Sawah hijau membentang. Gunung biru menyentuh langit. Gemericik air di sungai. Membuat Hasan tidak mau bergegas dari tempat duduknya. Sudah setengah hari ia menikmati suasana ini. Jauh dari kebisingan. Jauh dari manusia. Sendiri. Hanya bertemankan tongkat yang ia pakai untuk sampai di tempat favoritnya. Benaknya berbisik, sebagian manusia punya kesenangan untuk menyendiri di tempat yang disukainya seperti Muhammad Sang Nabi Akhir Zaman pun melakukannya sebelum peristiwa besar itu terjadi.
Hasan yang lain dalam dirinya bertanya, apa enaknya menyendiri ? Buang-buang waktu. Tidak produktif. Atau justru lagi galau, banyak masalah. Hati-hati, ujung-ujungnya mati karena seutas tali. Hasan yang lain menghardik, Diam kamu ! Justru dari kesendirian, kesepian, lahir ide brilian, kekuatan pikiran, ruhani melintasi ruang dan waktu. Bahkan bisa melampaui amal yang dimulai tanpa melalui perenungan dalam kesendirian. Banyak yang tergelincir, tertipu dan ujungnya kehinaan karena tidak direnungi sebelumnya.
Ya, sudah. lanjutkan saja kesendiriannmu. Aku lebih senang dalam keramaian. Bertemu sahabat-sahabat yang lain. Agar ruhaniku tidak keras membatu, bisa harmoni, saling bercermin. Bahkan bisa saling mengucap salam. Terus berlanjut dengan perbuatan yang dilakukan bersama. Kerja, kerja, kerja. Persis kata Raja di Negeri Nusantara. Kalau Aku lebih senang ruhaniku makin kokoh melalui amal. Agar yang didalam jiwa bisa terbukti dalam amal nyata. Melaksanakan kata-kata jiwa.
Hasan yang lain berkata, iya, iya. Sebentar lagi. Just a minute. Disini. dalam sepi. Kita sedang mengurai makna masalah, beban, problem dan semisalnya. Karena sebagian manusia beramal tidak tahunya cuma cari kepentingan dunia, hartalah, duitlah, popularitaslah. Bukan seperti yang kamu maksudkan itu. Liya’buduun. Akhirnya, bersekutu dengan iblis dan setan. Sebab mereka melakukan apa yang juga dilakukan iblis dan setan. Sehingga semuanya menjadi beban, menjadi masalah. Penuh iri,dengki, pamer, ujub selfie dan ujungnya takabur. Menjemput rizki jadinya masalah ketidakcukupan yang muncul. dan selalu nggak pernah cukup. Menjemput jodoh jadinya galau setengah dewa karena tidak sesuai keinginan. Mengkonsumsi yang halal jadinya cari halal dibilang itu susah. Sudah diam. Kembali ke laptop aja, meniru gayanya tukul. Aku ingin membersihkan diri dari hal-hal itu. Dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Setelah itu baru kita kembali turun gunung, Bertemu kembali dengan sahabat-sahabat ruh dengan wajah ceria, dengan senyum yang full dan hati yang lapang. Ditambah jiwa yang tenang. Sehingga siap all out untuk kembali merajut amal, berkolaborasi kebaikan dan menyemai manfaat. Ditambah sesekali tertawa lepas di Kedai Domino. Kita bincang apa ya terakhir di Kedai itu. Masih ingat ?
harisanusi, syaban 1437

 

Artikel Terkait

WhatsApp chat