Category Archives: Ayahbunda

Ibu Profesional Ini Baru Keren

I wanna share one story here…

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kalian search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Bukan, dia bukan seorang pejuang emansipasi wanita yang mengejar kesetaraan gender lalala itu. Bukan.
Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Dalam sesi itu, beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like I’m watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut. Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran.
Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren?
Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?
Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget. Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.
Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.
Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!
Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20? :0 Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.
Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:
1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan

2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.

3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.

4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.

5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!

6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai
7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.

8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.

9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta
10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.

11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya.
Daaaan masih banyak lagi. Teman-teman yang tertarik bisa kepo twitter ibu @septipw 
Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa. Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife. So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please,  housewife is the most presticious  career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi  Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.
Setelah mengikuti sesi tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk?

Semoga ada yang bisa diambil pelajaran.

Tegar Saat Yang Lain Terlempar. Ayahku Hebat

Pentingnya Sebuah Proses!
(Tegar Saat Yang Lain Terlempar)
Di Suatu Sore, Seorang Anak  Datang Kepada Ayahnya Yg Sedang Baca Koran… 

“Oh Ayah, Ayah”
“Ada Apa?”
“Aku Capek, Sangat Capek … Aku Capek Karena Aku Belajar Mati Matian Untuk Mendapat Nilai Bagus Sedang Temanku Bisa Dapat Nilai Bagus Dengan Menyontek… Aku Mau Menyontek Saja….!! Aku Capek. Sangat Capek…!!

Aku Capek Karena Aku Harus Terus Membantu Ibu Membersihkan Rumah, Sedang Temanku Punya Pembantu, Aku Ingin Kita Punya Pembantu Saja!
Aku Capek, Sangat Capek …

Aku Cape Karena Aku Harus Menabung, Sedang Temanku Bisa Terus Jajan Tanpa Harus Menabung!
Aku Ingin Jajan Terus!

Aku Capek, Sangat Capek Karena Aku Harus Menjaga Lisanku Untuk Tidak Menyakiti, Sedang Temanku Enak Saja Berbicara Sampai Aku Sakit Hati Dan Sakitnya disini (sambil nunjuk hati)

Aku Capek, Sangat Capek Karena Aku Harus Menjaga Sikapku Untuk Menghormati Teman Teman Ku, Sedang Teman Temanku Seenaknya Saja Bersikap Kepada Ku Dan Songong banget…!

Aku Capek Ayah, Aku Capek Menahan Diri… Aku Ingin Seperti Mereka… Mereka Terlihat Senang, Aku Ingin Bersikap Seperti Mereka Ayah ! ..”

Sang Anak Mulai Menangis…
Kemudian Sang Ayah Hanya Tersenyum  Dan Mengelus Kepala Anaknya Sambil Berkata..
” Anakku Ayo Ikut Ayah, Ayah Akan Menunjukkan Sesuatu Kepadamu”

Lalu Sang Ayah Menarik Tangan Sang Anak Kemudian Mereka Menyusuri Sebuah Jalan Yang Sangat Jelek, Banyak Duri, Serangga, Lumpur, Dan Ilalang rumput yang bergoyang…
Lalu Sang Anak Pun Mulai Mengeluh
” Ayah Mau Kemana Kita?? Aku Tidak Suka Jalan Ini, Lihat Sepatuku Jadi Kotor, Kakiku Luka Karena Tertusuk Duri. Badanku Dikelilingi Oleh Kecoa dan Serangga lainnya, Berjalanpun Susah Krn Ada Banyak Ilalang… Aku Benci Jalan Ini Ayah”

Sang Ayah Hanya Diam.
Sampai Akhirnya Mereka Sampai Pada Sebuah Telaga Yang Sangat Indah, Airnya Sangat Segar, Ada Banyak Kupu Kupu, Bunga Bunga Yang Cantik, Dan Pepohonan Yang Rindang…
“Wwaaaah… Tempat Apa Ini Ayah? Aku Suka! Aku Suka Tempat Ini!”

