Mantapkan Tujuan

Pernahkah sahabat berada dalam satu kendaraan menuju satu tujuan, dengan satu janji yang amat penting dan mendesak dan sahabat menganggap itu jalan yang benar tetapi kemudian diketahui bahwa ternyata jalan yang sahabat tempuh ternyata salah. Waduh, kacau. Barangkali itu perasaan sahabat. Atau sahabat marah kepada yang menjadi supir sahabat, atau sahabat menyalahkan peta, atau kesal dan menyalahkan diri sahabat sendiri kenapa tadi tidak berangkat lebih awal. Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin, sahabat akan menenangkan diri dan bergumam mudah-mudahan lain kali itu tidak terjadi lagi.

Sekarang, kita melihat dari jauh tentang perjalanan hidup sahabat. Sudahkah benar? Atau merasa benar sebagaimana sahabat ketika pertama kali menempuh jalan yang ternyata salah. Saya bertanya kembali sebenarnya apa tujuan perjalanan kehidupan sahabat? Diamlah sejenak dan jawablah dalam hati sahabat. Tidak usah terburu-buru. Karena ini menyangkut kehidupan sahabat yang sebentar, tidak bisa diulang dan amat menentukan untuk perjalanan kehidupan yang panjang dan abadi, negeri akhirat. Sebelum semuanya terlambat.

Sambil sahabat merenung tentang tujuan hidup, kami sampaikan hasil dari survey yang dilakukan Yale University, ternyata 83% dari responden tidak punya tujuan hidup dan hanya 3% saja orang yang memahami betul tujuan kehidupannya dan menuliskannya. Ya, menuliskan diatas kertas tujuan yang ingin dicapainya. Apakah sahabat termasuk ke dalam golongan sedikit ini, golongan 3%, kami harap iya.
Dan tahukah sahabat ternyata, Alquran yang mulia merekam pernyataan orang-orang yang tertutup pintu mata hatinya dari mengenal kebenaran akan tujuan hidup ini, mari kita simak pernyataan itu.

إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا (٤٠)
Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah. TQS.An-Naba.78:40
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠)
Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)” agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.TQS. Al Mu’minuun (23) : 99-100.
Sahabat, ketika tujuan yang salah ditempuh, waktu yang berlalu tidak akan bisa kembali, juga amal telah dilakukan menjadi sia-sia. Perumpamaannya kalau kita menempuh jalan menuju puncak gunung ada orang memberi kita petunjuk, tetapi kita ‘merasa’ yakin bahwa jalan saya yang benar dan dalam setengah perjalanan ternyata orang itu baru mengetahui bahwa ia salah jalan maka sia-sialah amal jalan kaki kita menuju puncak, kenapa, ya karena tujuannya salah dan tentu, tidak akan pernah sampai ke puncak! Apakah kemudian manfaat seseorang menyesal karena menempuh jalan yang salah atau menyesal kok nasib saya yang salah jalan, pepatah mengatakan ‘menyesal kemudian tidak berguna’. Yang pasti, setelah menangis, menyesal orang itu harus kembali, kemana? Ya, ke titik nol perjalanan dia. Ke pos awal. Inilah taubat. Memulai kembali dari titik fithrah.
Baiklah, sahabat sudah ingat kembali tujuan menjalani kehidupan ini. Ya, saya akan menuliskannya supaya lebih jelas bahwa tujuan hidup kita di dunia sampai ke negeri akhirat adalah Bertemu dengan Alloh azza wa jalla. Sengaja kami pertebal dan garis bawahi agar kita mantap dengan tujuan hidup ini. Dan ketika kita berada di jalan menuju pertemuan dengan Alloh maka setiap desah nafas, tetesan keringat dan gerak diri kita bernilai ibadah.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.TQS.Adz-Dzariyaat.51:56
Nah, sahabat yang dirahmati Alloh, sebagai penguat tujuan hidup kita, kami sampaikan perkataan, Rasul saw, dari Ubadah bin Shamit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Barangsiapa mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya, sebaliknya barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.” HR.Bukhori. Wallahu ‘alam
Sahabat anda,
Hari Sanusi, Muhammad,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *