Category Archives: Cara Mendidik Anak

Keutamaan Mendidik Anak

Nabi SAW bersabda :”Tidak ada pemberian orang tua kepada Anaknya yg lebih utama dari pada budi pekerti yg baik”(HR.Turmudzi & Al Hakm dari Amru bin Sa’id bin Al’Ash)
Budi Pekerti adalah perilaku yg terpuji, baik ucapan maupun perbuatan
Sebaik2nya Budi Pekerti itu dapat mengangkat Hamba Sahaya sampai Tingkat Raja
Nabi SAW bersabda : “Siapa menghendaki untuk merendahkan orang yg dengki kepadanya, maka hendaklah mendidik anaknya”(HR Ibnu Majah dari Anas bin Malik ra.)

Mendidik anak utk menghormati orang yg lebih tua dan mengasihi orang yg lebih muda
Nabi SAW bersabda :”Sesungguhnya seorang yg mendidik Anaknya adalah lebih baik baginya dari pada bersedekah (setiap hari) satu Sha'”(HR Turmudzi dari Jubir bin Samurah,Hadist Hasan)
Nabi SAW bersabda :”Hai sekalian kaum muslimin, siapa yg dikarunia anak Oleh Allah SWT, maka ia wajib mendidik dan mengajarnya, sebab orang yg mengajar anaknya dan mendidiknya, niscaya Allah SWT melimpahinya syafa’at kepadanya. Dan siapa yg membiarkan anaknya menjadi bodoh, maka ia mendapat bagian setiap dosa yg diperbuat anaknya itu (dalam Riyadlus Shalihin)
Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya didalam Surga terdapat rumah yang disebut “Darul Farah/Rumah Kesenangan” tidak akan masuk kedalamnya kecuali orang yg menyenangkan anak2 kecil”(HR Abu Ya’la dari A’isyah)
Nabi SAW bersabda :”Hendaknya kamu semua memuliakan anak-anakmu, karena sesungguhnya orang yg memuliakan anak2nya, Allah SWT memuliakanya di Surga”
Nabi SAW bersabda : “Hendaklah kamu semua memuliakan Anak-anakmu, karena sesungguhnya Kemuliaan anak-anak itu adalah akan tertutup dari Neraka”
Nabi SAW bersabda : “Melihat muka anak-anak denga Rasa Syukur adalah seperti melihat Muka Nabinya”
Laki2 yg Mulia adalah Laki2 yg Memuliakan terhadap Istrinya, Laki2 yg Mulia adalah Laki2 yg Memuliakan terhadap Anak2nya 
(Catatan pengajian Subuh 11/05/14 bersama : Ust.Asep Sofwan di Masjid Al-Hidayah, semoga bermanfaat)

Ayahku Hebat

To: Single men
Married men
A father
Father-to-be…

“Statistik membuktikan bahwa orang-orang yang kehilangan kasih sayang dari ayahnya, akan tumbuh dengan kelainan perilaku, kecenderungan bunuh diri, dan menjadi kriminal yang kejam.

Sekitar 70 % dari penghuni penjara dengan hukuman seumur hidup adalah orang-orang yang bertumbuh tanpa ayah.

Para ayah….

Anda dirindukan dan dibutuhkan oleh anak² Anda.

Jangan habiskan seluruh energi dan pikiran di tempat kerja, sehingga waktu tiba di rumah para ayah hanya memberikan ”sisa-sisa” energi dan duduk menonton TV.

Peluk anak² Anda, dengarkan cerita mereka, ajarkan kebenaran & moral.

Dan Anda tidak akan menyesal……
karena anak-anak Anda akan hidup sesuai jalan yang Anda ajarkan dan persiapkan.

Ayah yang sukses bukanlah pria paling kaya atau paling tinggi jabatannya di perusahaan atau lembaga pemerintahan, tetapi seorang pria yang anak lakinya berkata:

“Aku mau menjadi seperti ayahku nanti”
atau anak perempuannya berkata:
“Aku mau punya seorang suami yang seperti ayahku”

Seorang ayah lebih berharga daripada 100 orang guru di sekolah.

