Tag Archives: Dakwah

10 Kaidah Penting dalam Dakwah

Dakwah adalah amalan yang mulia dan sesuatu yang mulia harus disampaikan dengan cara yang mulia yakni tidak melanggar syari’at dan ittibaa’us-sunnah (mengikuti sunnah). Berikut ini adalah 10 kaidah penting dakwah yang harus diperhatikan oleh para du’at:
1.       Al Qudwah Qabla Ad Da’wah
(Menjadi Teladan Sebelum Berdakwah)

أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri…”

(QS Al Baqarah: 44)

Continue reading 10 Kaidah Penting dalam Dakwah

Sunan Bonang – Menjadi Pribadi yang Menang

​*Menjadi Pribadi yang Menang (Falsafah Hidup Sunan Bonang)*

Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam arena peperangan *“Baratayudha”* _(jihad)_ antara kekuatan _nafsu muthmainnah/_ nafsu yang tenang/ sumber inspirasi ilahi _(Pendawa Lima)_ melawan _nafsu ammarah/_ nafsu yang mengajak pada keburukan, dan _nafsu lawwamah/_ nafsu yang mengajak pada penyesalan masa lalu, dan kebimbangan masa depan  (100 pasukan Kurawa).

Perang berlangsung di medan perang  yang bernama *“Padang Kurusetra”* _(Kalbu)._ Melambangkan peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang adalah perang melawan diri sendiri yang letaknya di dalam kalbu. Continue reading Sunan Bonang – Menjadi Pribadi yang Menang

Dakwah Kok Berhenti

Sahabat,

Semoga Allah menjaga semangatnya fisabilillah

Ketahuilah, bahwa ladang amal kita dalam kalam
menempatkan sasaran dakwah utamanya bukan
untuk orang lain atau yang kita berikan donasi.
Mereka hanya wasilah. Sekedar sarana.

Yang menjadi sasaran dakwah dalam setiap
amal dalam kalam kita adalah DIRI KITA SENDIRI.

Maka ketika beramal dalam kalam, sasar ‘SI DIRI’ Continue reading Dakwah Kok Berhenti

Siapa yang Melangkah Ia Sampai pada Tujuan

TAUJIH UST. MUSYAFFA’ AHMAD RAHIM, LC

PADA ELECTION UPDATE KE III
DPP PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
(JCC-SENAYAN/RABU, 20 NOPEMBER 2013)


السلامعليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله نحمده ونستعينهو نستغفره ونستهديه ونتنوب إليه ونعوذبالله من شرور أنفسناو من سيئاتأعمالنا من يهده اللهفلا مضلله ومن يضللفلا هادي له. أشهدأن لا إله إلاالله وحده لا شريكله و أشهد أنمحمدا عبده ورسوله. اللهمفصل وسلم على نبيناوحبيبنا وقدوتنا محمد صلىالله عليه وسلم وعلىآله وصحابته و منسار على نهجه إلىيوم الدين. أما بعد.
يقول سبحانه وتعالى فيكتابه الكريم أعوذ باللهمن الشيطان الرجيم بسمالله الرحمن الرحيم {لَقَدْكَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِاللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُواللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21) وَلَمَّارَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَاوَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَاللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّاإِيمَانًا وَتَسْلِيمًا (22) } [الأحزاب: 21، 22

Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allah SWT.

Alhamdulillah wasyukrulillah. Hari demi hari, waktu demi waktu menunjukkan bahwa  Alhamdulillah wa syukrulilla sampai sekarang kita masih dalam garis dan berada di jalan dakwah ini. Terus meniti jalan ini, langkah-demi langkah. Dan pepatah mengatakan

 

وَمَنْ سَارَ عَلَى الدَّربِوَصَلَ
Man saara ‘alad-darbi washal
“dan siapa yang melangkahkan kaki diatas jalan. Meskipun pelan atau lambat, asal terus  melangkah insya Allah kita akan mencapai tujuan”

Allaahu Akbar…

Dalam mensikapi program atau kerja atau target. Atau dalam mensikapi satu masalah yang muncul. Ada beberapa opsi atau beberapa sikap. Ada  yang bersikap seperti yang diceritakan dalam surat at-taubah. Yang belum apa-apa sudah memandang bahwa apa yang akan dijalani itu jauh dan berat. Diceritakan oleh Alqur’anul Kariim.

{لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًاوَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ } [التوبة: 42

Ada yang belum apa-apa, pikirannya adalah terlalu jauh, ini terlalu sulit. Padahal jauh dan sulit itu hanyalah perasaan saja. Karenanya ayatnya mengatakan : “wa laakin ba’udat ‘alaihim asy-syuqqah”. Kata  Allahu Yarham ust. Rahmat Abdullah, ayatnya mengatakan “ba’udat ‘alaihimus syuqqah” bukan “ba’udatisy-syuqqah ‘alaihim”. Kalau tadabbur beliau “ba’udatisy syuqqah ‘alaihim”  itu jauh secara waqi’iy dan realitanya jauh. Tapi kalau “ba’udat ‘alaihim asy-syuqqah” itu artinya jauh dan berat di perasaan saja. Yang pada hakikatnya tidaklah jauh dan tidaklah berat. Itu masalah pensikapan. Dan saya mengutip beliau lagi, kalau memang itu masalah pensikapan jiwa dan perasaan kita. Maka solusinya adalah apa yang Allah firmankan di surat albalad. Allah berfirman ;

{فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَاالْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ (13)} [البلد: 11 – 13

Rintangan yang dianggap jauh, rintangan yang dianggap berat itu sebenarnya perasaan saja. Perasaan kita, kondisi kejiwaan kita. Maka solusi qur’an terhadap masalah itu adalah  ‘aqabah yang biasa diartikan bukit.  Itu bukan di daki tapi ‘aqabah itu mesti ditabrak.

Oleh karena itu ikhwati fillah, perasaan-perasaan berat, sulit. Solusinhya adalah kita mesti tabrak itu bukit. Allaahu Akbar…

Makanya ayatnya mengatakan, “Falaqtahamal ‘aqabah”, demi Allah hendaklah manusia itu menabrak aqabah tersebut. Lalu Allah jelaskan bahwa perasaan  yang berat yang mesti ditabrak itu, yang paling utama adalah berkenaan dengan masalah kesiapan kita untuk berkorban dan untuk berjuang. Terutama adalah at-tadlhiyyah bil maal. Karenanya lanjutannya adalah “fakku raqabah aw ith’aamun fii yaumin dzii masghabah. Yatiiman dzaa maqrabah aw miskinan dzaa matrabah”.

Ikhwati wal akhwati fillah,
Itu satu sikap kejiwaan, mensikapi tanggung jawab atau mas-uliyah yang kita lakukan.

Ada sikap lain yang diungkapkan oleh pribahasa arab juga. Begitu dia sadar bahwa tanggung jawab atau mas-uliyahnya besar. Tapi ada yang keliru dalam mensikapi. Dia ingin segera selesai dari tanggung jawab itu. Ingin cepat-cepat menyelesaikan apa  yang menjadi tanggung jawabnya. Maka yang dia lakukan adalah  Dia memacu kendaraan atau fasilitas atau daya dukung yang dia miliki diluar kemampuan yang dimiliki. Tapi akibatnya:

فَإِنَّ مُنْبَثًّا لَا عَرْضًا قَطَعَوَ لَا ظَهْرًا عَبْقَى

Bahwa orang yang memaksa-maksakan diri. Ceritanya adalah seseorang menempuh  perjalanan jauh. Melewati padang pasir, menunggang seekor kuda. Karena dia ingin segera sampai dan ingin segera istirahat. Maka kuda itu dipacu diluar sampai batas maksimal. Bahkan diluar kemampuan kuda tersebut. Akhirnya di tengah jalan kudanya mati,  dia pun tidak lama lagi mungkin juga akan menyusul mati. “laa ‘ardhan qatha’a”. jarak tempuh yang hendak dilalui  itu tidak sampai. “walaa zhahran ‘abqaa” dan kendaraannya pun mati.  Itu sikap yang tidak tepat.  Sikap terburu-buru, memaksakan diri, dalam arti melampaui batas yang mungkin kita bisa lakukan.

Tetapi sikap yang benar adalah “wa man saara ‘aladdarbi washola”.  Apa yang menjadi mas-uliyah kita , kita jalanin saja. Sedikit demi sedikit, pelan tetapi pasti dan tidak pernah berhenti. Jadi  terus melangkah, terus berjalan. Manakala kita jalan, In syaa Allaah  man saara ‘alad darbi washala”.

Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah.

Dalam masalah ini “lanaa fi rasulillaahi shallaahu ‘alaihi wasallam uswatun hasanah”. Kita mempunyai uswah atau keteladanan dari Rasul kita Muhammad saw sebagaimana difirmankan dalam surat al ahzab ayat 21-22. Dan ayat 21-22 yang biasa kita pakai untuk menjelaskan bahwa Rasulullah teladan kita. Oleh Allah SWT aspek keteladanan Rasulullah saw, cerita ayatnya ditempatkan di tengah-tengah suasana perang ahzaab.  Bahwa seakan-akan makna spesifiknya adalah saat kaum muslimin ketika menghadapi situasi atau kondisi yang  seperti perang ahzab. Maka teladan yang baik dalam mensikapi itu adalah Rasulullah saw. Meskipun ayat tersebut berlaku untuk segala bentuk sisi-sisi keteladanan Rasulullah saw. Tapi penempatannya di tengah-tengah cerita perang ahzab menggambarkan bahwa khususnya  saat kita menghadapi situasi dan kondisi seperti yang terjadi di dalam ahzab tsb.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيرَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌلِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَوَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا} [الأحزاب: 21

Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allah swt.
Alqur’anul karim saat bercerita tentang ahzab ini. Menggambarkan bahwa sikap yang di capture oleh Allah SWT itu ada berbagai macam. Ada yang digambarkan oleh Allah SWT dengan istilah almunafiqun walladziina fii qulubihim maradh. Saat terjadi berita tentang ahzab ini ternyata ada kelompok yang oleh ayat ini disebut dengan istilah “almunaafiquuna walladziina fii quluubihim maradh”.  Allah berfirman :

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَااللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا} [الأحزاب: 12

Orang munafik itu berkata bahwa semua yang dijanjikan oleh Allah SWT. Semua yang dijanjikan oleh Rasulullah saw. Itu hanyalah tipuan belaka.

Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan  Allah SWT.

Yang perlu kita bangun ditengah suasana seperti sekarang ini adalah bahwa masa depan itu adalah untuk Islam, almustaqbal li haadzad diin. Allaahu Akbar…

Sebagaimana pernah ditulis oleh Sayyid Qutbh rahimahullah. Atau “Al Islam wal mustaqbalul basyariyah”, islam dan masa depan umat manusia.  Sebagaimana pernah ditulis oleh Abdullah Azzam rahimahullah. Atau yang ditulis oleh DR. Yusuf Qardhawi dalam bukunya “Mubasysyiraat bi intishaaril Islaam”. Bahwa masa-masa yang akan datang adalah semuanya memberi berita gembira tentang kemenangan Islam. Oleh karena itu spirit istibsyaar, merasa mendapatkan berita gembira bahwa kita akan menghadapi intishaaril Islaam di masa yang akan datang itulah yang harus kita bangun pada diri kita sekarang ini. Jangan menjadi seperti almunaafiquun dan alladziina fii quluubihim maradh. Yang mengatakan “Maa wa’adanallaahu wa rasuuluhu illaa ghuruuraa”.

