Category Archives: 49

Mantapkan Tujuan

Pernahkah sahabat berada dalam satu kendaraan menuju satu tujuan, dengan satu janji yang amat penting dan mendesak dan sahabat menganggap itu jalan yang benar tetapi kemudian diketahui bahwa ternyata jalan yang sahabat tempuh ternyata salah. Waduh, kacau. Barangkali itu perasaan sahabat. Atau sahabat marah kepada yang menjadi supir sahabat, atau sahabat menyalahkan peta, atau kesal dan menyalahkan diri sahabat sendiri kenapa tadi tidak berangkat lebih awal. Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin, sahabat akan menenangkan diri dan bergumam mudah-mudahan lain kali itu tidak terjadi lagi.

Continue reading Mantapkan Tujuan

Sunnah Sehat

. BAB duduk, beresiko tinggi terkena wasir/ ambeien. BAB jongkok lebih bersih dan menyehatkan dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.
 Kencing berdiri resiko prostat dan batu ginjal.Kencing jongkok lebih bersih dan menyehatkan yg
terpenting itu adalah SUNNAH.
 Enzim di tangan membantu makanan lebih mudah dicerna.Bilamana dibanding dengan besi,kayu, atau plastik, makan dengan tangan lebih bersih, fitrah dan menyehatkan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

Continue reading Sunnah Sehat

Manusia Ini Pasti Sukses

Sahabat mentari hati yang berbahagia,

Seorang mukmin sudah pasti menang dan bahagia. Kebahagiaan sejati yang didapatkan di dunia ini juga di akhirat kelak. Dan seorang mukmin akan memberikan cahaya kebahagiaannya untuk orang-orang disekitarnya. Cahaya yang menerangi.

Seorang ulama tabiin, Imam Hasan al-Bashn berkata, “Seorang mukmin adalah orang yang mengetahui bahwa apa yang Allah ‘azza wa jalla firmankan adalah sebagaimana yang Dia firmankan (tidak menggugat, mengeluh, menyesali, dan lain-lain).

“Seorang mukmin adalah orang yang paling baik amal-nya, paling takut kepada murka dan azab Allah. Andai pun ia menginfakkan hartanya sebesar gunung, ia tidak akan merasa aman dari siksa, sebelum ia menyaksikan sendiri bahwa ia benar-benar selamat setelah menyeberangi shirath. Makin bertambah ibadah, kesalehan, dan kebaikannya, makin bertambah pula kegelisahan dan kewaswasannya. Saat itu, ia masih mengatakan, ‘Aku tidak selamat.’

“Sementara itu, orang munafik selalu saja mengatakan, ‘Orang-orang yang berdosa juga banyak. Tuhan pasti akan mengampuni aku. Aku tidak akan apa-apa.’ Anggapan ini membuatnya lupa untuk beramal baik, dan ia hanya bisa berangan-angan dari Allah, untuk mendapatkan apa yang tidak mungkin ia dapatkan.

Sahabat mentari hati, mudah-mudahan kita tak kenal menyerah untuk menyempurnakan terus menerus iman, mencintai keimanan dan menjadi mukmin, kekasih Allah. Wallahu ‘alam bishshowaab.

Teruslah Berzikir …

“Janganlah meninggalkan dzikir, hanya karena anda tidak hadir bersama Allah dalam dzikir. Karena kealpaanmu jauh dari dzikir itu lebih berbahaya ketimbang kealpaanmu kepadaNya ketika sedang berdzikir.”
Syaikh Ibn Athoillah

Dzikir merupakan ibadah paling utama dan paling penting dalam perjalanan menuju kepada Allah Ta’ala. Karena itu menempati posisi kunci dalam memberishkan diri. Karena itu jika seseorang berdzikir lisannya, sementara hatinya tidak hadir di depan Allah, sama sekali dzikir tidak bisa ditinggalkan. Sebab orang yang sama sekali jauh dari dzikir itu, resikonya lebih berbahaya ketimbang orang yang tidak hadir jiwanya ketika berdzikir.