Menjadi Orang Tua yang Lebih Bijak

Resensi Talkshow Parenting
“Refleksi Hijrah : Menjadi Orangtua yang Lebih Bijak”
Ada beberapa poin penting yang beliau bahas pada pertemuan itu :
✔Jadilah suami istri yang kompak dalam menjalankan tugas menjadi orangtua. Bukan aliran Sumatra atau Jawa yang kita pakai dalam menjalankan fungsi sebagai orangtua, jadikanlah Islam sebagai gaya hidup dan panduan

✔Perhatikan dua waktu penting anak. Saat bangun tidur dan hendak tidur. Pastikan yang keluar dari lisan kita adalah kalimat thoyyibah. Bisa bacaan Al Qur’an, asmaul husna, atau kisah tentang Rasul dan para sahabat. Buka dan tutup hari anak dengan Allah dan RasulNya Hasil penelitian mengatakan (silahkan dicari, pembicara menyebutkan hanya saya tidak mencatat),  pada saat usia 0-3 tahun, anak2 mampu mengingat hingga 1500 kata, bayangkan kalau ini dikonversikan ke kalimatullah, Al-Qur’an..
Usia 0-10 tahun, ada juga yang mengatakan 0-15 tahun adalah masa-masa paling hebat ! Maka tanamkan pada anak nilai-nilai baik! Anak-anak usia ini begitu peka dengan apa yang didengarnya. Ia akan mengingat apa yang didengarnya itu hingga 10 tahun lamanya. Maka, sebelum anak tidur lelap, yaitu tidur dangkal, tanyakan padanya, apa yang paling berkesan baginya pada hari itu. Biasanya orang akan mengingat kalau
tidak hal yang paling baik, pasti hal yang paling buruk. Bila misalnya, ia mengatakan, “tadi adek lempar kucing pakai batu.” Maka kita harus segera mengganti memorinya itu dengan kata-kata, “Allah dan RasulNya suka pada anak yang sayang pada binatang, besok tidak diulangi lagi ya dek.” Maka ketika kita mengatakan hal itu, maka memori jelek tergantikan dengan memori baik dan ini akan ia ingat 10 tahun ke depan. Bila yang dia sampaikan adalah suatu hal yang baik, maka sokong dan kuatkan dengan mengatakan, “wah, hebat anak Bunda, Allah dan RasulNya pasti sayang sama adek.”
Maka keesokannya ia akan cenderung mengulang perilaku baik tersebut. Begitulah pentingnya dua waktu ini, di jaga ya yah, bun
O ya, tidak hanya ketika dua waktu itu,termasuk ketika anak menyusui, ajaklah ia berkomunikasi dengan kata-kata yang baik, gagetnya disimpen
dulu ya Bun.
✔Guru mengajarkan anak kita untuk bisa shalat, mengaji, puasa dan hal baik lainnya. Tapi belum tentu mereka membuat anak kita cinta shalat, mengaji dan puasa. Kitalah yang bisa melakukannya, insyaAllah.
Sebuah kisah, tentang seorang ayah yang shalat berjama’ah dengan anaknya di rumah. Lalu saat membaca al Fatihah, si ayah menangis. Usai shalat, si anak bertanya, “kenapa Ayah menangis pas baca al Fatihah tadi?” sang ayah menjawab, “iya nak, kalimat Ar Rahman itu sungguh berat, ayah teringat dengan Abu Bakar, sahabat Rasulullah saw yang tersedu-sedu ketika mengucapkan kalimat itu, pegang air mata ayah ini nak, ayah rindu dengan Rasul….” Bagaimana anak tak cinta shalat, mengaji, kalau ayah dan bundanya
senantiasa berekspresi cinta ketika shalat dan mengaji
✔Saat istri hamil tua, rajin-rajinlah suami mengelus perut istri (maaf, kulit bertemu kulit) sambil membacakan al Qur’an dan kalimat-kalimat thoyyibah. Bila sejak dalam kandungan anak sudah terbiasa mendengar bacaan Al Qur’an, maka kelak ketika ia lahir, tumbuh, dan berkembang, dan ia mendengar al Qur’an, ia tidak akan merasa asing lagi dan cenderung cepat menghafalkannya.
✔Saat ini anak-anak banyak yang bersikap kebanci-bancian, bukan fisiknya, tapi mentalnya. Misal : Penakut. Ini disebabkan karena mereka kehilangan sosok ayah di tiga tempat : rumah, masjid, dan sekolah.
Maka mari ayah, hadirlah sepenuhnya dalam hidup anak-anakmu Orangtua cenderung untuk mati-matian berjuang ketika anak-anaknya mau ikut UN, masuk kuliah, tapi lupa dengan pendidikan pada usia awal mereka.  Padahal pendidikan di usia awal itulah penentu sikap dan laku anak di usia dewasanya.
-dikutip dari grup sebelah- mdh2an bermanfaat;)
Irwan Rinaldi (Pakar ke-Ayah-an)