Sirah menceritakan bahwa menjelang perang ahzab terjadi saat kaum muslimin menggali parit. Ada bagian dari parit itu berupa batu besar yang tidak bisa digali. Dan kalau itu tidak digali artinya menjadi titik lemah pertahanan kaum muslimin.  Singkat cerita akhirnya
Rasulullah  sendiri turun tangan dan memukul batu besar itu dan saat batu tersebut dipukul keluar cahaya. Dan Rasulullah kemudian bersabda “futihat kunuzusy Syaam. Futihat kunuuzul kisra”. Bahwa kunuuz, gudang-gudang kekayaan, materi yang ada di syam dan yang ada di Persia telah dibuka oleh Allah SWT untuk diberikan kepada kaum muslimin. Allaahu Akbar…

Tetapi setelah perang benar-benar terjadi, orang-orang yang disebut al-munafiqun dan alladziina fii quluubihim maradh. Karena perangnya sangat dahsyat meskipun tidak terjadi adu fisik. Tapi sangat melelahkan, karena dikepung. Pada waktu itu belum turun syariat shalat khauf, sehingga kaum muslimin tidak sempat shalat zhuhur pada waktunya, tidak sempat shalat ashar di waktunya dan tidak sempat shalat maghrib di waktunya.  Dan shalat zhuhur, ashar, maghrib , isya baru dilaksanakan sekaligus pada waktu isya.  Waktu itu belum ada shalat khauf.

Situasi yang sulit ini direspon oleh ayat itu. Yang disebut almunaafiquun walladziina fii quluubihim maradh. Mereka mengatakan, “boro-boro kita mendapatkan kunuuzusy-syaam. Boro-boro kita mendapatkan kunuuzul kisra. Mau kencing saja kita tidak sempat”. Memang orang-orang al-munafiquun walladziina fii quluubihim maradh urusannya adalah urusan makan dan keluar setelah makan.  Dan itulah yang digambarkan dengan istilah, “maa wa’adallahu wa rasuuluhu illaa ghuruuraa”.

Tetapi sebagai kebalikan sikap ini digambarkan di ayat 22 adalah :

{وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَقَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَااللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَازَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا} [الأحزاب: 22

Tetapi bagi orang-orang beriman. Kondisi yang sulit seperti itu justeru menjadi berita gembira.  Orang beriman logikanya sederhana. Memang sekarang kita berada di jam 3 misalnya masih siang. Tiga jam lagi nanti masuk waktu maghrib, mulai gelap. Setelah ditunggu bukan semakin terang, semakin gelap. Karena memasuki waktu isya. Dan semakin ditunggu bukan semakin terang, semakin bertambah gelap.  Dan semakin ditunggu wakatu itu semakin bertambah gelap. Tapi bagi orang beriman,  begitu waktu itu semakin gelap pertanda tidak lama lagi akan datang fajar.  Allaahu Akbar…

Mungkin kita kemarin merasa bahwa kita sudah berada di tempat yang gelap. Setelah kita bekerja, kita tunggu bukannya semakin terang tapi malah semakin gelap. Tapi kita terus bekerja lagi dan kita tunggu lagi. Bukannya semakin ringan tapi malah semakin gelap.  Kondisi seperti itu –ikhwati fillah- justeru bagi kita sebagai pejuang  dan aktivis harus semakin yakin bahwa justeru itulah janji Allah semakin dekat. Sebab “A laisa shubhu bi qarib”. Dan memang kalau malam-malam semakin gelap begitu, yang perlu kita ingat adalah  surat albaqarah ayat 187. Allah SWT berfirman:

{أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِالرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ} [البقرة: 187

Supaya tidak capek nunggunya.  Allaahu Akbar….

Maksudnya supaya jangan terlalu. “ini kok semakin gelap ditunggu”.

Ikhwan dan akhwat fillah yang dimuliakan Allah SWT.

Ada juga kelompok dalam situasi seperti ahzab itu yang oleh ayat disebut dengan istilah thaa-ifah dan fariiqun. Allah berfirman :

وَإِذْقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَلَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُواوَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّيَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌوَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْيُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا (13) وَلَوْدُخِلَتْ عَلَيْهِمْ مِنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّسُئِلُوا الْفِتْنَةَ لَآتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا بِهَاإِلَّا يَسِيرًا (14) وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللَّهَمِنْ قَبْلُ لَا يُوَلُّونَالْأَدْبَارَ وَكَانَ عَهْدُ اللَّهِمَسْئُولًا (15)  قُلْ لَنْ يَنْفَعَكُمُالْفِرَارُ إِنْ فَرَرْتُمْ مِنَالْمَوْتِ أَوِ الْقَتْلِ وَإِذًالَا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا (16) قُلْمَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْمِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَبِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَبِكُمْ رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْمِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّاوَلَا نَصِيرًا (17)} [الأحزاب: 13 – 17
Ikhwan dan akhwat fillah yang dimuliakan Allah SWT.

Jangan sampai kita masuk dalam kategori al munafiqun atau dalam kategori alladziina fii qulubihim maradh. Yang memahami situasi dan kondisi dengan pemahaman yang salah.  Lalu berkesimpulan salah, mengatakan “maa wa’adallahu wa rasuuluhu illaa ghuruuraa”. Tapi juga jangan sampai kita menjadi seperti yang digambarkan dengan istilah thaa-ifah dan yang digambarkan dengan istilah fariiqun ini. Bagaimana itu? Begitu suasana ahzab itu semakin mencekam, semakin mengerikan dan semakin menakutkan. Sebagian dari mereka itu (dari kaum muslimin maksudnya) ada yang mulai mencari-cari cara untuk bisa menghindar dari tanggung jawab dan tugas. Digambarkan :

{وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْيَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَامُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا} [الأحزاب: 13

Sia-sia saja kalian berada di tempat ini. Tidak ada gunanya berjuang, karena buang-buang waktu, buang-buang tenaga, buang-buang potensi.  Oleh karena itu “farji’uu”, kita pulang sajalah.  Nggak usah dilanjutkan perjuangan ini sampai selesai.

Jangan sampaai kita masuk seperti ini dan juga jangan sampai masuk seperti yang digambarkan:

{وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّيَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌوَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ } [الأحزاب: 13

Yang mulai cari-cari alasan. “afwan urusan saya ini, apakah pekerjaan saya atau urusan rumah tangga saya, atau urusan karir saya menuntut perhatian khusus. Menuntut ihtimam khaash. Oleh karena itu  saya minta izin sekarang untuk pulang dulu”.

Padahal ;
{وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْيُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا} [الأحزاب: 13

Jangan sampai kita masuk di situ. Ikhwati fillaah… Allaahu Akbar…

Kenapa? Karena

{وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللَّهَمِنْ قَبْلُ} [الأحزاب: 15

Kita sudah bermu’ahadah dan berbaiat untuk terus berjuang. Dan komitmen kita adalah fil mansyath wal makrah. Mansyath artinya saat situasinya enak, bendahara kasnya juga tebal, citra kita juga bagus. Kita bershilaturahim semuanya menyambut “ahlan wa sahlan”. Bahkan ada yang menyambutnya seperti syaikha madyan. Saat Nabi Musa mengatakan, “innii uriidu an unkiha ihda ibnatai”. Itu kalau lagi mansyath oke. Tapi komitmen kita, mua’ahadah kita adalah fil makrah. Saat suasananya sangat tidak mendukung, saat tidak menyenangkan. Citra lagi terpuruk, kita bolak-balik datang ke bendahara. Kata bendahara, “Maa laisy, in syaa Allaah ghadan”. Jawabannya selalu “maa lays”. Itu makrah.  Juga sambutan tidak menyenangkan kalau kita datang. Tapi komitmen kita adalah kita tetap harus bekerja dan berjuang fil mansyath wal makrah.  Allaahu Akbar…

Bahkan dalam riwayat sirahnya itu ada tambahan kata-kata lagi. Yang dikita ini ma’mum walaupun tidak disebutkan yaitu wa fii aatsaratin ‘alainaa.  Dan termasuk kita tetap harus berjuang meskipun perjuangan itu menuntut dan mengorbankan hak-hak pribadi kita, hak-hak personal kita. Oleh karena itu jita tetap lanjutkan komitmen ini. Dan jangan sampai masuk kategori yang disinggung oleh Allah SWT dengan istilah ;

وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّيَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌوَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْيُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا} [الأحزاب: 13

Ikhwati fillah
Juga jangan sampai dalam keadaan dan situasi yang seperti sekarang ini. Kita masuk kepada apa yang  disinggung Allah SWT dalam surat al ahzab ayat 18. Yang Allah berfirman;

 قَدْيَعْلَمُ اللَّهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنْكُمْوَالْقَائِلِينَ لِإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا وَلَايَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا (18) أَشِحَّةًعَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُرَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِييُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَاذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَىالْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَاللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَىاللَّهِ يَسِيرًا (19)} [الأحزاب: 18، 19
Jangan sampai kita termasuk al mu’awwiquun. Almu’awwiquun ini, mohon maaf kalau saya menggunakan istilah jawa. saya merasa terjemahan jawa paling pas mewakili perasaan saya. Almu’awwiquun itu artinya tukang cerimpungi. Mu’awwiquun itu menggambarkan bahwa dalam suasana seperti ahzab itu masih banyak yang bekerja, terus bekerja. Dan bekerja itu pasti menggerakkan kakinya. Ada orang yang tidak bekerja dalam arti berbuat tapi kerjanya adalah  nyerimpung. Nyerimpung itu dua kaki, memasukkan kakinya diantara dua kaki. Sehingga saat berjalan, yang bekerja jatuh. Itu namanya nyerimpung, bahasa indonesianya saya tidak tahu. Allaahu Akbar…

Ikhwati-akhwati fillah,
Dalam suasana seperti sekarang ini begitu. Mungkin muncul sifat-sifat seperti itu, -na’udzubillahi min dzaalik-. Saat kita mendorong para kader ikhwan-akhwat bekerja, muncul orang-orang yang kerjanya menyerimpungi yang bekerja itu. Supaya yang bekerja itu jatuh, Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.  Jadi jangan sampai kita masuk ke dalam itu. Dan    Allah mengancam mereka yang mu’awwiquun. Allah SWT berfirman ;

قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنْكُمْ

Meskipun “qad” disini masuk fi’il mudhari’ tapi maknanya tetap fi’il maadhi.

Sungguh Allah telah mengetahui mereka-mereka yang masuk kategori al-mu’awwiquun. Dan juga masuk kategori :

وَالْقَائِلِينَ لِإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا وَلَايَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا

Oleh karena itu ikhwati-akhwati fillah. Justeru ketika kita melihat saudara kita bekerja, kita memberikan support dorongan agar semakin meningkatkan kerjanya. Jangan justeru malah nyerimpungi tadi. Nah, setelah Allah SWT menceritakan tentang perilaku yang tidak tepat ketika menghadapi keadaan seperti al ahzab itu. Lagi-lagi saya mengawali di bagian awal tadi, mengulang. Sikap yang benar adalah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW  dan juga orang-orang beriman.

لَقَدْكَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِاللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُواللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21) وَلَمَّارَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَاوَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَاللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّاإِيمَانًا وَتَسْلِيمًا (22) } [الأحزاب: 21، 22
Saat kaum muslimin mendengar informasi bahwa telah terjadi pembentukan pasukan koalisi untuk menyerang madinah. Jumlah pasukan koalisi itu sendiri, seandainya mereka berhasil memasuki kota madinah, niscaya tidak akan menyisakan apapun di Madinah. Karena sepuluh ribu itu lebih besar dari total seluruh penduduk madinah. Termasuk perempuan dan anak-anak.  Bisa dibayangkan begitu mendengar berita seperti ini. Waktunya sangat mendesak dan mepet. Tetapi dengan prinsip “wa man saara ‘alad darbi washal” tadi. Rasulullah kemudian  melakukan musyawarah. Dalam musyawarah itu disepakati bahwa cara bertahan yang baik adalah dengan menggali parit di posisi yang kemungkinan besar disitu musuh akan menyerang. Nah, kebetulan secara topografi, madinah itu sebelah barat dan timur itu terdiri dari perbukitan yang tidak mungkin dilalui. Perbukitan yang sangat terjal tidak mungkin dilalui oleh pasukan.  Yang disebut dengan istilah alharratan. Harrah itu artinya batu yang tebingnya sangat tinggi, terjal dan sulit dipanjat atau sulit diterjuni. Itu ada dua.

