sebelum shahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah shahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya. Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh. Ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat ia sholat, ia cepat selesaikan sholatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.

Ummul Mukminin Aisyah Ra. Berkata : “Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang dimakan makhluk hidup, selain setengah ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum.”

Betapa pun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucapkan shalawat atasnya: “Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat do’a yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk ummatku kelak di padang Mahsyar nanti.”
Ketika masyarakat Thaif menolak dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghimpit mereka dengan bukit. Ia menolak, “Kalau tidak mereka, aku berharap keturunan dari sulbi mereka kelak akan menerima da’wah ini, mengabdi kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.”

Ya, sahabat, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan shalawat? Allah tidak mencukupkan pernyataan-Nya bahwa Ia dan para malaikat bershalawat atasnya (QS 33:56 ), justru Ia nyatakan dengan begitu “jelas” perintah tersebut, “Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan bersalamlah dengan sebenar-benar salam.”


Ya Alloh, selama siang masih berganti malam dan malam berganti siang; sepanjang detik waktu terus berputar, bintang-bintang masih memancarkan cahayanya, kami memohon kepadaMu, limpahkan rahmat dan karuniaMu kepada junjungan kami, Muhammad saw, sampaikanlah salam dan pernghormatan kami kepada ruhnya yang diberkahi serta ruh-ruh ahli baitnya. Semoga Engkau melimpahkan sholawat dan salam kepada mereka semua. Juga kepada para nabi dan rasul, para sahabat, para kekasihmu, dan abdi-abdiMu yang shalih, yang taat dan menjaga diri. Ya Alloh, ridhiolah kami semua.Amiin. Allahumma shalli ‘alaihi wa’ala aalih !

Hari Sanusi, Muhammad

Mengenal Sang Nabi

Sekenal apa kita pada Sang #Nabi ? Mohon izin merangkum beberapa sifat beliau dari hadits-hadits dalam Asy Syamail karya Imam At Tirmidzi:)