Latih Disiplin Anak Tanpa Memukul

Setiap keluarga mempunyai cara sendiri-sendiri untuk menanamkan disiplin pada anak. Walau berbeda, sebenarnya tujuannya sama, yaitu menangani anak bandel atau yang bertingkah nakal.
Ketika Anda melihat si kecil berbuat kenakalan, entah itu di rumah, saat jalan-jalan di mal, atau ketika berkunjung rumah tetangga, mungkin secara refleks Anda akan berteriak, “Berhenti!” Atau, bisa jadi Anda akan memukul si kecil agar tidak melanjutkan perbuatannya.
Tahukah Anda, menurut pakar psikologi anak, menangani anak nakal dengan cara berteriak atau memukul dapat menimbulkan efek negatif pada emosi si kecil. Agar disiplin bisa dilatih sejak dini, kenali cara lain yang lebih efektif untuk buah hati Anda, seperti dikutip dari laman Modern Mom.

Beda Usia, Beda Cara
Pertimbangkan usia anak Anda. Cara menanamkan disiplin pada anak tidak sama di tiap usia. Beda usia, beda cara. Misalnya, untuk anak berusia 15 bulan, Anda bisa menggunakan cara pengalihan perhatian untuk membuatnya disiplin. Berbeda dari anak usia yang lebih muda atau lebih tua dari itu, Anda mengabaikan mereka jika merengek-rengek atau bertindak tidak tepat, untuk mendapatkan perhatian Anda.
Beri Contoh
Contohkan perilaku yang baik agar si kecil menirunya. Menurut penelitian, teknik itu selalu direspon baik oleh anak-anak. Sebab, memberi si kecil contoh dari apa yang harus dilakukan, bukan apa yang tidak boleh dilakukan.
Anak-anak lebih mudah meniru perilaku orang dewasa. Mereka lebih mudah menerima pendekatan itu dari pada diberi tahu apa yang tidak boleh mereka lakukan.
Berpegang Pada Aturan
Tetaplah berpegang pada aturan yang Anda tetapkan untuk buah hati. Setelah memberitahu harapan Anda pada si kecil, hal ini akan memperkuat perilaku yang ingin Anda lihat dari si kecil.
Beri Penghargaan
Anda harus ingat untuk selalu menghargai anak Anda setiap kali dia menunjukkan perilaku baik. Lontarkan pujian kepada si kecil tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga menawarkan hadiah favoritnya. Si kecil tentu akan merasa Anda benar-benar bangga pada dirinya sendiri.
Ungkapkan Ketidaksetujuan Anda
Selalu ungkapkan pendapat Anda jika Anda merasa tingkahnya tidak tepat. Jelaskan kepadanya tentang perilaku yang tidak baik itu. Mengekspresikan pendapat Anda merupakan pendidikan keluarga yang bagus. Ini akan efektif mengubah perilaku si kecil.
Konsekuensi
Jika anak tidak disiplin atau melakukan kesalahan untuk pertama kalinya, segera ungkapkan kalau ia bersalah. Hal itu untuk menghindari ia melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Katakan juga padanya setiap kesalahan memiliki konsekuensi, salah satunya adalah hukuman. Hukuman bisa berupa tidak mengizinkannya menonton televisi beberapa hari atau memotong uang jajannya sementara waktu.
Jangan berikan hukuman fisik seperti memukul, hal itu hanya akan menimbulkan trauma dan bisa meregangkan hubungan Anda dengannya. Memberikan hukuman atau konsekuensi atas kesalahan anak juga melatih perkembangan psikologisnya. Mereka jadi lebih peka dan berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu kesalahan.