Kemudian di bagian selatan itu adalah kebun-kebun korma yang sangat rapat dan perkampungan orang-orang yahudi. Karena kebun korma sangat rapat banyak pohon, musuh kemungkinan besar tidak masuk lewat situ. Karena mereka akan takut, dibalik setiap pohon itu ada pasukan yang siap menanti mereka. Yang sisanya terbuka adalah bagian utara. Bagian utara terbuka dan disitulah berdasarkan hasil musyawarah akhirnya dibuat parit. Kaum muslimin dibagi-bagi tugas. Setiap sepuluh orang diperintahkan untuk  menggali parit sepanjang 40 dziraa’ atau 40 hasta.  Waktu musim dingin, waktu itu juga musim paceklik, tidak banyak makanan. Tetapi situasi dan kondisi seperti itu harus terus dihadapi dengan penuh ketabahan, dijalani,  mereka tetap menggali dari pagi hingga sore dalam keadaan tidak mendapatkan makanan dan dalam keadaan udara yang sangat dingin.  Dan mereka terus menggali sehingga sebelum musih benar-benar tiba. Penggalian parit itu telah benar-benar selesai. Dan karena pertahanan gaya parit itu tidak pernah dikenal oleh orang arab. Dan mereka juga tidak mendapatkan bocoran tentang hal itu. Begitu pasukan datang, mereka dikejutkan adanya parit dan tidak bisa berbuat apa-apa. Itulah gambaran dari mensikapi situasi dan kondisi. Jalani saja, lakoni saja, kerja terus, tidak pernah berhenti. Insya Allah wa bi idznillaah kalau kita tunjukkan kepada Allah kerja dan semangat kerja seperti ini. Maka Allah akan memberikan pertolongan kepada kita semuanya. Aamiin Ya Rabbal ‘aalamiin. Itu yang bisa saya sampaikan semoga ada manfaatnya.

Aquulu qauli hadzaa was taghfirullaha walakum

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Sumber : www.pkspiyungan.org

Menjadi Qiyadah Wal Jundiyah

Berarti menjadi ayah dalam kaitan ikatan hati…
Menjadi guru dalam mengajarkan ilmu yg bermanfaat…
Menjadi Syaikh yang berperan sebagai pengingat dalam kaitan penjagaan ruhani…
Bertindak sebagai pemimpin dalam mengendalikan kebijakan umum da’wah…
Sebagai seorang Qiyadah, berarti ia bagaikan kepala bagian tubuh. Ialah orang yang menjadi sentral segala komando, pusat kendali arahan umum da’wah, serta pengontrol segala capaian kerja…
Seorang qiyadah harus siap menjadi lambang persatuan, kekukuhan, kekuatan, dan kesolidan tim…
Predikat qiyadah tidak bisa diminta. Karena ini bukan pekerjaan main-main. Ia bukan urusan duniawi. Tapi, jauh kedepan ke arah sana. Seorang qiyadah akan berhadapan langsung di depan Mahkamah Allah kelak. Qiyadah, orang yang paling bertanggung jawab atas semua yang terjadi…

Continue reading Menjadi Qiyadah Wal Jundiyah

Fiqh Dakwah : Sebuah Catatan

Jangan Meninggalkan Amal
Jangan meninggalkan amal krn takut tdk ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik dari tdk beramal sama sekali
Jangan meninggalkan zikir krn ketidak hadiran hati. Kelalaian kita dari zikir lebih buruk daripada kelalaian kita saat berzikir
Jangan meninggalkan tilawah karna tak tau maknanya. Ketidaktauan makna dalam tilawah masih lebih baik daripada ketidak mauan membaca firman-Nya

Continue reading Fiqh Dakwah : Sebuah Catatan

Yang Harus Kita Lakukan di Hari-Hari Ini

 Assalaamu’alaikum wr wb
Alhamdulilah kita selalu dipertemukan dalam forum-forum seperti ini untuk merujuk kepada sumber-sumber asasi kita, Al Qur’an dan Assunnah, semoga kita selalu mendapatkan petunjuk.

Hari dan jam yang akan tentukan prestasi dakwah kita semakin dekat, hitung mundurnya semakin kecil. Di DPP ada banner hitung mundur sd 9 April 2014. Itu ibarat ajal yang telah ditentukan. Tempo yang telah disepakati.

Mumpung pasar masih buka, lewat tgl 9 April pasar sudah tutup, dagangan sudah tidak laku,  maka gunakan pasar ini sebaik-baiknya. Pasar  yang dimaksud adalah ladang perjuangan kita mumpung masih terbuka. Calon  pembeli masih ada. Barang yang kita jual  masih dilirik dan masih diperhatikan  orang. Jadi, kalau mau habis-habisan, waktunya sekarang ini. Jangan nanti kalau selesai tanggal 9 April. Kalau sudah lewat, hari pasaran nunggu 5 tahun lagi. Situasi ini harus difahami bahwa sekaranglah saatnya. Kita bicara partai, orang tidak akan bicara macam-macam. Kita mengkampanyekan diri, tidak dipandang aneh karena ini lagi pasarannya.

Yang harus kita persiapkan di hari pasaran ini ada 3 hal :

I. Di hari pasar ini yang harus dipastikan adalah isi hati kita

Bahwa yang mengisi hati ini adalah ikhlas lii’lai kalimatillah, ikhlas dalam menempuh dan meniti jalan Alloh SWT. Mari kita tata hati kita untuk konteks ini. Dan pastikan, inilah yang diketahui Alloh, meskipun  Alloh Maha Tahu. Maksudnya  kita lah yang memastikan itu, bahwa tak ada yang mengisi hati ini kecuali pujian untuk Alloh, untuk I’lai kalimatillah, perjuangan fi sabilillah, perjuangan untuk litakuuna kalimatullohi hiyal ulya.

Saat antum keluar rumah, mau apa? mau silaturahim cari suara, mau berkunjung ke saudara saya, teman saya, posisikan bahwa  ini adalah bagian dari cara kita menerjemahkan  proses menuju i’lai kalimatillah. Kenapa  harus begitu? Kita akan gagah memperjuangan apa yang mesti diperjuangkan di jalan Alloh ini, kalimatulloh ini, manakala kita punya keyakinan bahwa ada sekian banyak suara aspirasi yang kita perjuangkan. Kalau di belakang kita sedikit, mereka akan mengatakan dengan bahasa seperti bahasa Fir’aun, Innahu lasyirzhimatun qoliiluun… (Itu kan suara di pojok-pojok sana. Suara-suara pinggiran yang tidak perlu diperhatikan.)

Maka dari itu mari kita tata hati bahwa yang kita lakukan adalah dalam rangka I’laai kalimatillah.

Disamping tentang menata hati sedemikian rupa, Alloh SWT kaitkan isi hati  ini dengan banyak hal.

Dalam QS Maryam 96, Allah kaitkan isi hati ini, keikhlasan ini dengan respon dan sambutan publik.

Innalladziina aamanuu wa’amilushsholihaati sayaj’aluhumurrahmaanu wudda…

Dijadikan cinta kasih di antara hamba-hamba Alloh. Manakala hati kita baik, maqbul ‘indalloh, maka Alloh akan panggil Jibril, ”Wahai Jibril sesungguhnya Aku mencintai Fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril pun mencintai dia, dan Jibril membuat pengumuman di langit, bahwa Alloh mencintai fulan, maka cintailah dia. Dan penduduk langit pun mencintai dia.” Kalau Alloh sudah mencintai dia, Jibril dan penduduk langit juga mencintai dia,maka orang itu di bumi ini di mana-mana diterima, direspon dan disambut.  Yudhou lahu qobuulu fil ardh.

Mungkin orang memilih kita walaupun kita banyak catatan, karena mesakke, kasihan. Tidak penting bagi kita, kita dipilih karena dicintai atau karena mesakke. Yang penting adalah dipilih. Yang bisa mengatur hati adalah Alloh. Karena itu sekali lagi, pertama kali di hari pasaran ini, yang CAD, yang AD, yang kader, yang simpatisan,  masing-masing kita menata hati, semua dalam rangka I’lai kalimatillah, fii sabilillah, litakuuna kalimatullohi hiyal ulya. Mungkin yang datang kepada mereka banyak, tapi yang penting adalah bagaimana Alloh mengatur hati orang untuk memastikan pilihannya kepada kita. Itu rahasiamya ada pada hati.

Dalam QS Al Anfal 70, Alloh mengaitkan kebersihan hati itu dengan 2 hal : pengganti yang lebih baik dan pengampunan dari Alloh SWT.

Yaa ayyuhanabiyyu qul liman fii aidiikum minal asro…….

Di hari perjuangan seperti  ini banyak yang hilang dari kita. Sama-sama hilang, maka kita tata bahwa hilangnya itu dengan kebersihan hati. Misal, pas ada keinginan untuk beli ini-itu, namun uangnya kita gunakan untuk menyumbang biaya pemilu. Mungkin waktu kita yang hilang, mungkin juga kesempatan-kesempatan kita yang hilang, karena digunakan untuk perjuangan itu.

Tapi manakala  in ya’lamillahu fii qulubikum khoiro….. jika Alloh tahu di dalam hati kita itu kebaikan yang ada, maka Alloh akan mengganti semua yang hilang itu dengan yang lebih baik. Tidak disebutkan apa gantinya itu. Asas iman itu adalah iman bil ghoib. Kalau tak iman dengan yang ghoib, hilanglah iman itu. Yang penting adalah  iman. Apa yang lebih baik itu, wallohu a’lam.

Ayat ini turun berkaitan dengan Al Abbas bin Abdul Muthallib, paman Rasululloh SAW, yang sebenarnya muslim, tetapi dapat tugas khusus untuk tetap berada di kalangan kafir quraisy di Makkah, sebagai informan. Saat perang Badar, beliau terpaksa ikut rombongan orang kafir memerangi kaum muslim. Repotnya, yang tahu tugas khusus beliau sangat sedikit. Alhamdulillah, Abbas tidak terbunuh, hanya tertawan. Sampai keluar keputusan bahwa setiap tawanan kalau mau bebas, harus bayar tebusan. Abbas datang kepada Rasul, “Bukankan saya muslim, apakah bayar tebusan juga?”  Namun Rasul menjawab dengan jawaban standar : “Engkau kan tawanan, kalau ingin bebas, bayarlah tebusan.”

Abbas berkata, hartaku telah habis. (Rasul SAW tidak memberikan dana operasional untuk tugas khususnya di Makkah). Namun Rasul menyampaikan, “Bukankah sebelum perang Badar engkau menemui seorang wanita dengan rahasia di Makkah, dan menitipkan hartamu kepadanya, apabila engkau mati dalam perang, harta itu untuk diberikan kepada keturunanmu? Dan kalau masih hidup akan kau ambil lagi?”

Bisa dibayangkan, betapa berat perasaan Abbas. Bahkan yang rahasia pun telah dibuka oleh Alloh, hingga tak punya apa-apa lagi. Habis semua. Maka sebagai hiburan, Alloh SWT menurunkan Al Anfal ayat 90 ini. Allah akan mengganti kalau dia ikhlas dengan sesuatu yang lebih baik, dan akan diampuni. Maka Abbas pun percaya, iman bil ghoib, dan tidak bertanya-tanya lagi.