Allah swt, berfirman: “Berdzikirlah kepadaKu, niscaya Aku mengingatmu.” Dan firmanNya yang lain, “Sebagaimana dzikirnya para penduhulumu atau lebih kuat dzikirnya dari itu.” Dan wasiat Nabi saw, “Hendaknya lisan kalian senantiasa basah dengan dzikirullah.”

Karena itu diperingatkan agar kita tetap berdzikir walaupun hati kita tidak hadir pada Allah. Sementara alpa pada Allah (dzikrullah) bisa berdampak lebih negatif. Hal demikian, menurut Syeikh Zaruq disebabkan karena tiga hal:
Pertama, apapun adanya dzikir berarti menghadap, apa pun kondisinya. Sementara alpa itu berarti mengabaikan secara total.
Kedua, dzikir bisa menjadi perias ibadah, sementara alpa dari Allah bisa menafikannya.
Ketiga, adanya dzikir itu berarti siap menerima hembusan rahmat Allah, yang bisa meningkatkan dari yang lebih rendah menuju yang lebih tinggi, sedangkan alpa dari dzikir bisa mengosongkan semua itu.

“Siapa tahu Allah meningkatkan dzikir dengan hati alpa, menuju dzikir dengan sadar Ilahi, dari dzikir yang sadar Ilahi menuju dzikir Hadir Ilahi, dari dzikir Hadir Ilahi menuju dzikir dengan mengosongkan segala hal selain Allah.”

Karenanya Allah memperingatkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (٤١)وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا (٤٢)

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepadaNya, pagi sampai sore (sore sampai pagi). Dialah yang melimpahkan rahmat kepadamu dan para malaikatNya.” (Al-Ahzaab: 42)

Konsekwensi kita selalu berdzikir kepada Allah dan alpa kepada Allah antara lain:
Jika kita alpa kepada Allah pasti yang teringat di benak kita adalah selain Allah.
Jika kita mengingat sadar akan Allah, kita akan menapaki kemesraan demi kemesraan dengan Allah.

Jika kita hadir di hadapan Allah, kita akan patuh dan tunduk kepadaNya.Jika kita lupa pada segala hal selain Allah, kita akan fana’ kepadaNya.Jika kita fana’, segala yang ada akan tiada. Sulthonul Auliya Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily mengatakan, “Hakikat dzikir adalah konsentrasi penuh kepada yang Diingat, sehingga yang lain tak teringat. Sebagaimana firman Allah swt, “Dzikirlah dengan Nama Tuhanmu dan lakukanlah dengan sepenuhnya.” Yakni bukan hal yang terhalang jika Allah menghendaki. [@harisanusi]

Kata Bijak Imam Al Ghozali

Yang singkat adalah waktu,
yang menipu adalah dunia,
yang dekat adalah kematian,
yang berat adalah amanah,
yang jauh adalah masa lalu,
yang besar adalah hawa nafsu,
yang membakar amal adalah ghibah,

yang tajam/mendorong ke neraka adalah lidah,
yang berharga adalah iman,
yang ditunggu Allah adalah taubat.
yang ringan adalah meninggalkan shalat,
yang sulit adalah ikhlas,
yang mudah adalah berbuat dosa,
yang susah adalah sabar,
yang sering terlupa adalah bersyukur
~ Imam Al Gozali ~

Kaidah Ushul Fiqh

الأحكام الشرعية تأخذ من الحديث الصحيح و لا يجوز أخذها من الحديث الضعيف


Hukum syar’i itu diambil dari hadits shahih, tidak boleh diambil dari hadits yang dho’if

ليس كل من وقع في البدعة صار مبتدعا

“Tidak setiap yang terjerumus kepada perbuatan bid’ah lantas menjadi ahli bid’ah”