1. Perawakan Sang #Nabi tidak tinggi, tidak pendek. Rambutnya tidak keriting, tak pula lurus. Wajah beliau tak bulat, bukan pula persegi.
2. Kulit Sang #Nabi cerah, putih kemerah-merahan. Rambutnya disisir ketika sebahu, digerai ketika sepapak daun telinga. Dahi beliau lebar.
3. Alis Sang #Nabi melengkung panjang, tebal, & nyaris bertaut di tengah. Di antara keduanya terdapat urat yang memerah kala beliau marah.
4. Bola mata Sang #Nabi indah & hitam, bulu matanya lentik menawan. Hidungnya mancung, bagian atasnya memancar cahaya. Dua pipinya datar.
5. Janggut Sang #Nabi menggaris dari depan telinga, menebal menuju dagu. Mulutnya lebar, gigi-giginya besar, dari selanya memancar cahaya.
6. Dari bawah janggut Sang #Nabi menggalur ke bawah bebulu halus, lewat leher, melebat di dada, melajur bagai tongkat hingga ke pusarnya.
7. Leher Sang #Nabi jenjang & indah. Perut beliau sama rata dengan dadanya nan bidang. Jarak antara kedua bahu lebar. Persendiannya kokoh.
8. Lengan Sang #Nabi panjang, tapak tangan lebar & tebal, jemarinya ramping. Telapak kaki beliau cekung, halus hingga airpun tak menempel.
9. Sang #Nabi berjalan dengan langkah kaki lebar, begitu langsam seolah menuruni bukit, tubuh beliau ikut berguncang anggun tiap langkah.
10. Bila menoleh, #Sang Nabi berbalik dengan seluruh badan, lebih sering menunduk dibanding mendangak, melihat dengan sepenuh perhatian.
11. Dulu #Nabi suka menyisir rambut ke belakang mirip Ahli Kitab. Saat nyata keingkaran mereka, beliau selisihi dengan menyisir belahnya.
12. Sang #Nabi suka meminyaki rambutnya. Kata Anas, uban beliau nan kurang dari 20 helai jadi tersamar. Beliau gemar merapikan janggutnya.
13. Sang #Nabi menyukai celak itsmid yang beliau gunakan menjelang tidurnya. Tiga kali untuk kanan & kiri; sejuk & menumbuhkan bulu mata.
14. Di antara pakaian kesukaan Sang #Nabi adalah gamis yang putih,
STIFIN Benny Efendy, [04.01.15 22:08]
hibarah merah buatan Yaman, & baju sampir 2 helai warna hijau & hitam.
15. Sang #Nabi berminyak wangi di seluruh tubuhnya. Istri beliau mengoleskan di sekujur badan, lalu beliau sendiri harumkan bagian ‘aurat.
16. Jari manis Sang #Nabi dilingkari cincin perak bermata batu hitam Habasyah, ditulisi “Muhammad Rasul Allah”; dilepas jika ke Peturasan.
17. Sang #Nabi menyimpan selalu selimut Khadijah; kenangan menenangkan saat beliau terguncang wahyu pertama, & di dalamnya beliau diseru.
18. Sang #Nabi gesit berolahraga lari. Kadang bersama istri. Kadang anak-anak kecil; beliau lombakan siapa dulu yang mampu tangkap beliau.
19. #Nabi suka minum susu dari wadah yang sama dengan istrinya, ditepatkan di bekas bibirnya. Anggur, zaitun, & buah lain; segigit berdua.
20. Tidur Sang #Nabi tidak tengkurap. Jika miring berbantal tapak tangan, kaki disilang. Jika telentang, kaki kanan diletak di atas kiri.
21. Kadang dalam renung khusyu’, Sang #Nabi duduk dengan 1 lutut diangkat menempel perut. Suka bersandar bantal, tapi bukan di saat makan.
22. #Nabi suka mandi bersama & bercanda bermain air dengan istri-istrinya, bahkan pada Saudah nan tua. Usia tak menghalangi kemesraan itu.
23. Penutup kepala kesayangan #Nabi ialah surban hitam, dikenakan dengan ujung menjatuh di pundak. Sandalnya bertali dua dari kulit hewan.
24. Makanan kesukaan #Nabi -yang jarang beliau nikmati- adalah paha kambing. Camilannya hais; campuran kurma rendam, kismis, & susu masam.
25. #Nabi yang penuh cinta memberi nama bebarang miliknya; dari perkakas rumah-tangga, bejana, gelas, kuda, unta, keledai, pedang, tombak.
26. #Nabi makan roti dari tepung utuh tak diayak (dulu dianggap rendah; kini sehat berserat), lauknya garam, minyak zaitun, cuka, & labu.
27. #Nabi tak pernah mencela makanan. Jika menyukainya, beliau memakannya penuh syukur. Jika tidak suka, beliau cukup diam tanpa komentar.
28. #Nabi mengerjakan sendiri segala urusan rumahtangga yang beliau bisa; menambal baju sobek, menjahit sandal rusak, hingga memerah susu.
29. #Nabi amat suka bersiwak bersih gigi; saat hendak shalat, hendak tilawah, hendak menemui tamu/sahabat, juga tiap kali menjumpai istri.
30. #Nabi tak pernah jijik pada istri yang sedang haidh (seperti kebiasaan Arab & Yahudi); beliau tetap bermesra, hanya menghindari jima’.
31. Saat ‘Aisyah haidh, #Nabi bersandar di pangkuannya sambil tilawah; atau meletakkan kepala di antara kaki ‘Aisyah, tidur dalam hangat.
32. Bahkan tuk shalat malam, #Nabi minta izin pada istri nan lagi bersama di ranjang; “Apa kau ridha jika malam ini aku menghadap Rabbku?”
33. Karena sempitnya kamar #Nabi , tahajjud beliau menghadap ‘Aisyah berbaring. Jika hendak sujud, diisyarati kaki sang istri agar ditekuk.
34. Sang #Nabi amatlah pemalu, lebih tersipu dibanding gadis dalam pingitannya. Tak pernah terbahak, hanya senyum tulusnya semanis madu.
35. Sang #Nabi tak suka diistimewakan. Jika berbagi peran di perjalanan beliau selalu mencari peluang berkontribusi; hatta menyiapkan api.
36. Jika dihadapkan pada pilihan, Sang #Nabi selalu mengambil hal yang ringan & mudah; selama ia tak jatuh pada apa yang dilarang Allah.
37. “Tak pernah kulihat”, kata Anas, “#Nabi marah atau membalas laku buruk atas diri beliau. Beliau marah jika Allah & agamaNya dinista.”
38. “Pernah 3 x hilal berlalu”, ujar ‘Aisyah, “Tiada nyala api di rumah kami.” Apa penyambung hidup #Nabi ?, tanya ‘Urwah. “Kurma & air .”
39. Kelembutan Sang #Nabi tak terhalangi & tak menghalangi ibadahnya. Umamah binti Abil ‘Ash, sang cucu, sering digendong dalam shalatnya.
40. Al Husain naik ke punggung #Nabi saat sujud. Beliau tak bangkit hingga Al Husain puas bermain. Nanti, beliau minta maaf pada hadirin.
41. Saat para cucu jadikan #Nabi kuda-kudaan, merangkak kian-kemari, kata Abu Hurairah, “Tunggangan kalian paling mulia di langit & bumi”.
42. #Nabi lalu tersenyum bersabda, “Pun penunggangnya, adalah yang terbaik.” Ya Allah, curahi kami rahmatMu tuk kelak bersamanya di surga.
Allahumma sholli ‘ala muhammad….