Kenapa Anak saya Penakut???

8 tehnik Mengatasi Anak Penakut

Anak yang penakut juga cenderung menjadi tidak mandiri. Hal ini karena anak merasa tidak aman dan membutuhkan kehadiran orang lain di dekatnya, terutama orangtuanya, untuk memberinya rasa aman.
Penyebab anak menjadi penakut antara lain sebagai berikut.

  1. Sering mendengarkan kisah atau dongeng yang menakutkan, misalnya tentang setan, jin, atau hantu.
  2. Sering ditakut-takuti. Misalnya, ketika anak sulit tidur, ibunya menakut-nakutinya dengan mengatakan bahwa di luar sana sudah gelap dan di dalam gelap ada makhluk menyeramkan yang akan memangsa anak yang tidak mau tidur. Atau, ketika anak rewel, untuk mendiamkan anak, ibu mengancam akan membawa anak ke dokter biar disuntik.
  3. Meniru sifat orangtuanya yang juga penakut.
  4. Trauma akan sebuah kejadian di masa lalu. Misalnya, anak pernah jatuh saat memanjat pohon atau naik sepeda. Hal ini akan membuat anak selalu merasa ketakutan. Dia selalu menolak jika diminta untuk memanjat pohon atau naik sepeda.
  5. Pola asuh atau perlakuan tidak menyenangkan dari orangtua. Misalnya, orangtua sering menghukum anak secara fisik, memberikan sanksi yang berat, marah dengan kata-kata yang menyakitkan, atau sering mengancam anak.

Rasa takut sebenarnya merupakan hal yang normal. Rasa takut berguna membuat orang menjadi waspada dan berusaha melindungi diri dari hal-hal yang membahayakan dirinya. Hanya saja, ketakutan yang berlebihan tentu berbeda masalahnya.

Ketakutan yang berlebihan, di samping akan menghambat proses perkembangan anak, juga berpontensi membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang selalu cemas, labil, lemah, dan tidak berani mencoba, Padahal, keberanian sangat diperlukan untuk sukses menjalani kehidupan yang penuh tantangan dan masalah ini. Oleh karena itu, anak penakut harus mendapatkan bantuan untuk melawan ketakutan-ketakutan berlebihan yang mengganggu jiwanya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak penakut:

