Tag Archives: Catatan Hati

Gowes Barokah

Bike to work, kita boleh jadi sangat familiar dengan istilah itu. Berawal dari sekelompok penggemar kegiatan sepeda gunung yang memiliki semangat, gagasan dan harapan akan terwujudnya udara bersih di perkotaan, lahirlah komunitas itu. Bersepeda memang menyehatkan, unik, ramah lingkungan dan sederhana. Andalkan keseimbangan dan teruslah meng’gowes’.

Dalam sudut pandang yang lain, ternyata meng’gowes’ sepeda adalah urusan utama bagi kehidupaan. Ini untuk mereka yang menyambung hidup, menjemput rezeki dengan meng ‘gowes sepeda setiap hari. Anda pasti sudah dekat dengan para pedagang yang menjajakan jualannya dengan bersepeda. Mulai dari siomai, baso, bahkan kopi dan sejenisnya. Jadilah ‘kafe sepeda’ keliling.

Tentu, mereka bekerja dengan tangguh, setangguh otot kaki yang tambah kuat, beribadah dengan keras menunaikan amanah untuk membahagiakan keluarga. Istiomah menjaga keseimbangan, mengayuh medan yang panjang agar kehidupan terus berjalan. Tentu dengan bersepeda mereka mengharap perbaikan kehidupan. Subhanalloh.

Oleh karena itu, DPU Daarut Tauhiid menggagas suatu program pemberdayaan ekonomi produktif agar makin banyak mereka yang tertolong untuk bekerja dengan meng ‘gowes’ sepeda. Mengajak anda untuk turut berbagi dan berpartisipasi dalam program yang kami berinama ‘Gowes Barokah’. Program dengan target memberdayakan dan memandirikan 1000 keluarga di desa dengan wilayah sasaran di 7 provinsi se-Indonesia. Setidak-tidaknya, mudah-mudahan kemiskinan sebesar 30 juta jiwa di negeri yang bisa kita sedikit turunkan dengan Gowes Barokah. Semoga Alloh memberkahi upaya kita dan menjaganya senantiasa dalam keikhlasan.


M Hari Sanusi
Maret 2012

Mulailah dari Tujuan Akhir

“Hendaklah setiap diri ini perhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok (alam akhirat).” QS. Al – Hasyr:18

Mulailah dari tujuan akhir. Demikian Stephen Covey. menyatakan salah satu kunci kesuksesan dalam menjalani hari-hari dalam kehidupan dunia ini. Tentunya, memulai tujuan akhir adalah salah satu hal yang terpenting dalam khazanah keimanan dan pengetahuan dalam Islam.
Bahkan, kita harus mengalokasikan waktu yang cukup untuk melakukan instrospeksi diri dan manajemen diri untuk kehidupan hari esok, yang jauh lebih panjang dan lebih baik dari kehidupan sekarang ini. Pertanyaannya, sudahkah kita berhenti sejenak dalam aktivitas harian kita, 15 menit saja. Untuk melihat posisi diri kita dalam mempersembahkan amal terbaik kita untuk kehidupan akhirat. Boleh jadi, ada yang ‘berhenti sejenak’ pada saat malam tahajudnya, atau diwaktu dhuhanya,atau menjelang waktu-waktu sholat lima waktunya, atau sesuai dengan pilihan anda. Yang pasti, berhenti sejenak untuk pertanggungjawaban kita ketika berdiri dihadapan Yang Mahaagung adalah tanda kecerdasan. Indahnya Sang Nabi saw, bertutur, orang cerdas itu adalah orang mampu mengendalikan jiwanya dan beramal untuk kehidupan akhirat.

