Firman Allah:

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik”. (Ali Imran: 179)

Di dalam ayat ini Allah memberitahukan bahwa Dia pasti melakukan penyisihan (tamyiz) dalam kehidupan orang-orang beriman. Penyisihan ini dimaksudkan untuk menunjukkan kwalitas seorang mukmin, sehingga terbukti jelas identitas keimanan dan keislamannya. Penyisihan ini dilakukan melalui berbagai ujian dalam kehidupan sehari-hari. Firman Allah:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (al-Mulk: 2)

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi”. (al-Ankabut: 2)

Seluruh peristiwa dan kehidupan ini adalah ujian dan penyisihan. Harta kekayaan, kehidupan rumah tangga, kehidupan berjamaah, dakwah, jabatan, kedudukan, ilmu, kecerdasan, kemajuan, kemunduran, kesuksesan, kegagalan, kemenangan dan kekalahan, semuanya adalah ujian dan gelanggang penyisihan. Dari interaksi seseorang dengan kehidupan ini akan terlihat dan terbukti kwalitasnya. Proses tamyiz (penyisihan atau kwalifikasi) ini akan berlangsung terus-menerus hingga setiap mukmin terbukti apakah dia orang baik atau tidak, orang yang teguh atau mudah runtuh, orang yang istiqamah atau menyimpang, orang yang tulus berjuang untuk Islam atau untuk kepentingan duniawi. Bahkan terpilahkan sehingga orang baik akan berhimpun dengan orang baik dan orang buruk akan berhimpun dengan orang buruk. Sabda Nabi saw:

“Ruh-ruh itu (laksana) pasukan yang dikumpulkan, maka yang saling mengenal diantaranya akan berhimpun sedangkan yang saling mengingkari diantaranya akan saling berpisah”. (Bukhari, 3336)

Dari penyisihan ini kemudian terjadi pemihakan secara alamiah. Para pecinta dunia berpihak dan berhimpun kepada pecinta dunia, pengumbar nafsu berpihak dan berhimpun kepada pengumbar nafsu, ahli maksiat berpihak dan berhimpun kepada ahli maksiat, orang-orang yang taat berpihak dan berhimpun kepada orang-orang yang taat, orang-orang yang tidak taat berpihak kepada orang-orang yang tidak taat, orang-orang yang tawadhu’ berpihak kepada orang-orang yang tawadhu’, orang yang jujur berpihak dan berhimpun kepada orang yang jujur, orang yang suka berbohong berpihak dan berhimpun kepada mereka yang suka berbohong. Demikianlah terjadi penyisihan dan pemilahan secara alamiah dalam kehidupan manusia.

Sabda Nabi saw:

“Seseorang mengikuti agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian memperhatikan siapa teman dekatnya”. (Musnad Ahmad, 8028)

Bila ada orang baik “berhimpun” dengan orang yang tidak baik maka hal ini hanya berlangsung sementara waktu saja dan tidak lama. Pasti terjadi dua kemungkinan: Berpisah lagi atau terjadi perubahan. Perubahan orang yang baik menjadi tidak baik, atau perubahan orang yang tidak baik menjadi baik. Tergantung siapa yang lebih kuat memengaruhinya. Proses tamyiz pasti terjadi.

Seseorang bisa saja membuat berbagai framing tentang dirinya dengan mengaku ikhlas, tidak berambisi kepada jabatan, bertindak sebagai penyelamat, pemburu surga, bermaksud melakukan perbaikan dan klaim-klaim lainnya, tetapi tindakan, perbuatan, sikap, dan kehidupannya sehari-hari akan menunjukkan siapa jati dirinya yang sebenarnya. Allah akan menunjukkan hakikat dan kwalitas dirinya, tanpa bisa ditutup-tutupi, “sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik”. Bahkan ia sendiri tahu siapa jati dirinya, sekalipun ia berusaha membuat berbagai framing yang tidak sesuai dengan jati dirinya. Firman Allah:

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya”. (al-Qiyamah: 14-15)

Terkadang Allah menunjukkan kepalsuan klaim dan framing mereka melalui kontradiksi antara pengakuan dan kenyataan hidup mereka. Mengaku sebagai pemburu surga tapi bergelimang maksiat dan rakus terhadap dunia, mengaku tidak ambisi terhadap jabatan tetapi melakukan berbagai manuver untuk menggalang kekuasaan, mengaku menggalang persatuan tetapi memecah belah, mengaku melakukan kebaikan-kebaikan tetapi menebar kebencian, fitnah dan kebohongan, mengaku ikhlas tapi murka saat kepentingan pribadinya terkalahkan oleh kemaslahatan yang lebih besar, mengaku melakukan perbaikan tetapi berbuat berbagai kerusakan.

Di sini tidak ada gunanya membohongi Allah, karena Allah Maha Mengetahui isi hati manusia. Karena itu, hal yang sangat berguna, agar kita tergolong hamba-hamba-Nya yang saleh dan taat, adalah kejujuran kepada Allah dan diri sendiri. Karena disamping melakukan penyisihan di ranah kehidupan nyata, Allah juga melakukan penyisihan di ranah hati. Firman Allah:

“Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati”. (Ali Imran: 154)

Hati manusia berada dalam kekuasaan Allah sepenuhnya: “Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya”. (al-Anfal: 24) Sementara itu, segala tindakan dan perbuatan manusia menjadi cermin dan manifestasi dari segala apa yang ada di dalam hatinya, tanpa bisa mengelak dan menutup-nutupinya. Karena itu, jaga hati tetap bersih dan bening dan dengarkan suaranya yang jernih. Jauhkan hati dari segala penyakit yang mengotori dan merusaknya.

Aunur Rafiq Saleh Tamhid Lc.

Artikel Terkait

WhatsApp chat