  1. Berhenti memberi anak dongeng atau cerita-cerita yang menakutkan. Gantilah dengan dongeng atau cerita yang menginspirasi, menyemangati, dan menggembirakan.
  2. Memberikan anak contoh bahwa orangtuanya bukanlah pribadi yang penakut. Kalaupun orangtua merasakan takut pada sesuatu, usahakan untuk menutupinya sehingga anak tidak mengetahui dan tidak tertular rasa takut tersebut. Katakan kepada anak bahwa takut merupakan sifat dasar manusia, tetapi tidak boleh berlebihan sehingga terlalu banyak hal yang ditakuti, padahal sebenarnya hal-hal tersebut tidak menakutkan atau tidak membahayakan.
  3. Mengajak anak untuk menghadapi ketakutannya. Misalnya, ajaklah anak ke tempat gelap, bak mandi, memegang kupu-kupu, dan sebagainya, bergantung sumber dari rasa takut yang dirasakannya. Yakinkan anak bahwa hal-hal yang ditakutkannya tersebut lama sekali tidak menakutkan dan tidak membahayakan. Namun, jika penyebab takutnya memang bersifat membahayakan, ajarkan anak cara-cara aman untuk menghadapinya.
  4. Jika penyebab ketakutan anak adalah trauma atas suatu kejadian di masa lalu, mintalah bantuan psikolog untuk menanganinya. Mintalah saran mengenai terapi yang tepat dan efektif untuk mengatasi ketakutan anak.
  5. Memberikan rasa aman dan nyaman pada anak. Yakinkan anak bahwa semua pasti baik-baik saja. la dalam keadaan aman.
  6. Memastikan pola asuh yang diterapkan orangtua tidak membuat anak merasakan ketakutan yang berkepanjangan. Jika ada pola asuh yang dirasa salah sebelumnya, segera koreksi dan perbaikilah.
  7. Memberi pujian ketika anak menunjukkan perubahan perilaku yang menjadi lebih berani dibandingkan biasanya.
  8. Memberi anak pengertian bahwa keberanian sangat dibutuhkan untuk keberhasilan di masa depannya.

Sumber : www.facebook.com

Ingin Anak Anda Cerdas, Lakukan ini Tiap Hari!

Nah, berikut ini ada beberapa tips tentang kebiasaan yang mencerdaskan anak

5 hal yg wajib dilakukan setiap hari utk mencerdaskan anak :
1. Bacakan buku u/ anak slma 15 menit setiap hari. Membacakan buku scra teratur sejak kecil penting bagi kemampuan bahasa,mempererat hubungan & mengembangkan otak anak.

2. Bermain dg anak di lantai slma 10 menit. Org dewasa & anak prlu berada pd tingkat fisik yg sama spy bs bersenang-senang brsama.

3. Ngobrol dg anak 20 menit dg mematikan TV. Matikan sgla gangguan eksternal, spt TV, ini sangat penting spy anda bs fokus dlm mengobrol shg tak ada yg mengalihkan prhatian kita.

4. Perhatikan sikap positif anak & pujilah dia. Ini trmasuk dlm kualitas interaksi antara orang tua & anak, bukan kuantitas.

5. Berikan anak makanan yg bergizi utk prtumbuhannya. Anak-anak membtuhkan makanan yg baik utk tumbuh kembang. Tetapi, yg jg penting selera dan kebiasaan makan trbentuk pd awal kehidupan. Maka itu, penekanan pd nutrisi sehat dlm kehidupan awal dpt menyebabkan kebiasaan makan yg sehat spnjang hidup skligus sbgai pncegahan obesitas dan pnyakit lainnya.

Well, sejauh yg saya tahu, semua anak itu cerdas. Tugas orang tua lah membantu menemukan potensi mereka dan mengembangkannya. Poin 1-4 bs dijadikan kesemptan utk mengenali anak dan mengetahui bakat juga minatnya. Jika anak tidak pandai matematika, mungkin saja dia pandai menggambar. Jika anak tidak pintar IPA, siapa tahu dia jago olahraga.

Jadi, teruslah mencari potensi anak, sebab manusia memang diciptakan berbeda dg keunikannya masing-masing.
Yap, selamat bertualang menemukan harta karun pd diri masing2 anak yaaa… Hehe..

Semoga bermanfaat =)

Merebut Jiwa Anak

Campur aduk perasaan saya ketika Allah subhanahu wa ta’ala memperkenankan saya menjumpai buku karya Theodore Herzl, tokoh yang telah menggerakkan jutaan manusia untuk rela berdarah-darah mendirikan negara Israel Raya.