Mulailah dari tujuan akhir dalam melihat harta. Pena sudah kering dan kitab sudah ditutup ketika Alloh menorehkan dalam Lauh Mahfuz tentang qodho seluruh manusia, termasuk bab rizki dan harta diri kita. Maka, persfektif harta adalah yang halal, yang bermanfaat dan yang dibagikan. Maka, tidaklah akan diterima harta yang disedekahkan dari harta hasil curian. Bahkan, tidak diterima ibadah dan doa seseorang ketika pakaian yang pakai, energi tubuh pada dirinya bersumber dari harta dan makanan minuman yang haram. Disisi lain, yang dimaksud dengan harta adalah apa yang sudah engkau makan dan minum dari yang halal, apa yang engkau pakai, dalam bahasa ekonomi apa yang engkau sudah konsumsi. Dan prinsip konsumsi adalah habis, sekali pakai. Subhanalloh, Rasul saw, menambahkan, dan apa yang engkau sedekahkan dan dilanjutkan oleh beliau saw dan itulah yang akan kekal abadi yang bermakna bagi akhirat kita. Sedangkan, harta yang masih terkumpul di brankas, dompet, bank syariah, adalah sebentuk pertanggungjawaban dengan dua pertanyaan, darimana engkau dapatkan? dan untuk apa engkau keluarkan? Mudah-mudahan Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid mampu menjadi jalan untuk kemudahan keberkahan harta dalam bersedekah harian melalui Kencleng Ummat. Mulailah dari hal kecil, mulailah dari tujuan akhir.

Hari Sanusi Muhammad

Takjub ..


Takjub…
Diundang silaturahim oleh teman untuk walimatussafar [semacam hajatan bagi yang akan pergi haji]
diadakan di lorong sempit perumahan padat penduduk di kelurahan Gunung, Kebayoran Baru. dan jamaah pun duduk di sisi lorong tersebut.

Keakraban, guyub sesama tetangga, tangis haru, ucapan selamat kontras dengan tampilan sepi disekeliling perumahan yang mewah, besar, terkesan ‘tak peduli’, egois dengan tetangganya.

Selamat jalan nek! menjadi tamu Alloh yang penyayang, menikmati jamuan terindah ditanah suci. Moga kembali membawa kemabruran. Amiin!

Labbaik Allahumma Labbaik!

Suatu Pagi Yang Kami Cintai

Kubuka mataku, juga seluruh santri, bergegas bangkit dari nikmatnya tidur, kulihat jam, oh ternyata sudah pukul 03.00. Masih dalam pembaringan, dengan tubuh tergolek namun pikiranku sudah meninggi dalam impian dan keindahan munajat untuk Rabb kami, Allah. Keindahan berdiri yang panjang, bacaan yang membawa jiwaku terbang dalam ketinggian, nikmatnya ruku, lamanya sujud dan panjangnya doa-doa yang terangkai. Ah, sontak aku melejit dalam impian untuk bersegera. Yah, bersegera dan berlari menuju Allah dan mengharapkan maghfirohNya di awal kehidupan baru ini.


Waktu masih sahur, air yang sejuk memberi kesadaran yang lebih, kubasuh muka, kuambil sikat, kubersihkan mulut dan gigi. Ah, kembali rasa syukur terucap atas segala kesegaran ini. Kami mulai suatu aturan yang indah dalam merangkai perjalanan ibadah kepada pemberi segala kenikmatan ini, bercucuran air wudhu, menetes perlahan dari rambut, jatuh ke dahi, terus ke pipi dan jatuh bebas bersama kotoran dan dosa diri. Alangkah indahnya. Begitupun, berjatuhan, jatuh bebas dosa dan kotoran dari sela-sela jari kaki, tangan, wajah, ah, sungguh luar biasa. Perlahan tapi pasti, terasa ruh menjadi lepas, segar dan bergairah karena belenggu, beban kotoran, dosa itu jatuh bebas dengan kehendakNya. Sungguh indahnya.