Sang Ayah Hanya Diam Dan Kemudian Duduk Di Bawah Pohon Yang Rindang Beralaskan Rerumputan Hijau.
“Kemarilah Anakku, Ayo Duduk Di Samping Ayah”
Ujar Sang Ayah, Lalu Sang Anak Pun Ikut Duduk Di Samping Ayahnya.
” lAnakku, Tahukah Kau Mengapa Di Sini Begitu Sepi? Padahal Tempat Ini Begitu Indah…?”
” Tidak Tahu Ayah, Memangnya Kenapa?”
” Itu Karena Orang Orang Tidak Mau Menyusuri Jalan Yang Jelek Tadi, Padahal Mereka Tau Ada Telaga Di Sini, Tetapi Mereka Tidak Bisa Bersabar Dalam Menyusuri Jalan Itu”
” Ooh… Berarti Kita Orang Yang Sabar Ya Yah? ”
” Nah, Akhirnya Kau Mengerti”
” Mengerti Apa? Aku Tidak Mengerti”

” Anakku, Butuh Kesabaran Dalam Belajar,
Butuh Kesabaran Dalam Bersikap Baik,
Butuh Kesabaran Dalam Kujujuran,
Butuh Kesabaran Dalam Setiap Kebaikan Agar Kita Mendapat Kemenangan, Seperti Jalan Yang Tadi…

Bukankah Kau Harus Sabar Saat Ada Duri Melukai Kakimu, Kau Harus Sabar Saat Lumpur Mengotori Sepatumu, Kau Harus Sabar Melawati Ilalang Dan Kau Pun Harus Sabar Saat Dikelilingi Serangga Kecoa…

Dan Akhirnya Semuanya Terbayar Kan? Ada Telaga Yang Sangatt Indah.. Seandainya Kau Tidak Sabar, Apa Yang Kau Dapat? Kau Tidak Akan Mendapat Apa Apa Anakku, Oleh Karena Itu Bersabarlah Anakku”

” Tapi Ayah, Tidak Mudah Untuk Bersabar ”
” Aku Tau, Oleh Karena Itu Ada Ayah Yang Menggenggam Tanganmu Agar Kau Tetap Kuat …

Begitu Pula Hidup, Ada Ayah Dan Ibu Yang Akan Terus Berada Di Sampingmu Agar Saat Kau Jatuh, Kami Bisa Mengangkatmu, Tapi… Ingatlah Anakku… Ayah Dan Ibu Tidak Selamanya Bisa Mengangkatmu Saat Kau Jatuh, Suatu Saat Nanti, Kau Harus Bisa Berdiri Sendiri… Maka Jangan Pernah Kau Gantungkan Hidupmu Pada Orang Lain.

Jadilah Dirimu Sendiri… Seorang Pemuda Yang Kuat, Yang Tetap Tabah Dan Teguh Karena Ia Tahu Ada Tuhan Besertanya, Maka Kau Akan Dapati Dirimu Tetap Berjalan Menyusuri Kehidupan Saat Yang Lain Memutuskan Untuk Berhenti Dan Pulang… Maka Kau Tau Akhirnya Kan?”

” Ya Ayah, Aku Tau.. Aku Akan Dapat Surga Yang Indah Yang Lebih Indah Dari Telaga Ini … Sekarang Aku Mengerti … Terima Kasih Ayah , Aku Akan Tegar Saat Yang Lain Terlempar ”
Sang Ayah Hanya Tersenyum Sambil Menatap Mata Anak Kesayangannya.