Belajar dari orang-orang yang telah berlalu, tidak terkecuali Theodore Herzl yang telah menginspirasi jutaan orang Yahudi untuk bergerak mendirikan Israel Raya dengan merampas tanah orang-orang Palestina, ada satu hal yang harus kita catat. Keberhasilan membuat sejarah besar, bukanlah bertumpu pada besarnya kekayaan dan banyaknya orang-orang yang berdiri di belakang kita. Seratus juta manusia yang tipis keyakinannya, akan mudah lari terbirit-birit oleh seribu orang terpilih dengan keyakinan yang sangat kokoh dan keberanian yang sangat besar. Ketika Herzl menulis Der Judenstaat, kaum Yahudi adalah orang-orang yang tidak berdaya dan tercerai berai. Tetapi Benyamin Se’ev -nama lain Theodore Herzl- menulis dalam buku hariannya sepulang dari kongres Basel tahun 1897, “Di Basel, aku dirikan negara Yahudi. Jika aku katakan dengan lantang hari ini, ak akan disambut dengan tertawaan orang-orang sedunia. Mungkin dalam lima tahun, tetapi pasti dalam lima puluh tahun, setiap orang akan menyaksikannya.”

Apa yang membuat Herzl begitu yakin? Media dan kekuatan jaringan. Media memainkan pikiran manusia, menggiring orang yang paling benci sekalipun untuk sekurang-kurangnya tidak peduli. Media dapat membuat orang menangisi apa yang seharusnya mereka syukuri, dan merayakan apa yang seharusnya membuat mereka tidak bisa tidur dalam tiga hari karena ngerinya tragedi. Media dapat membuat kebusukan tampak bagus dalam sekejap, dan sebaliknya bisa membuat orang jujur dicacimaki dan diludahi. Seorang yang telah cukup matang berpikir pun bisa berubah karena tulisan yang dibuat dengan penuh kekuatan. Terlebih anak-anak dan orang muda, media bukan saja mempengaruhi, ia bisa menentukan hitam putihnya pikiran mereka, meskipun orang tua mendampingi anak-anaknya hampir setiap hari.

Di antara perusahaan media -sepeninggal Herzl- yang dengan sangat serius menggarap anak-anak adalah Disney dengan berbagai produknya, terutama film kartun. Didirikan oleh Mogul Michael Eisner -seorang Yahudi yang sangat phobi terhadap Islam- the Disney Company bekerja keras melahirkan produk-produk untuk anak. Mereka telah bersungguh-sungguh, berusaha melakukan yang terbaik dan tak berhenti meningkatkan kemampuan. Hari ini, jutaan anak-anak kaum muslimin menanti dengan sabar film-film mereka di layar TV bersama para orang tua mereka. Sebagian masih menawarkan kebaikan, tetapi tak sedikit yang menyuntikkan racun ke dalam pikiran kita, sementara kita menikmatinya dengan senang hati.

Berkenaan dengan pilihan menggarap anak-anak ini, teringatlah saya kepada David McClelland. Atas biaya CIA, McClelland melakukan penelitian untuk mengetahui semangat kewirausahaan masyarakat berbagai bangsa. McClelland kemudian menyimpulkan bahwa semangat wirausaha sangat dipengaruhi oleh kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement).

Dari mana kebutuhan untuk berprestasi ini sangat mempengaruhi jiwa mereka? McClelland menunjuk pada cerita anak. Keyakinan ini didasarkan pada hasil analisis proyektif cerita anak dari bangsa-bangsa yang ditelitinya.

Meskipun pendidikan di perguruan tinggi turut berpengaruh pada sikap dan terutama wawasan seseorang, tetapi pengaruh paling kuat yang membakas pada kepribadian adalah masa kecil. Dan cerita anak -termasuk film yang mereka lihat- sengat menentukan besar kekuatan kebutuhan jiwa. Anak yang sudah kokoh jiwanya memasuki masa remaja, insya Allah mereka tidak akan mudah terpengaruh -apalagi guncang- oleh hal-hal baru yang ada di sekelilingnya. Menjadi remaja tidak dengan sendirinya berarti mengalami kebingungan jati diri sehingga mereka sibuk mencari identitas yang kemudian dijadikan sebagai pembenaran untuk melakukan apa saja yang tidak benar. Ada remaja-remaja yang tidak mengalami keguncangan. Mereka telah menemukan jati diri sebelum memasuki masa remaja. Inilah yang disebut sebagai identity foreclosure.