Dan pakaianmu maka bersihkanlah. Kuambil pakaian yang baru, kukenakan topi dan mulailah kembali pengembaraan jiwa menuju ketinggian, menegakkan sholat. Allaahu Akbar. Mulailah jiwa terbang bersama kalimat-kalimat yang telah ditetapkan Rabb kami, kadang terbang diwilayah keindahan tanpa kata mampu terucap, kadang melewati wilayah kengerian luar biasa dengan cepat, kadang terbang perlahan dan bahkan berhenti sejenak dalam wilayah kenikmatan tiada bandingannya, jauh berbeda dengan kenikmatan dunia, kadang berada diwilayah tanpa kata, ketakjuban, kebesaran, kesempurnaan sehingga diri menjadi sangat tidak berarti apa-apa. Tapi ada saat kami berkenalan, memahami, dan menjadi yakin ketika kami melihat episode-episode kehidupan orang-orang mulai dalam hidupnya, berkenalan dengan para nabi dan rasul itu, di setiap kurun waktu dan zaman. Begitulah, Rabb kami mengajarkan dan mendidik kami ketika kami berada diwilayah ketinggian ini. Benar-benar nikmat tiada bertepi. Assalamu’alaikum warahmatulahi wabarakaatuh, kata ini mengakhiri perjalanan di wilayah ketinggian ini. Pun kerinduan muncul kembali untuk mengulang dan terus mengulang perjalanan nan indah ini. Kalau tidakpun kami merindukannya sebagai tempat-tempat beristirahatnya jiwa kami saat terasa berat.

Terdengar kokok ayam bersahutan, kulihat jam, waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi, senang rasanya kalau peristiwa ini tidak pernah berakhir. Tapi itu hanya harapan. Tapi lebih baik kurangkai harapan ini dengan untaian sepilihan doa agar menjadi dan bersama orang-orang yang kutemui dalam perjalanan yang abadi dalam Quran yang penuh dengan kemuliaan, kebersihan hati, ketegaran, pengorbanan dan aliran mata rantai kejernihan dan pengabdian kepada kehidupan kekal & abadi. Akhirat. Disinilah terasa keindahan yang lain. Keindahan berharap, munajat dan doa. Harapan kepada dzat yang tidak pernah mengecewakan, dan dzat yang malu bila ada yang meminta kepadaNya lantas tidak mengabulkannya. Dialah Allah tiada Tuhan selain Dia.

Hati, jiwa dan ruh terasa makin jernih dan kokoh. Udara di setiap pagi memang berbeda, kuhirup dalam-dalam dan terasa ia mendorong jauh kedalam jiwa untuk bangkit dan berbuat, untuk memberi dan berkorban. Adzan yang kutunggu pun berkumandang dengan syahdu dan nikmat. Kalimat-kalimat thoyyibah mengalir diudara yang membawanya masuk kedalam ruang gendang pendengaran, melalui urat syaraf dan masuk ke dalam jiwa dengan indah. Kuputar kunci pintu, lalu dengan tenang berjalan dengan perasaan indah dan alam yang sekitar yang indah. Bintang-bintang masih terang menyapa, udara yang begitu segar, enak dan nikmat, kembali kuhirup dalam-dalam. Suasana masih gelap tapi indah. Bersamaan dengan tapak-tapak kaki menuju rumah Allah, lisanpun berharap agar kanan menjadi cahaya, kiri menjadi cahaya, depan menjadi cahaya, belakang menjadi cahaya, hati menjadi cahaya dan diri menjadi cahaya.

Sampailah kaki-kaki kami memasuki rumah Alloh, mesjid. Tempat terbaik dan disukai Allah di jagad semesta ini. Tertunduk, khusyu dan patuh kepada Allah Yang Maha Besar. Dari sini kami belajar bahwa tiada yang hebat melainkan mereka yang sanggup tunduk, menyerah pasrah dan patuh kepada Sang Maha Sempurna, Pemilik Kemuliaan dan Kekuasaan Sejati. Berbaris tegak, ruku dan sujud kami dalam rangkaian miraj ruhani dan berlanjut dengan basahnya bibir karena dzikir panjang menjelang terbit matahari di ufuk timur.

Inilah episode yang senantiasa kami rindukan setiap pagi, setiap hari. Menjadi ’santri’. Menjadi Abdillah. Karenanya, kamipun siap untuk mempersembahkan amal yang terbaik sepanjang hari. Amal yang berarti didunia dan bermakna untuk kehidupan akhirat. Bergabunglah bersama dalam nauangan cinta dan ridho ilahi. Semoga sahabat pun demikian. Amiin.

Hari Sanusi, Muhammad. +62 812 853 2784