قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Nabi Yusuf AS berkata (kepada saudara-saudaranya): “Tak ada cercaan kepada kalian. Semoga Allah mengampuni kalian dan Dia Paling Penyayang diantara para penyayang.” (Yusuf: 92).

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Nabi Yusuf menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana dan mereka semua bersujud menghormat kepada Nabi Yusuf. Dan dia berkata: “Wahai ayahku, inilah ta’wil mimpiku yang dulu itu Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika Dia membawa kalian dari dusun setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku. Sungguh Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh Dia lah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (Yusuf: 100).

Yang menarik adalah bahwa ucapan Nabi Yusuf benar-benar mencerminkan kesempurnaan maaf yang diberikannya untuk saudara-saudaranya yang dulu telah hampir membunuhnya dengan menceburkannya ke dalam sumur.
Nabi Yusuf mengalami setidaknya  dua kejadian yang membahayakan dan menyakitkan : diceburkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri dan dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan mencoba memperkosa majikannya.

Namun saat berbicara di hadapan orang tua dan saudaranya tentang nikmat Allah kepadanya di ayat 100 tsb Nabi Yusuf hanya menyebutkan nikmat keluar dari penjara tanpa menyinggung peristiwa sumur. Padahal, diceburkan ke dalam sumur lebih membahayakan nyawanya daripada masuk penjara, dan tentunya ni’mat keluar dari sumur itu lebih pantas untuk diingat dan disebut. Namun karena ini adalah momen memaafkan saudaranya sebagai pelaku peristiwa itu, Nabi Yusuf tidak menyebutkannya, dan hanya menyebutkan ni’mat bebas dari penjara.

Pun saat menyebutkan nikmat berkumpul kembali dg mereka, Nabi Yusuf hanya menyalahkan setan yang telah mengganggu hubungannya dg mereka.
Nabi Yusuf benar-benar membuktikan bahwa “tak ada cercaan kpd kalian” baik langsung atau tidak langsung.
Maaf yang tulus dan sempurna yang lahir dari kasih sayang kepada saudaranya seolah mereka tak pernah menyakitinya.

Pantas jika Rasulullah Muhammad SAW saat memaafkan orang-orang Quraisy pada peristiwa Fathu Makkah menyatakan bahwa beliau meneladani Nabi Yusuf dan mengatakan perkataan yang sama “Laa tatsriiba ‘alaikum al-yaum.. (Tak ada cercaan kepada kalian). Idzhabuu, fa antum ath-thulaqa.. (Pergilah, kalian bebas).”
Shalawat dan salam kepada Nabi Yusuf dan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artikel Terkait

error: Content is protected !!
WhatsApp chat