Sahabat,
Seseorang boleh jatuh berkali-kali namun ia mampu menemukan cara bangkit lebih banyak. Ia memahami bahwa ia hanya pengabdi dengan sifat dasar bodoh dan zhalim. Sehingga, ia memiliki setiap hari potensi kebodohan tiada terhingga dan kezhaliman yang tiada batas. Maka, setiap saat harus mengantongi keberanian untuk mengakui kesalahan, ketergelinciran, ketidaktepatan, kerusakan dan dosa yang dilakukan. Walaupun itu selalu terjadi, selalu berulang dan kecolongan.

Sahabat,
Kesadaran atas sifat melampaui batas, kelemahan, kebodohan, keterbatasan, dan kezhaliman menjadikannya ada selalu dalam posisi paling bawah, posisi tanah kerendah hatian. Maka, ia selalu melihat orang lain itu baik, bersih, taat dan mulia. Sedangkan dirinya buruk, kotor, penuh dosa dan hina. Ia jatuh bangun memperbaiki dirinya. Ia terpenjara dan terlepas dari keburukan hawa nafsunya. Ia keluar masuk dari pintu pertaubatannya. Wajahnya hitam legam, bahkan kehilangan wajah akibat malu dihadapan Tuhan dengan kenistaan perilakunya.

Sahabat,
Kesadarannya memberikan keberanian yang besar kepada diri. Bahwa dia bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Tidak sedzarrah debu pun kepemilikan atas apa yang orang lain sebut kepada dirinya entah itu kecerdasan, kehebatan, kekuasaan, kekayaan, pujian, penghargaan, keberperanan ataupun kesalehan. Ia selalu pada posisi mentertawakan prasangka orang lain atas apa yang disebut dengan kebaikan pada dirinya.

Sahabat,
Kesadaran posisi penghambaannya membuat ia tiada henti minta ampun. Selalu curiga dengan dirinya yang bodoh dan zhalim. Ia mengikatan dirinya pada tali taubat. Ia sebut-sebut dosanya, ia mengingat-ingat maksiatnya, ia wirid kesalahannya. Ia merekam kezhaliman mata, telinga, lidah, tangan dan kaki yang dilakukannya. Ia kumpulkan kebusukan lintasan pikirannya. Seraya ia pegang erat-erat tali pengharapan akan ampunan dan kasih sayang ilahi. Ia menangis dan merengek bershalawat dihadapan Sang Rasul menghiba syafaatnya. Walaupun ia terjatuh jutaan kali, ia tidak mau pada posisi jatuh pada akhirnya.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri. janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
[Azzumar : 53]

@harisanusi
#semangatpermanen
#membangunsurgahariini

Artikel Terkait

WhatsApp chat