Di hari tuanya, Al Abbas ini menjadi sangat kaya. Milyuner. Ia berkata kepada generasi berikutnya, “Saya yakin, ini adalah wujud janji Alloh yang pertama. Dan saya masih menunggu janji yang kedua, yaitu ampunan.”

Suka atau tidak suka, banyak yang hilang dalam perjuangan ini. Tapi yang penting, hilangnya itu by design, bukan accident, dan ikhlas agar ada ganti yang lebih baik.

Dalam Al Fath 18

Alloh kaitkan masalah hati ini dengan sakinah, kemenangan, dan ghonimah.

Laqod rodhiyallohu ‘amil mu’miniina….

Berdasarkan apa yang Alloh tahu itu, maka Alloh berikan 3 hal:

(1) Faanzalahuu sakinatan, turun ketenangan, ketentraman

Sakinah ada hubunganya dengan kata sikkin, pisau. Lihatlah ayam jago, yang ke mana-mana. Kalau sudah ketemu pisau, maka dia sakinah. Dimakan pun diam saja..

Contoh lain tentang sakinah, Waktu perang Hunain, 12 ribu pasukan muslimin melawan 4000 kafir hawazin. Saat melewati jalan yang sempit di antara dua bukit, tiba-tiba kaum muslimin dihujani panah, maka tercerai berai dan berlarian ke sana kemari. 12 ribu yang tadinya simbol keunggulan, maka di jalan sempit itu justru jadi masalah. Wa dhooqot ‘alaikumul ardhu bimaa rokhubat…   Tsumma anzalalloohu sakiinatahu ala rosuulihi wa ‘alal mukminin ( QS 9 : 25-26)…. Setelah sakinah turun, seakan-akan tak ingat lagi ada hujan panah saking tenangnya. Bahkan dalam siroh diceritakan, kuda-kuda pada lari menjauh dan susah digerakkan, setelah sakinah turun maka bisa diarahkan lagi, dan mereka turun dari kuda di jalan sempit itu, jalan kaki menyambut panggilan Rasululloh SAW.

Kalau tak ada sakinah, kita gampang panik.

Lihat baliho kompetitor saja panik… padahal Alloh yang atur siapa yang akan dipilih. Datang di satu tempat, keduluan orang lain, tak usah panik. Mereka punya harapan dari kedatangannya itu, namun kita pun berharap kepada Alloh.

Sakinah juga berkaitan dengan litaskunu ilaiha antara suami istri.

Tapi jangan terlalu sakinah, jadinya malah sukun, kebalikan dari harokat,  mati, diam.

(2) wa atsaabahu fathan qoriibaa, Alloh mengganjar mereka dengan kemenangan yang dekat.

(3) wamaghonima katsiirotan, bukan ghonimah biasa, namun ghonimah yang sangat banyak !

Lagi-lagi dikaitkan dengan kondisi hati. Karenanya yang perlu ditata pertama adalah masalah hati.

***

II. Mari mentadabburi As Sajdah 17, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi

Falaa ta’lamu nafsun maa ukhfiya lahum min qurroti a’yun

“Maka tidak seorangpun mengetahui apa yang disebunyikan untuk mereka yaitu ( bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan”

Pasti jiwa akan tahu, apa yang dirahasiakan dari mereka, segala  hal yang membuat jiwa  senang.

Dalam konteks kita, apa yang akan menyenangkan kita:

-semua kader bekerja, semua terlibat pemenangan. Itu menyenangkan. Akhirnya  dapat suara banyak, itu menyenangkan. Target kursi terpenuhi, itu menyenangkan.

Tapi semua  yang menyenangkan ini dikaitkan dengan jazaan bimaa kanuu ya’maluun. Sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan. Kita berkesempatan mendapat maa ukhfiya lahu, asalkan mau bekerja. Apalagi slogan kita: cinta kerja harmoni.

Rasul SAW bersabda,

“jika kiamat datang dan ada benih di tanganmu, dan masih ada kemampuan  untuk menanam, maka tanamlah, karena pada menanam itu ada pahala”

Andai antum tahu dan yakin jika jam 1 siang akan mati, dan jam 12 antum dapat tugas menanam kelapa, bagaimana?  Untuk apa? Sudah mau mati. Menunggu panen butuh bertahun-tahun. Tapi Rasul ajarkan, ini bahkan kiamat, yang tak ada hari lagi untuk menunggu hasil panen. Sudah sampai pada hari yang kholidiina fihaa… tapi diajarkan, tanam saja, karena dalam menanam itu ada pahala.

Maka kita pun bekerja apakah jadi suara apa tidak, entahlah, serahkan saja pada Alloh.

Rasul SAW pun memberi contoh : Rasululloh SAW punya tetangga seorang Yahudi. Dan anak si yahudi sering bermain bersama anak-anak muslim. Ternyata anak-anak pun tak luput dari perhatian Rasululloh SAW. Suatu ketika, si anak Yahudi tidak terlihat di antara anak-anak muslim. Maka Rasul SAW bertanya kepada anak-anak, dimana dia. Teman-temannya bilang, si anak Yahudi sedang sakit keras dan mungkin akan meninggal. Rasul pun menanggapi dengan serius. Rasul SAW terlihat panik dan tegang, lalu mengajak beberapa shahabat untuk menjenguk. Beliau dapati si anak sedang sakaratul maut. Maka beliau mentalqin, membaca 2 kalimat syahadat. Andai Rasul SAW politisi murni, pasti tak mau melakukan itu. Ini anak belum nyoblos. Kalaupun nyoblos, bahkan sudah mau mati.

Si anak menengok ke arah bapaknya. Mungkin bapaknya mikir juga, anaknya sedang jadi target dua kalimat syahadat, padahal sudah mau mati. Ini pasti Muhammad tidak sedang sekedar cari pengikut. Si bapak juga tidak menemukan tafsir materi. Pasti Muhammad menginginkan kebaikan untuk anaknya. Maka si bapak bilang, “Turuti saja Abul Qosim (Muhammad)”.  Si yahudi tak mau menyebut nama Muhammad, karena berarti dia mengakui kenabian Muhammad sebagaimana yang namanya  disebutkan dalam kitab suci mereka. Maka sang anak mengucap syahadat kemudian meninggal. Rasul SAW tampak  gembira dan bersabda “Segala puji bagi Alloh yang telah menyelamatkan anak ini dari neraka”.

Jadi, kerja saja lah. Komunikasi, datangi, semoga dengan kerja ini, dengan spiritJazaa’an bimaa kanuu ya’maluun, insyaalloh Alloh akan berikan janjinya, memberikan qurrota a’yun, dengan syarat, kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja.

***

III. QS Al Baqoroh ayat 249-252

Falamma fashola thooluutu bil junudi…

Dari cerita Thalut ini, salah satu ujian dalam perjuangan adalah kita dihadapkan pada kekuatan lawan. Pasukan Thalut dihadapkan pada fakta bahwa kekuatan jalut dahsyat dan luar biasa. Orangnya gedhe-gedhe. Dalam cerita Israiliyat dikatakan saking gedhenya, ketika 12 orang mata-mata Israel tertangkap, mereka disuruh berjalan di lengan orang-orang nya Jalut. Ini cerita Israeliyat tidak untuk diimani, terkadang isinya aneh-aneh. Seperti cerita asal usul kucing versi israeliyat…

Yang mentalnya lemah, daya juangnya lemah akan berkata laa thoqotalana…. Kita juga begitu. Jumlah kita sedikit, uang sedikit, stiker sedikit, kalender kecil-kecil. Kenyataan bahwa lawan lebih hebat itulah ujian. Yang bisa membuat kita tegak adalah manakala kita punya stok ma’nawi yang kuat. Alloh yang atur semuanya. Maka kalkulasi kita jangan pada hebatnya musuh. Yang penting kerja, hasil terserah Alloh.

Coba bayangkan, apa hebatnya Maryam, saat diminta untuk menggoyang pohon kurma, apalagi hingga kurma berjatuhan. Seberapa  kuatkah… wa huzzii ilaiki bijidz’innakhlati tusaaqith alaiki ruthoban janiyya.. (QS 19 : 25).  Alloh bermaksud memberikan makanan yang tepat berupa ruthob, tapi untuk itu perlu usaha, berusaha menggoyang pohon. Pohonnya goyang apa tidak, itu tidak penting. Alloh lah yang menjatuhkan kurmanya. Yang penting digoyang saja.

Dalam melihat situasi begini, 3 hal yang perlu kita pastikan, sebagaimana saat pasukan Thalut melihat pasukan jalut: Kita berdoa kepada Alloh :

Robbanaa afrigh ‘alainaa shobron

Mohon  agar Alloh SWT memberikan, bahkan menumpahkan kesabaran kepada kita. Bahkan kalau kita ingin mendapatkan al falah (kemenangan), di akhir surat ali Imron disebutkan, bukan cuma shabar, tapi perlu mushabarah. Menurut tafsir Al Maududi,mushabarah artinya punya kesabaran yang mengungguli dan melebihi kesabaran para kompetitor. Kita minta kesabaran itu agar la’allakum tuflihun (diberi kemenangan).

Malam-malam mereka sosialisasi, pasang spanduk, dll itu kesabaran mereka. Kita perlu punya kesabaran yang lebih. Bahkan dikatakan oleh Al Maududi, jika kalian tak punya kesabaran 105% jangan harap mendapat kemenangan, kalau mereka punya 100%. Dalam berbagai hal kita kalah, kalau tak ditutup dengan daya juang tinggi yang lebih dari mereka, kita tak akan menang.

Itulah yang diminta oleh pasukan Thalut. Dalam bahasa lain, afrigh ‘alaina shobron : karuniai kami  konsistensi untuk terus bekerja.

Jangan berhenti, kendor dan nglokro.

Watsabbit aqdaamanaa

Kita harus bertahan dengan eksistensi kita. Tunjukkan kita masih ada. Jangan gara-gara yang lain begitu gegap gempita mengkampanyekan partai dan diri mereka, justru kita ngilang. Tunjukkan nahnu maujud. Kita masih ada, tidak ngilang, tidak sembunyi.

Wanshurnaa ….

Kita tetep melanjutkan upaya ekspansi kita

Manakala ini dipenuhi, dan itu yang kita mintakan kepada Alloh, maka fahazamuuhum biidznillah, bahkan waqotala dawudu jaluta… Pasukan thalut yang kecil mengalahkan tentara Jalut yang besar. Kata israiliyat, Jalut mati kena ketapel. Raksasa itu mati karena ketapel.

Mungkin tak seberapa yang kita berikan, tapi jadi suara. Di perang Badar, falam taqtuluuhum…..Tugas Rasul dan para shahabat adalah melempar. Rasul SAW begitu diserbu oleh kaum musyrikin,  Rasul SAW mengambil pasir dan dilempar ke arah mereka. Yang menjadikan pasir itu kena matanya musyrikin adalah Allah. Wamaa romaita idz romaita  walaakinnalloha romaa… Kena pasir seember di tubuh kita tidak apa-apa. Tapi kalau yang kena mata, 3 butir pun sudah menyakiti.

Jadi kita terus bekerja, datangi mereka, jelaskan ke mereka, ajak mereka. Jadi suara atau tidak, adalah Allah yang tentukan.

Intinya, teruslah bekerja. Kata hati kita, manakala Alloh tahu kita berhak  untuk menang, maka apapun yang kita lakukan, maka itu akan mentes dan diterima oleh masyarakat.