Pertanyaan kita adalah mengapa ada yang harus guncang dan kehilangan pegangan sehingga pelajaran agama yang mereka terima semenjak kecil seakan tak berbekas, sementara pada saat yang sama remaja lain tidak mengalami kebingungan identitas? Wallahu a’lam bish shawwab. Penyebab yang sangat menentukan adalah pendidikan yang mereka terima di masa sebelumnya, sejauh mana mempengaruhi serta menggerakkan hati dan jiwa mereka. Sekadar cerdas secara kognitif atas nilai-nilai tauhid tidak banyak berpengaruh bagi jiwa. Banyaknya pengetahuan tidak terlalu menentukan apa yang menjadi penggerak manusia untuk hidup. Seperti dokter penyakit dalam, sekadar pengetahuan yang mendalam tentang bahaya merokok, tidak cukup untuk membuat mereka berhenti merokok. Itu sebabnya dengan senang hati perusahaan rokok dengan senang hati mencantumkan peringatan pemerintah tentang bahaya merokok di iklan-iklan mereka.

Nah, salah satu cara yang paling efektif mempengaruhi jiwa anak adalah cerita. Semakin kuat sebuah cerita, semakin besar pengaruh yang mempengaruhi jiwa anak. Demikian pula semakin dini mereka membaca cerita-cerita berpengaruh tersebut, semakin kuat bekasnya pada jiwa. Kuatnya pengaruh ini akan lebih besar lagi jika anak-anak itu mengungkapkan kembali cerita dan kesan yang ia tangkap melalui tulisan. ‘Ulama kita pernah berkata, “Ikatlah ‘ilmu dengan menuliskannya.”

Itu sebabnya, dua keterampilan ini -yakni membaca dan menulis- perlu kita bangkitkan semenjak dini. Kita gerakkan jiwa mereka untuk membaca semenjak anak-anak itu baru berusia beberapa hari. Kita rangsang minat baca mereka, dan kita ajarkan mereka bagaimana membaca semenjak dini, bukan semata untuk meningkatkan kecerdasan. Lebih dari itu, mudah-mudahan kita tergerak untuk melakukannya karena Allah ‘azza wa jalla telah menjadikan membaca sebagai perintah pertama. Adapun kenyataan bahwa mengajarkan membaca semenjak dini terbukti meningkatkan kecerdasan anak kita berlipat-lipat, itu merupakan hikmah yang patut kita syukuri.

Tetapi, sekadar membuat anak kita terampil membaca dan menulis di usia dini, sama sekali tidak cukup. Kita harus berikan kepada mereka bacaan-bacaan bergizi. Sekarang juga! Tak ada waktu untuk menunggu, sebab setiap detik waktu berlari meninggalkan kita. Seperti Mogul Michael Eisner, harus ada di antara kita yang berbuat untuk anak-anak. Jika Eisner mewujudkan pengabdian melalui jaringan bisnis The Disney Company, lalu apakah yang harus kita lakukan?

Selebihnya, kita memerlukan buku-buku cerita yang hidup, yakni guru-guru yang memiliki kekuatan jiwa. Mereka inilah penentu masa depan anak-anak. Di tangan para guru, buku-buku yang kurang gizinya dapat dibenahi sehingga menghidupkan hati, menajamkan pikiran, dan menggerakkan jiwa anak. Mereka inilah yang harus kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak kita menyambut seruan perjuangan. Tak perlu tergesa-gesa mendirikan perguruan tinggi. Kalau kita telah mampu membangun kekuatan jiwa pada anak-anak sedari play-group hingga SMP -syukur hingga SMA- melalui sekolah-sekolah yang diasuh oleh guru-guru dengan kekuatan jiwa yang tangguh, kekuatan ruhiyah yang kokoh, dan kekuatan ‘ilmu yang matang, insya Allah kita sudah menggenggam generasi yang bisa menjadi penentu sejaran lima puluh tahun yang akan datang!

Muhammad Fauzhil Azhim