Pesan Untuk Ayah Bunda Negeri Tanpa Ayah

Buat ayah dan bunda …….juga semua. 
Bagi yg belum siap siap yah… NEGERI TANPA  AYAH
  1. Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola
  2. AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar ‘membuat’ anak
  3. Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi
  4. AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja
  5. Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah
  6. Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?
  7. Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab
  8. AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya
  9. AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya
  10. AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya
  11. Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country
  12. Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?
  13. Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi
  14. Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya
  15. Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya’qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli
  16. Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH
  17. Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak
  18. Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya
  19. Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi
  20. Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.
  21. Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut
  22. Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid
  23. Harus ada sosok AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH
  24. AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan
  25. Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid
  26. Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya
  27. AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya
  28. Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH ‘kepala sekolah’ tapi AYAH ‘penjaga sekolah’
  29. Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya
  30. Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak
  31. Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika
  32. AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama
  33. Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi
  34. Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengas uhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH 
  35. Silahkan share jika berkenan  agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan pengasuhan..Salam bahagia

Fatherless, Dunia Tanpa Ayah

Apa enaknya yang dilakukan para ayah di setiap weekend? Cek email kantor? Cek milis? Twitter? Main futsal atau bersepeda? Lupakanlah sejenak urusan kantor dan hobi pribadi. Ada hal penting yang harus ditengok para ayah; anak-anak kita.
Jujur, masih banyak ayah yang masih hidup dengan pola klasik; anak adalah urusan ibunya. Ini serius. Banyak ayah yang berpikir dunia lelaki adalah pekerjaan dan hobi. Hari-hari kerja dihabiskan untuk bekerja, meningkatkan eksistensi diri di dunia karir, waktu senggang diisi untuk menuntaskan hobi.

Ada pria yang setiap kali pulang kantor tidak langsung pulang kandang, tapi mampir dulu ke tempat hobi. Hang out dengan kawan-kawan, atau menendang bola di lapangan futsal. Banyak orang yang hampir setiap malam menghabiskan waktu untuk itu.
Weekend?
Kalau tidak tidur sepanjang hari, ada juga yang menjajal stamina dengan bersepeda. Naik gunung, turun gunung, atau berkeliling kota. Kring, kring.
Lupakah kita bahwa ada buah hati di sekeliling kita? Anak-anak kita bukan robot yang tak butuh perhatian. Juga bukan mahluk yang hanya kenal ibunya. Mereka juga tahu siapa ayahnya. Dan anak-anak juga membutuhkan perhatian dari ayah mereka.
Para ayah, mengasuh anak bukanlah pekerjaan banci. Juga bukan berarti pria jadi lemah. Mengasuh anak adalah kewajiban yang Allah amanahkan kepada kedua orangtua; ayah dan ibu. Yang membuat anak-anak menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, atau ahli surga, bukan saja ibunya, tapi keduanya. Bukankah kita sudah sering mendengar pesan Nabi saw. berikut ini:
“Tidaklah setiap anak dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi dan Nasrani. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?” (HR. Imam Bukhari).
Coba siapa yang disebut oleh Nabi dalam hadits di atas? Kedua orang tuanya; ayah dan bundanya.
Di AS, sudah banyak penelitian yang menyebutkan dampak buruk kepada anak akibat kurangnya peran dan perhatian ayah kepada mereka (fatherless). Mengerikan. Di antaranya bisa disimak di bawah ini:
63% of youth suicides are from fatherless homes (US Dept. Of Health/Census) – 5 times the average.
90% of all homeless and runaway children are from fatherless homes – 32 times the average.
85% of all children who show behavior disorders come from fatherless homes – 20 times the average.  (Center for Disease Control)
80% of rapists with anger problems come from fatherless homes –14 times the average.  (Justice & Behavior, Vol 14, p. 403-26)
71% of all high school dropouts come from fatherless homes – 9 times the average.  (National Principals Association Report)
Anda merasa ngeri? Harus. So, luangkanlah waktu untuk berkumpul dengan buah hati kita. singkirkan ego kita. Lihat dan bercandalah dengan mereka. Didik mereka agar menjadi insan bertakwa yang cinta kepada Allah dan kedua orang tuanya. Saya percaya bila setiap ayah mau terlibat dalam mengedukasi anak-anak mereka, kita bisa mengurangi resiko anak-anak bermasalah di negeri ini.
Sumber : http://www.iwanjanuar.com/bahaya-fatherless