*Disampaikan Ust Musyaffa AR (Ketua Kaderisasi DPP PKS) dalam Election UpdatePKS DIY (Ahad, 15 Desember 2013) 

Catatan Hati Habib Munzir Almusawwa

Saudaraku yg kumuliakan,
saya adalah seorang anak yg sangat dimanja oleh ayah saya, ayah saya selalu memanjakan saya lebih dari anaknya yg lain, namun dimasa baligh, justru saya yg putus sekolah, semua kakak saya wisuda, ayah bunda saya bangga pada mereka, dan kecewa pada saya, karena saya malas sekolah, saya lebih senang hadir majelis maulid Almarhum Al Arif billah Alhabib Umar bin Hud Alalttas, dan Majelis taklim kamis sore di empang bogor, masa itu yg mengajar adalah Al Marhum Al Allamah Alhabib Husein bin Abdullah bin Muhsin Alattas dg kajian Fathul Baari.



sisa hari hari saya adalah bershalawat 1000 siang 1000 malam, zikir beribu kali, dan puasa nabi daud as, dan shalat malam berjam jam, saya pengangguran, dan sangat membuat ayah bunda malu.

ayah saya 10 tahun belajar dan tinggal di Makkah, guru beliau adalah Almarhum Al Allamah Alhabib Alwi Al Malikiy, ayah dari Al Marhum Al Allamah Assayyid Muhammad bin Alwi Al Malikiy, ayah saya juga sekolah di Amerika serikat, dan mengambil gelar sarjana di New york university.

almarhum ayah sangat malu, beliau mumpuni dalam agama dan mumpuni dalam kesuksesan dunia, beliau berkata pada saya : kau ini mau jadi apa?, jika mau agama maka belajarlah dan tuntutlah ilmu sampai keluar negeri, jika ingin mendalami ilmu dunia maka tuntutlah sampai keluar negeri, namun saranku tuntutlah ilmu agama, aku sudah mendalami keduanya, dan aku tak menemukan keberuntungan apa apa dari kebanggaan orang yg sangat menyanjung negeri barat, walau aku sudah lulusan New York University, tetap aku tidak bisa sukses di dunia kecuali dg kelicikan, saling sikut dalam kerakusan jabatan, dan aku menghindari itu.

maka ayahanda almarhum hidup dalam kesederhanaan di cipanas, cianjur, Puncak. Jawa barat, beliau lebih senang menyendiri dari ibukota, membesarkan anak anaknya, mengajari anak2nya mengaji, ratib, dan shalat berjamaah.

namun saya sangat mengecewakan ayah bunda karena boleh dikatakan : dunia tidak akhiratpun tidak.

namun saya sangat mencintai Rasul saw, menangis merindukan Rasul saw, dan sering dikunjungi Rasul saw dalam mimpi, Rasul saw selalu menghibur saya jika saya sedih, suatu waktu saya mimpi bersimpuh dan memeluk lutut beliau saw, dan berkata wahai Rasulullah saw aku rindu padamu, jangan tinggalkan aku lagi, butakan mataku ini asal bisa jumpa dg mu.., ataukan matikan aku sekarang, aku tersiksa di dunia ini,,, Rasul saw menepuk bahu saya dan berkata : munzir, tenanglah, sebelum usiamu mencapai 40 tahun kau sudah jumpa dg ku.., maka saya terbangun..

akhirnya karena ayah pensiun, maka ibunda membangun losmen kecil didepan rumah berupa 5 kamar saja, disewakan pada orang yg baik baik, untuk biaya nafkah, dan saya adalah pelayan losmen ibunda saya.

setiap malam saya jarang tidur, duduk termenung dikursi penerimaan tamu yg cuma meja kecil dan kursi kecil mirip pos satpam, sambil menanti tamu, sambil tafakkur, merenung, melamun, berdzikir, menangis dan shalat malam demikian malam malam saya lewati,

siang hari saya puasa nabi daud as, dan terus dilanda sakit asma yg parah, maka itu semakin membuat ayah bunda kecewa, berkata ibunda saya : kalau kata orang, jika banyak anak, mesti ada satu yg gagal, ibu tak mau percaya pada ucapan itu, tapi apakah ucapan itu kebenaran?.

saya terus menjadi pelayan di losmen itu, menerima tamu, memasang seprei, menyapu kamar, membersihkan toilet, membawakan makanan dan minuman pesanan tamu, berupa teh, kopi, air putih, atau nasi goreng buatan ibunda jika dipesan tamu.

sampai semua kakak saya lulus sarjana, saya kemudian tergugah untuk mondok, maka saya pesantren di Hb Umar bin Abdurrahman Assegaf di Bukit duri jakarta selatan, namun hanya dua bulan saja, saya tidak betah dan sakit sakitan karena asma terus kambuh, maka saya pulang.

ayah makin malu, bunda makin sedih, lalu saya prifat saja kursus bahasa arab di kursus bahasa arab assalafi, pimpinan Almarhum Hb Bagir Alattas, ayahanda dari hb Hud alattas yg kini sering hadir di majelis kita di almunawar.

saya harus pulang pergi jakarta cipanas yg saat itu ditempuh dalam 2-3 jam, dg ongkos sendiri, demikian setiap dua kali seminggu, ongkos itu ya dari losmen tsb.

saya selalu hadir maulid di almarhum Al Arif Billah Alhabib Umar bin Hud alattas yg saat itu di cipayung, jika tak ada ongkos maka saya numpang truk dan sering hujan hujanan pula.

sering saya datang ke maulid beliau malam jumat dalam keadaan basah kuyup, dan saya diusir oleh pembantu dirumah beliau, karena karpet tebal dan mahal itu sangat bersih, tak pantas saya yg kotor dan basah menginjaknya, saya terpaksa berdiri saja berteduh dibawah pohon sampai hujan berhenti dan tamu tamu berdatangan, maka saya duduk dil;uar teras saja karena baju basah dan takut dihardik sang penjaga.

saya sering pula ziarah ke luar batang, makam Al Habib husein bin Abubakar Alaydrus, suatu kali saya datang lupa membawa peci, karena datang langsung dari cipanas, maka saya berkata dalam hati, wahai Allah, aku datang sebagai tamu seorang wali Mu, tak beradab jika aku masuk ziarah tanpa peci, tapi uangku pas pasan, dan aku lapar, kalau aku beli peci maka aku tak makan dan ongkos pulangku kurang..,

maka saya memutuskan beli peci berwarna hijau, karena itu yg termurah saat itu di emperan penjual peci, saya membelinya dan masuk berziarah, sambil membaca yaasin utk dihadiahkan pada almarhum, saya menangisi kehidupan saya yg penuh ketidak tentuan, mengecewakan orang tua, dan selalu lari dari sanak kerabat, karena selalu dicemooh, mereka berkata : kakak2mu semua sukses, ayahmu lulusan makkah dan pula new york university, koq anaknya centeng losmen..

maka saya mulai menghindari kerabat, saat lebaranpun saya jarang berani datang, karena akan terus diteror dan dicemooh.

walhasil dalam tangis itu saya juga berkata dalam hati, wahai wali Allah, aku tamumu, aku membeli peci untuk beradab padamu, hamba yg shalih disisi Allah, pastilah kau dermawan dan memuliakan tamu, aku lapar dan tak cukup ongkos pulang..,

lalu dalam saya merenung, datanglah rombongan teman teman saya yg pesantren di Hb Umar bin Abdurrahman Assegaf dg satu mobil, mereka senang jumpa saya, sayapun ditraktir makan, saya langsung teringat ini berkah saya beradab di makam wali Allah..

lalu saya ditanya dg siapa dan mau kemana, saya katakan saya sendiri dan mau pulang ke kerabat ibu saya saja di pasar sawo, kb Nanas Jaksel, mereka berkata : ayo bareng saja, kita antar sampai kebon nanas, maka sayapun semakin bersyukur pada Allah, karena memang ongkos saya tak akan cukup jika pulang ke cipanas, saya sampai larut malam di kediaman bibi dari Ibu saya, di ps sawo kebon nanas, lalu esoknya saya diberi uang cukup untuk pulang, sayapun pulang ke cipanas..

tak lama saya berdoa, wahai Allah, pertemukan saya dg guru dari orang yg paling dicintai Rasul saw, maka tak lama saya masuk pesantren Al Habib Hamid Nagib bin Syeikh Abubakar di Bekasi timur, dan setiap saat mahal qiyam maulid saya menangis dan berdoa pada Allah untuk rindu pada Rasul saw, dan dipertemukan dg guru yg paling dicintai Rasul saw, dalam beberapa bulan saja datanglah Guru Mulia Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidh ke pondok itu, kunjungan pertama beliau yaitu pd 1994.

selepas beliau menyampaikan ceramah, beliau melirik saya dg tajam.., saya hanya menangis memandangi wajah sejuk itu.., lalu saat beliau sudah naik ke mobil bersama almarhum Alhabib Umar maula khela, maka Guru Mulia memanggil Hb Nagib Bin Syeikh Abubakar, Guru mulia berkata bahwa beliau ingin saya dikirim ke Tarim Hadramaut yaman untuk belajar dan menjadi murid beliau,

Guru saya hb Nagib bin syeikh abubakar mengatakan saya sangat belum siap, belum bisa bahasa arab, murid baru dan belum tahu apa apa, mungkin beliau salah pilih..?, maka guru mulia menunjuk saya, itu.. anak muda yg pakai peci hijau itu..!, itu yg saya inginkan.., maka Guru saya hb Nagib memanggil saya utk jumpa beliau, lalu guru mulia bertanya dari dalam mobil yg pintunya masih terbuka : siapa namamu?, dalam bahasa arab tentunya, saya tak bisa menjawab karena tak faham, maka guru saya hb Nagib menjawab : kau ditanya siapa namamu..!, maka saya jawab nama saya, lalu guru mulia tersenyum..

keesokan harinya saya jumpa lagi dg guru mulia di kediaman Almarhum Hb bagir Alattas, saat itu banyak para habaib dan ulama mengajukan anaknya dan muridnya untuk bisa menjadi murid guru mulia, maka guru mulia mengangguk angguk sambil kebingungan menghadapi serbuan mereka, lalu guru mulia melihat saya dikejauhan, lalu beliau berkata pada almarhum hb umar maula khela : itu.. anak itu.. jangan lupa dicatat.., ia yg pakai peci hijau itu..!,

guru mulia kembali ke Yaman, sayapun langsung ditegur guru saya hb Nagib bin syekh abubakar, seraya berkata : wahai munzir, kau harus siap siap dan bersungguh sungguh, kau sudah diminta berangkat, dan kau tak akan berangkat sebelum siap..

dua bulan kemudian datanglah Almarhum Alhabib Umar maula khela ke pesantren, dan menanyakan saya, alm hb umar maulakhela berkata pada hb nagib : mana itu munzir anaknya hb Fuad almusawa?, dia harus berangkat minggu ini, saya ditugasi untuk memberangkatkannya, maka hb nagib berkata saya belum siap, namun alm hb umar maulakhela dg tegas menjawab : saya tidak mau tahu, namanya sudah tercantum untuk harus berangkat, ini pernintaan AL Habib Umar bin Hafidh, ia harus berangkat dlm dua minggu ini bersama rombongan pertama..

saya persiapkan pasport dll, namun ayah saya keberatan, ia berkata : kau sakit sakitan, kalau kau ke Mekkah ayah tenang, karena banyak teman disana, namun ke hadramaut itu ayah tak ada kenalan, disana negeri tandus, bagaimana kalau kau sakit?, siapa yg menjaminmu..?,

saya pun datang mengadu pd Almarhum Al Arif billah Alhabib Umar bin hud Alattas,beliau sudah sangat sepuh, dan beliau berkata : katakan pada ayahmu, saya yg menjaminmu, berangkatlah..