Hati yang Paling Baik

Berkata Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad:

 
يا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ ربَّانيٌّ،ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ،وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّناعقٍ يميلون مع كلِّرِيح؛ لم يستضيئوا بنورالعلم ولم يلجَئوا إلىركنٍ وثيقٍ؛
العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُالمالَ، العلمُ يزكُوْ علىالعمل والمالُ تنقُصُه النفقةُ،ومحبةُ العالم دينٌ يُدانبها، العلمُ يُكسِب العالمَالطاعةَ في حياته وجميلَالأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُالمال تزول بزواله، ماتخُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ،والعلماءُ باقُون ما بقيالدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ.

 

“Wahai Kumail bin Ziyaad! Hati adalah wadah, maka hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan); hafalkanlah apa yang akan aku katakan kepadamu !

Continue reading Hati yang Paling Baik

Kehadiran dan Ketidakhadiran

“Ya Rasulullah,” seru Abu hurairah suatu ketika, “jika melihatmu, hati kami menjadi lembut dan kami merasa menjadi bagian orang-orang yang hidup untuk akhirat.” Tetapi, lanjut Abu Hurairah, “Jika berpisah darimu, kami terpengaruh oleh dunia; kami pun mencintai istri-istri dan anak-anak kami.”

“Seandainya kalian pada setiap saat seperti yang kalian rasakan saat berada di sisiku,” jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “niscaya para malaika
t akan menyalami kalian dengan telapak tangan mereka dan mengunjungi kalian di rumah-rumah kalian.

Kultwit Sastra @harisanusi

tenggelam dalam lautan keindahan
hilang dalam palung kedamaian
dalam deru gelombang di permukaan
@harisanusi, 2008

sungguh telah jauh jalan yang ditempuh
yakinlah dalam gelap dan terang
ada kebahagiaan, jika telah nyata tujuan
@harisanusi, 2012


dalam samudera takdir :: meyakini pantai harapan :: dalam siang malam tatapanmu ::: kuberserah pasrah :: dengan selaksa cinta dihati
@harisanusi, 2011


nusantara jangan bersedih
masih ada kami, putra sang fajar
dibawah bendera revolusi!
@harisanusi, 2010

kurindukan cerita darimu
sahabat cahaya…sahabat cahaya
kunantikan!

@harisanusi, 2009