saya katakan pada ayah saya, maka ayah saya diam, namun hatinya tetap berat untuk mengizinkan saya berangkat, saat saya mesti berangkat ke bandara, ayah saya tak mau melihat wajah saya, beliau buang muka dan hanya memberikan tangannya tanpa mau melihat wajah saya, saya kecewa namun saya dg berat tetap melangkah ke mobil travel yg akan saya naiki, namun saat saya akan naik, terasa ingin berpaling ke belakang, saya lihat nun jauh disana ayah saya berdiri dipagar rumah dg tangis melihat keberangkatan saya…, beliau melambaikan tangan tanda ridho, rupanya bukan beliau tidak ridho, tapi karena saya sangat disayanginya dan dimanjakannya, beliau berat berpisah dg saya, saya berangkat dg airmata sedih..

saya sampai di tarim hadramaut yaman dikediaman guru mulia, beliau mengabsen nama kami, ketika sampai ke nama saya dan beliau memandang saya dan tersenyum indah,

tak lama kemudian terjadi perang yaman utara dan yaman selatan, kami di yaman selatan, pasokan makanan berkurang, makanan sulit, listrik mati, kamipun harus berjalan kaki kemana mana menempuh jalan 3-4km untuk taklim karena biasanya dg mobil mobil milik guru mulia namun dimasa perang pasokan bensin sangat minim

suatu hari saya dilirik oleh guru mulia dan berkata : Namamu Munzir.. (munzir = pemberi peringatan), saya mengangguk, lalu beliau berkata lagi : kau akan memberi peringatan pada jamaahmu kelak…!.

maka saya tercenung.., dan terngiang ngiang ucapan beliau : kau akan memberi peringatan pada jamaahmu kelak…?, saya akan punya jamaah?, saya miskin begini bahkan untuk mencuci bajupun tak punya uang untuk beli sabun cuci..

saya mau mencucikan baju teman saya dg upah agar saya kebagian sabun cucinya, malah saya dihardik : cucianmu tidak bersih…!, orang lain saja yg mencuci baju ini..

maka saya terpaksa mencuci dari air bekas mengalirnya bekas mereka mencuci, air sabun cuci yg mengalir itulah yg saya pakai mencuci baju saya

hari demi hari guru mulia makin sibuk, maka saya mulai berkhidmat pada beliau, dan lebih memilih membantu segala permasalahan santri, makanan mereka, minuman, tempat menginap dan segala masalah rumah tangga santri, saya tinggalkan pelajaran demi bakti pada guru mulia membantu beliau, dengan itu saya lebih sering jumpa beliau.

2 tahun di yaman ayah saya sakit, dan telepon, beliau berkata : kapan kau pulang wahai anakku..?, aku rindu..?

saya jawab : dua tahun lagi insya Allah ayah..

ayah menjawab dg sedih ditelepon.. duh.. masih lama sekali.., telepon ditutup, 3 hari kemudian ayah saya wafat..

saya menangis sedih, sungguh kalau saya tahu bahwa saat saya pamitan itu adalah terakhir kali jumpa dg beliau.. dan beliau buang muka saat saya mencium tangan beliau, namun beliau rupanya masih mengikuti saya, keluar dari kamar, keluar dari rumah, dan berdiri di pintu pagar halaman rumah sambil melambaikan tangan sambil mengalirkan airmata.., duhai,, kalau saya tahu itulah terakhir kali saya melihat beliau,., rahimahullah..

tak lama saya kembali ke indonesia, tepatnya pada 1998, mulai dakwah sendiri di cipanas, namun kurang berkembang, maka say mulai dakwah di jakarta, saya tinggal dan menginap berpindah pindah dari rumah kerumah murid sekaligus teman saya, majelis malam selasa saat itu masih berpindah pindah dari rumah kerumah, mereka murid2 yg lebih tua dari saya, dan mereka kebanyakan dari kalangan awam, maka walau saya sudah duduk untuk mengajar, mereka belum datang, saya menanti, setibanya mereka yg cuma belasan saja, mereka berkata : nyantai dulu ya bib, ngerokok dulu ya, ngopi dulu ya, saya terpaksa menanti sampai mereka puas, baru mulai maulid dhiya’ullami.., jamaah makin banyak, mulai tak cukup dirumah rumah, maka pindah pindah dari musholla ke musholla,. jamaah makin banyak, maka tak cukup pula musholla, mulai berpindah pindah dari masjid ke masjid,

lalu saya membuka majelis dihari lainnya, dan malam selasa mulai ditetapkan di masjid almunawar, saat itu baru seperempat masjid saja, saya berkata : jamaah akan semakin banyak, nanti akan setengah masjid ini, lalu akan memenuhi masjid ini, lalu akan sampai keluar masjid insya Allah.. jamaah mengaminkan..

mulailah dibutuhkan kop surat, untuk undangan dlsb, maka majelis belum diberi nama, dan saya merasa majelis dan dakwah tak butuh nama, mereka sarankan majelis hb munzir saja, saya menolak, ya sudah, majelis rasulullah saw saja,

kini jamaah Majelis Rasulullah sudah jutaan, di Jabodetabek, jawa barat, banten, jawa tengah, jawa timur, bali, mataram, kalimantan, sulawesi, papua, singapura, malaysia, bahkan sampai ke Jepang, dan salah satunya kemarin hadir di majelis haul badr kita di monas, yaitu Profesor dari Jepang yg menjadi dosen disana, dia datang keindonesia dan mempelajari bidang sosial, namun kedatangannya juga karena sangat ingin jumpa dg saya, karena ia pengunjung setia web ini, khususnya yg versi english..

sungguh agung anugerah Allah swt pada orang yg mencintai Rasulullah saw, yg merindukan Rasulullah saw…

itulah awal mula hamba pendosa ini sampai majelis ini demikian besar, usia saya kini 38 tahun jika dg perhitungan hijriah, dan 37 th jika dg perhitungan masehi, saya lahir pd Jumat pagi 19 Muharram 1393 H, atau 23 februari 1973 M.

perjanjian Jumpa dg Rasul saw adalah sblm usia saya tepat 40 tahun, kini sudah 1431 H,

mungkin sblm sempurna 19 Muharram 1433 H saya sudah jumpa dg Rasul saw, namun apakah Allah swt akan menambah usia pendosa ini..?

Wallahu a’lam

Syarah Ushul Isyrin Imam Syahid Hasan Al-Banna; Islam Adalah Agama Universal (2)

5. Islam adalah rahmat.

Rahmat yang dimaksudkan oleh imam Syahid Hasan Al-Banna disini adalah perasaan lemah lembut dalam hati yang mendorong manusia untuk menolong orang-orang lemah dan membutuhkan, memaafkan orang yang salah, tidak melakukan balas dendam terhadap perbuatan jahat orang lain dan selalu bersimpati atas bencana yang menimpa orang lain.Sifat-sifat ini merupakan akhlak yang tinggi jika digunakan pada tempat yang sewajarnya.

Sifat rahmat dan belas kasih hanyalah wujud dan berfungsi pada saat dapat menolong pelaksanaan hukum-hukum Allah.Perbuatan seseorang yang menyakitkan kita selalu diupayakan untuk dimaafkan. Pemberian maaf yang diberikan oleh setiap orang dan berusaha menahan diri dari melakukan balas dendam dianggap sebagian daripada rahmat. Rahmat dan belas kasihan diberikan kepada mereka yang lemah, miskin, mereka yang terpisah dari keluarga, orang-orang sakit, orang tua dan orang-orang yang membutuhkan kepada bantuan dan pertolongan. Perasaan rahmat dan belas kasihan juga diwujudkan di kalangan Ikhwan Muslimin sewaktu mereka membentuk masyarakat Islam dan berusaha menyebarkannya dengan corak Islam. Dan perasaan ini senantiasa ada di kalangan mereka; baik secara diam-diam atau terang-terangan, walaupun kita lebih mengutamakan secara diam diam.2. Islam adalah keadilanKeadilan yang dimaksudkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna di sini adalah dengan memberikan hak kepada mereka yang berhak dan tidak berlaku pada sembarang orang, karena keadilan wajib diberikan kepada semua insan, baik Muslim atau kafir, kawan atau lawan, keluarga atau bukan keluarga.Allah berfirman:

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى“
Dan jangan kebencian terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Maidah:8)Keadilan akan berlaku melalui hukuman dan kehakiman, juga berlaku walaupun ada pujian, sanjungan, celaan, kritik dan kecaman. Keadilan juga berlaku dalam keadaan ridha atau marah. Bukanlah adil jika seseorang berlaku kejam sewaktu seseorang mengatur antara dua orang, sebagaimana seseorang juga tidak berlaku adil sewaktu seseorang berlebihan memuji orang yang tidak berhak menerima pujian yang seseorang berikan. Bukanlah adil jika seseorang berlebihan mengecam orang lain yang tidak berhak menerima satu persepuluh dari kecaman saudara. Bukanlah adil jika saudara memuji sewaktu suka dan mengejek sewaktu benci. Bukanlah adil jika saudara berlaku kejam terhadap mereka yang bukan keluarga saudara atau musuh yang menyakiti dirinya, sedang orang tersebut menutup pandangan dari perbuatan keluarga, kawan dan orang yang berlaku baik kepada dirinya.Islam adalah pengetahuan.Islam adalah pengetahuan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna; bahwa menuntut ilmu pengetahuan yang memberi manfaat dengan takaran yang mencukupi adalah sebagian dari ajaran Islam.Islam tidak melarang seseorang muslim meluaskan ilmu pengetahuannya tentang kejadian alam, perusahaan dan pelbagai ilmu kebendaan lainnya yang termasuk dalam pengertian pengetahuan; Pengetahuan yang dapat menjadi bekalan manusia dalam usaha memakmurkan bumi dan menggunakankekayaannya dengan baik; pengetahuan yang dapat menolong manusia dalam mencari rahasia alam yang tersembunyi. Namun sewaktu manusia meluaskan ilmunya dalam perkara-perkara tadi maka harus menjadi serana utnuk mengingat Allah yang memberikan kepadanya akal dan fikiran yang waras kepadanya, Allah yang menjadikan alam semesta ini dalam keadaan mudah digunakan manusia. Sebagaimana pengetahuan yang diperolehnya haruslah bertujuan mencari kebajikan dan keridhaan Allah SWT.Islam adalah undang-undangIslam adalah undang-undang sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna; yaitu bahwa Islam telah membawa hukum-hukum (undang-undang) untuk mengatur hubungan individu antara sesama mereka. Islam telah menjelaskan hukum-hukum dan balasan terhadap mereka yang melanggar undang-undang tersebut, baik hukum dan balasan itu bersifat sipil yang dilaksanakan atas harta atau tindak pelanggaran yang dilaksanakan atas anggotapelaku pelanggaran terhadap kebebasan atau hartanya.Undang-undang Islam telah merangkum pelbagai sudut pandang hubungan antara sesama manusia.

Oleh karena itulah seorang muslim tidak boleh meninggalkan undang-undang Islam dan menggantikannya dengan undang-undang lain. Ironisnya umat Islam saat ini banyak yang telah meninggalkan undang-undang Islam dan menerapkan undang-undang asing. Undang-undang hanya dilaksanakan dalam bidang yang sempit, hanya terbatas dalam undang-undang kekeluargaan, bahkan ada sebagian lainnya yang menerapkan undang-undang yang lebih sempit lagi, sehingga wajar kalau umat Islam saat mengalami kemunduran dan keterbelakangan.5. Islam adalah ilmuIlmu yang dimaksudkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna adalah makrifah (pengetahuan) dan pemahaman tentang hakikat sesuatu dengan tepat sesuai dengan realita dan kenyataan yang ada, mengetahui sesuatu yang diturunkan Allah, mengetahui tujuan diciptakannya manusia dan kehidupan akhirat yang mengakhiri kehidupan manusia.Ilmu yang paling tinggi dan mulia kedudukannya ialah ilmu tentang mengenal Allah dan mengenal Islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Dengan mengenal Allah dan Islam seorang muslim akan mengenal Tuhannya, rasulnya, agamanya dan ajaran yang terkandung dalam agama tersebut.Setelah mengenal ilmu tentang ma’rifatullah, ma’rifaturrasul serta ma’rifatul Islam, seorang muslim juga disarankan memiliki dan menggelitu ilmu yang berkaitan dengan urusan hidup dalam berbagai bentuk. Islam memandang tinggi kedudukan ilmu dan ulama, memberikan kedudukan yang tinggi kepada ulama, dan tidak menyamakan kedudukan mereka dengan orang lain.Dalam Al-Quran disebutkan

:شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ“
Allah mempersaksikan bahwa tiada tuhan melainkan Dia, yang menegakkan keadilan, para malaikat dan orang-orang yang berilmu”. (Ali Imran:18)Allah juga berfirman Allah lagi:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“
Adakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu”. (Az-Zumar:9)Sementara itu orang yang berilmu harus senantiasa menggunakan ilmunya hanya semata-matamencari keredhaan Allah. Berusaha membersihkan diri dan yakin bahwa apa yang diketahuinya amatlah sedikit berbanding dengan apa yang tidak diketahuinya. Allah berfirman:
وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً“
Dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit”. (Al-Isra:85)
Sehingga dengan demikian dirinya termotivasi untuk menambah ilmu pengetahuannya secara menerus. Allah berfirman:
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Katakanlah, Ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan. “(Toha:114)
6. Islam adalah kehakiman
Islam adalah kehakiman, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Al-Imam Syahid Hasan Al-Banna, maksudnya adalah bahwa salah satu dari manhaj Islam ialah mengatur antara sesama manusia, karena manusia sangat memerlukan seorang hakim yang dapat mengatur dan menyelesaikan perselisihan mereka serta dapat mengembalikan hak kepada pemiliknya.Kesimpulan dalam masalah kehakiman ini dapatlah kita katakana bahwa Islam telah menganggap masalah kehakiman sebagai fardhu, karena itulah kita lihat bahwa Rasulullah saw mengangkat para hakim untuk bertugas di tempat-tempat yang jauh dari Madinah. Dan hakim muslim ini disyaratkan mempunyai pengetahuan yang luas terutama tentang hukum-hukum Islam. Atas dasar ini pula kita lihat bahwa salah satu dari syarat kelayakan seseorang hakim ialah kemampuannya untuk melakukan ijtihad, karena tugas mengatur adalah termasuk dalam pengertian wilayah dan sultan. Orang kafir tidak layak dan tidak berhak menjadi wali atau hakim atas orang Islam. Karena Allah SWT berfirman:
وَلَن يَجْعَلَ اللّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً“
Dan Allah tidak sekali-kali memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memerintah orang-orang yang beriman”. (An-Nisa:141)
Seorang hakim yang Muslim mestilah mengatur menurut hukum-hukum Islam dan haram hukumnya menggunakan hukum-hukum yang lain. Terutama pada saat mengatur undang-undang Islam, sebagaimana juga harus memiliki kehati-hatian dan teliti, dan berusaha semampunya untuk melaksanakan dan menerapkan keadilan. Karena seandainya yang dilakukan adalah betul dan tepat maka baginya dua ganjaran, namun jika seandainya beliau keliru atau tersalah maka tetap akan balasan beu diberikan satu ganjaran.Islam adalah kebendaan atau usaha dan kekayaanDengan ini Al-Mursryid ingin mengatakan bahwa Islam tidak mengabaikan permasalahan kebendaan. Islam mengatur masalah kerohanian dan juga kebendaan, tetapi seorang Muslim haruslah mengawasi hatinya agar ikhlas kepada Allah, tidak diperhambakan oleh kebendaan sekalipun kebendaan itu merupakan kekayaan yang tinggi dan berlimpah. Muslim berhak melakukan kerja yang mendatangkan penghasilan dengan syarat dilakukan dengan cara yang halal dan tidak diharamkan syariat.Di samping itu seorang muslim haruslah mengeluarkan apa yang telah Allah wajibkan atas pemiliknya seperti zakat, dan nafkah yang telah disyariatkan. Atas dasar ini seorang muslim tidaklah ditegah mencari kekayaan semata , namun menyadari bahwa pada dasarnya kekayaan adalah menjadi sarana setiap usaha yang dilakukan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bila seorang Muslim yang mempunyai kekayaan senantiasa bertaqwa dan menunaikan kewajiban yang telah difardhukan Allah maka dirinya termasuk dalam golongan wali-wali Allah; yang benar-benar bertaqwa kepada Allah.Manakah yang lebih baik antara si fakir yang sabar atau si kaya yang bersyukur?Sebagian ulama ahli fiqih berpendapat, golongan pertamalah yang lebih baik. Segolongan yang lain berpendapat bahwa golongan kedualah yang lebih baik. Tetapi hakikat yang sebenarnya adalah yang terbaik dari keduanya adalah mereka yang lebih bertaqwa kepada Allah.Seorang muslim tidak selayaknya bersikap zuhud dengan mengelak diri dari melakukan kerja yang mendatangkan pendapatan dengan alasan zuhud atau menghindari diri dari tipu daya dunia dan untuk mengisi seluruh waktunya dalam beribadah kepada Allah. Karena hakikat zuhud yang sebenarnya adalah bertahta dalam hati, bukan pada anggota zahir. Ibadah tidak bertentangan dengan bekerja dan berusaha, namun bekerja dan mencari nafkah dengan cara yang halal adalah sebagian dari ibadah.Dalam hadits disebutkan:اليدالعليا خيرمن اليدالسفل‘Tangan yang di atas (memberi) lebih baik dari tangan yang di bawah (menerima)’.Manusia tidak akan dapat memberikan sesuatu kecuali beliau mempunyai sesuatu, dan kekayaan hanyalah sarana untuk mencapai keridhaan Allah. Selain dari itu adalah menjadi kewajiban kepada negara membantu seorang muslim dalam mendapatkan pekerjaan dengan menyediakan kemudahan dan memberikan bantuan berupa sarana dan prasarana untuk dapat bekerja dengan baik dan mendapatkan rezki yang halal.Islam bererti jihad.Islam adalah jihad, seperti yang dijelaskan oleh Al-Imam Syahid Hasan Al-Banna, maksudnya adalah bahwa Islam telah mewajibkan jihad.Dan Hakikat jihad adalah mengorbankan seluruh tenaga, waktu, fikiran dan harta pada jalan Allah, sekalipun sesuatu yang dikorbankan itu merupakan darah yang ditumpahkan dalam medan perang.Jihad tidaklah terbatas pada pengorbanan jiwa saja, malah termasuk juga pengorbanan harta benda, jihad pena dan lidah.Seorang muslim dapat menunaikan jihad secara peribadi, sebagaimana dapat menunaikannya sebagai anggota dalam jamaah; seperti menjadi anggota dalam jamaah Ikhwan Muslimin. Sewaktu menunaikan jihad sebagai anggota dalam jamaah maka haruslah menselaraskan jihadnya dengan langkah-langkah jamaah, sehingga dengan penyelarasan ini hakikat jihad secara jamaah yang dilakukan oleh lkhwan akan tercapai.Umat Islam saat ini banyak yang menyampingkan dan menjauhkan diri dari jihad, padahal jihad adalah fardhu ‘ain atas diri umat Islam, karena sebagian besar dari negara-negara Islam telah dirampas oleh orang-orang kafir. Umumnya Islam hari ini dalam keadaan kelemahan dan kehinaan yang menuntut supaya umat Islam berjihad pada jalan Allah demi membebaskan kaum Muslimin dari kelemahan dankehinaan, dan juga menyelamatkan mereka dari kegelinciran ajaran Islam.Tegaknya sebuah negara yang benar-benar Islami merupakan suatu keharusan dan sebagai wasilah utama dan sangat penting dalam rangka menerapkan ajaran Islam. Karena itulah, menegakkan sebuah negara yang seperti ini adalah menjadi kewajiban Ikhwan. Oleh karena kewajiban ini dan kewajiban Islamiah lainnya merupakan satu kesatuan, maka dari itulah Ikhwan Muslimin saat ini rela mengorbankan seluruh tenaga, fikiran dan harta mereka untuk berjihad dan menegakkan syariat Allah.Islam adalah dakwahIslam juga mewajibkan seorang Muslim untuk melakukan dakwah, menyeru manusia kepada Allah melalui wasilah yang disyariat seperti tulisan, ceramah, pidato, melakukan perjalanan secara individu atau rombongan dan lainnya. Wasilah yang paling penting dalam dakwah adalah dengan cara menerapkan diri seorang muslim dengan corak dan gaya hidup Islam (dakwah bil hal) sehingga dengan demikian ia akan mampu menyeru manusia lain kepada Islam, karena mereka yang diseru dapat melihatpada dirinya suatu contoh yang hidup dengan nilai-nilai Islam.Dunia Islam saat ini telah lama kehilangan uswah dan teladan yang patut dicontoh, karena itulah maka salah satu sarana dari asas-asas dakwah Islamiah adalah menitikberatkan tentang tarbiyah dan membentuk individu Muslim. Semoga dengan ini Ikhwan dapat menjadi contoh dan teladan Islamiah yang hidup. Kemudian menyebarkan contoh dan teladan tersebut ke dalam masyarakat dengan cara menarik pandangan masyarakat kepada contoh-contoh itu, sehingga mereka dapat melihat bagaimana Islam mencorakkan manusia dan menjadikannya sebagi cahaya yang bersinar di tengah-tengah masyarakat sekitar. Berdakwah menyeru kepada Islam adalah kewajiban setiap Muslim.Allah SWT berfirman:
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّه وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِآِينَ“
Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutkan menyeru (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk ke dalam golongan orang musyrik’. “ (Yusuf: 108)
Selain dari itu, sebagian dari kewajiban dalam Islam ialah menegakkan jamaah yang berdakwah kepada jalan Allah, jamaah yang dapat menyatukan para du’at, agar dengan penyatuan ini dapat memberikan pengaruh mereka yang lebih besar dan berfungsi dalam kehidupan manusia.Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maaruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang yang beruntung”. (Ali Imran:104)
Atas dasar inilah jamaah Ikhwan Muslimin berdiri demi menyambut dan menunaikan perintah Allah dan menyeru kepada jalan-Nya.Islam adalah ketentaraanIslam adalah ketentaraan, sebagaimana yang telah dimaksudkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna; bahwa ketentaraan adalah sebagian dari tanda-tanda zahir persiapan diri menghadapi jihad. Tentara adalah satu-satunya wasilah yang paling kuat untuk dapat menghadang musuh dan melakukan pertahanan.Adalah menjadi kenyataan bahwa menyediakan kekuatan tentara adalah memerlukan kepada perajurit, perbekalan dan senjata. Oleh karena itulah tiap-tiap individu dari umat Islam haruslah mendapatkan pendidikan ketentaraan baik dari sudut kedisiplinan, ketaatan, pembiasaan diri menanggung beban kesulitan, hidup yang tidak mengenal istirahat dan memiliki peraturan yang baik disamping menyediakan pelbagai bentuk persenjataan.Islam adalah fikrahIslam adalah fikrah, sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna; bahwa persediaan untuk kekuatan tentara haruslah tegak di atas fikrah yang tertentu, yaitu fikrah Islamiah. Dengan perkataan lain, kekuatan tentara Islam haruslah tegak di atas dasar untuk melaksanakan perintah Islam sesuai dengan manhajnya, juga untuk mempertahankan Islam dan menyeru manusia kepadanya.Kebenaran juga memerlukan kekuatan yang dapat melindungi dan mempertahankannya dari penyerobotan dan pelemahan, kekuatan yang dapat menghilangkan ranjau-ranjau yang terdapat di pertengahan jalan. Tentara Islam telah mampu melindungi dakwah Islamiah dan menghilangkan berbagai rintangan dan ranjau yang ada di jalan. Dengan perlindungan ini manusia dapat melihat Islam, mengenal keindahannya dan mengetahui hakikatnya. Lantaran itulah, mereka telah memeluk Islam secara beramai-ramai.Pedang tidak dapat memasukkan Islam ke dalam hati, tetapi pedang memainkan peranan dalam menghapuskan halangan yang merintangi Islam untuk masuk ke dalam hati manusia. Dengan terhapusnya rintangan itu maka hati manusia terus terbuka luas untuk menerima Islam, karena cahaya Islam dapat menerangi hati-hati tersebut.Kalaulah Islam tersebar dengan pedang niscaya kita akan melihat kemajuan Islam di negara-negara Islam yang telah kehilangan kekuatan, tetapi hal ini tidak berlaku. Fikrah Islamiah diperlukan suatu bentuk pendekatan yang baru dan penerangan yang cukup, agar umat Islam dicorakkan dengan fikrah Islamiah.Inilah yang diusahakan oleh Ikhwan sesuai kemampuan dan kekuatan mereka. Dunia hari ini telah menjadi medan pertarungan fikrah-fikrah yang beraneka ragam. Fikrah-fikrah ini dilatar belakangi oleh negara yang menganutinya. Negara-negara ini menggunakan seluruh tenaga dan kekuatannya untuk menyebarkan dan mempertahankan fikrah tersebut, tetapi tidak ada sebuah Negara pun hari ini yang menganut fikrah Islamiah dan tegak di atas prinsip-prinsip Islam serta menyumbangkan seluruh tenaga dan kekuatannya untuk mempertahankan dan menyebarkan Islam.Bertolak dari asas ini, maka tanggungjawab Ikhwan amatlah besar. Di atas pundak merekalah terletak tugas dan kewajiban mempertahan dan menyebarkan Islam sehingga khilafah Islam yang sebenarnya dapat tegak diberbagai Negara Islam; khilafah yang dapat memikul tugas mempertahan dan menyebarkan dakwah Islamiah; yang dapat mengarahkan umat Islam dan kekayaan negara untuk mengembalikan kehidupan Islamiah yang telah sirna; yang menegakkan sebuah masyarakat Islam yang sebenarnya di permukaan bumi serta menghilangkan berbagai halangan yang merintangi dakwah Islamiah.Islam adalah akidah yang benar dan ibadat yang sahAkidah yang dimaksudkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna aalah suatu pegangan yang diterima dan merasuk dalam hati. Akidah seperti ini bisa jadi benar atau salah. Seandainya akidah itu benar, maka itulah akidah yang hakiki, tetapi sebaliknya akidah itu salah, maka itulah akidah yang batil, rusak dan dusta. Tidak ada dalam dunia ini akidah yang benar selain dari akidah Islam. Akidah-akidah lain yang bertentangan dengan akidah Islam adalah merupakan akidah-akidah yang batil dan sesat.Akidah Islam tegak di atas iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, kepada nabi dan rasul yang diutus oleh Allah, hari akhirat dan mengimani bahwa Qadha dan Qadar adalah dari Allah.Iman kepada Allah tegak di atas dua asas;
1. Beriman akan rububiyyah Allah swt, maksudnya adalah dengan mengimani bahwa Allah swt yang telah menciptakandan menjadikan sesuatu, yang menghidup dan mematikan; yang memiliki dan berkuasa; dan juga sifat-sifat Allah yang lain.
2. Mengimani akan uluhiah Allah swt; yaitu mengimani bahwa Allah sajalah yang berhak menerima pengabdian. Dan inilah pengertian ‘La Ilaha Illa Allah’, pengabdian tidak seharusnya diberikan kepada selain dari Allah.Maksud beriman kepada malaikat percaya adanya makhluk yang bergelar malaikat. Jumlah malaikat hanya diketahui oleh Allah saja. Sementara Jibrail, Mikail, Israfil, Izrail adalah sebagian dari nama malaikat tersebut.Makna Beriman dengan kitab-kitab yang diturunkan dari langit adalah mengimani bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul-Nya, mengimani bahwa kitab-kitab tersebut adalah kalam Allah, seperti kitab Taurat dan Injil; juga mengimani bahwa kitab dan kalam Allah yang terakhir diturunkan adalah Al-Quran. Rasulullah saw hanyalah bertugas untuk menyampaikan Al-Quran kepada manusia. Oleh itu lafaz dan makna Al-Quran adalah dari Allah. Al-Quran adalah terpelihara dari berbagai penyimpangan dan kekurangan.Mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur’an telah terjadi penambahan atau kekurangan berlakudalam Al-Quran adalah keluar dari landasan Islam.Adapun yang dimaksudkan dengan beriman kepada rasul-rasul ialah beriman kepada semua rasul-rasul yang diutuskan Allah, bilangan para rasul itu sangat banyak dan Al-Quran telah menyebutkan sebagian dari mereka sementara sebagian yang lainnya tidak disebutkan. Termasuk dalam pengertian beriman kepada rasul-rasul ialah mengimani bahwa Muhammad saw adalah rasul akhir zaman, tidak ada nabi sesudah Rasulullah saw. Mengimani dan mengikuti ajaran Muhammad saw adalah wajib. Manusia tidak bebas mengikuti ajaran lain atau beri’tikad bahwa Muhammad saw bukan rasul yang diutuskan Allah. Mereka yang beri’tikad demikian telah terkeluar dari Islam dan kufur.Adapun maksud beriman dengan hari akhirat adalah membenarkan bahwa setelah kehidupan dunia ini masih ada kehidupan lainnya yaitu akhirat, karena Allah akan menghidupkan manusia sekali lagi dan melakukan hisab terhadap perbuatan dan amalan mereka di dunia. Hasil dari hisab ini menjadikan segolongan manusia dimasukkan ke dalam surga dan sebagian yang lainnya dimasukkan ke dalam neraka.Pengumpulan di padang mahsyar, hisab dan balasan ini dilakukan atas roh dan jasad manusia. Kita berkeyakinan bahwa syafaat Rasulullah saw di hari akhirat adalah benar dan hak, dan syafaat ini berlaku dengan izin Allah terhadap mereka yang dikehendaki Allah. Kita juga berikeyakinan bahwa azab dan nikmat kubur adalah benar dan hak.Adapun beriman dengan qadha dan qadar (baik dan buruk) adalah bermaksud mengimani bahwa apa yang berlaku di dunia ini adalah dengan perbuatan, ilmu dan kehendak Allah. Dan manusia bertanggungjawab terhadap perbuatan dan amalannya. Manusia tidak berhak menjadikan qadha dan qadar sebagai alasan, karena Allah memiliki hujah yang putus terhadap hambanya.Islam adalah ibadat yang sahIslam adalah ibadah yang sah; sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna; bahwa Islam mengandungi berbagai bentuk ibadah. Sebagiannya ialah ibadat hati seperti kasih, takut, percaya dan tawakkal kepada Allah. Sebagian yang lain adalah ibadat anggota zahir seperti zikrullah, menunaikan kewajiban yang telah difardhukan Allah seperti shalat, puasa dan haji.Semua ibadat-ibadat ini tegak di atas dua asas:
1. Ibadah-ibadah yang sesuai menurut apa yang telah disyariatkan Allah;
2. Ibadah-ibadah yang ikhlas karena Allah semata.
Di atas dua asas ini, melakukanBid’ah dalam agama adalah haram dan mereka yang beribadah kepada Allah menurut cara yang bid’ah tidak mendapat ganjaran dan keuntungan namun menanggung kerugian. Demikian juga keadaannya mereka yang melakukan ibadah yang pada zahirnya menurut apa yang telah disyariatkan, tetapi ibadahtersebut tidak dilakukan dengan ikhlas karena Allah, namun dengan tujuan yang lain. Mereka yang melakukan ibadat seperti ini juga akan mendapat kerugian.Kita berdoa kepada Allah supaya memberi taufik kepada kita untuk melakukan ibadah yang sah dan menjadikan ibadat tersebut ikhlas kepada Allah semata.Selain dari itu saudara haruslah mengetahui bahwa semua bentuk amal, sekalipun yang harus jika dilakukan dengan ikhlas kepada Allah dan untuk mendapatkan keredhaan Allah, maka amal-amal tersebut akan menjadi amal saleh yang akan diganjari pahala.

6. Islam adalah rahmat.
Rahmat yang dimaksudkan oleh imam Syahid Hasan Al-Banna disini adalah perasaan lemah lembut dalam hati yang mendorong manusia untuk menolong orang-orang lemah dan membutuhkan, memaafkan orang yang salah, tidak melakukan balas dendam terhadap perbuatan jahat orang lain dan selalu bersimpati atas bencana yang menimpa orang lain.Sifat-sifat ini merupakan akhlak yang tinggi jika digunakan pada tempat yang sewajarnya. Sifat rahmat dan belas kasih hanyalah wujud dan berfungsi pada saat dapat menolong pelaksanaan hukum-hukum Allah.

Perbuatan seseorang yang menyakitkan kita selalu diupayakan untuk dimaafkan. Pemberian maaf yang diberikan oleh setiap orang dan berusaha menahan diri dari melakukan balas dendam dianggap sebagian daripada rahmat. Rahmat dan belas kasihan diberikan kepada mereka yang lemah, miskin, mereka yang terpisah dari keluarga, orang-orang sakit, orang tua dan orang-orang yang membutuhkan kepada bantuan dan pertolongan. Perasaan rahmat dan belas kasihan juga diwujudkan di kalangan Ikhwan Muslimin sewaktu mereka membentuk masyarakat Islam dan berusaha menyebarkannya dengan corak Islam. Dan perasaan ini senantiasa ada di kalangan mereka; baik secara diam-diam atau terang-terangan, walaupun kita lebih mengutamakan secara diam diam.
7. Islam adalah keadilan
Keadilan yang dimaksudkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna di sini adalah dengan memberikan hak kepada mereka yang berhak dan tidak berlaku pada sembarang orang, karena keadilan wajib diberikan kepada semua insan, baik Muslim atau kafir, kawan atau lawan, keluarga atau bukan keluarga.Allah berfirman:
وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
“Dan jangan kebencian terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Maidah:8)
Keadilan akan berlaku melalui hukuman dan kehakiman, juga berlaku walaupun ada pujian, sanjungan, celaan, kritik dan kecaman. Keadilan juga berlaku dalam keadaan ridha atau marah. Bukanlah adil jika seseorang berlaku kejam sewaktu seseorang mengatur antara dua orang, sebagaimana seseorang juga tidak berlaku adil sewaktu seseorang berlebihan memuji orang yang tidak berhak menerima pujian yang seseorang berikan. Bukanlah adil jika seseorang berlebihan mengecam orang lain yang tidak berhak menerima satu persepuluh dari kecaman saudara. Bukanlah adil jika saudara memuji sewaktu suka dan mengejek sewaktu benci. Bukanlah adil jika saudara berlaku kejam terhadap mereka yang bukan keluarga saudara atau musuh yang menyakiti dirinya, sedang orang tersebut menutup pandangan dari perbuatan keluarga, kawan dan orang yang berlaku baik kepada dirinya.

8. Islam adalah pengetahuan.
Islam sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna adalah pengetahuan; bahwa menuntut ilmu pengetahuan yang memberi manfaat dengan takaran yang mencukupi adalah sebagian dari ajaran Islam.
Islam tidak melarang seseorang muslim meluaskan ilmu pengetahuannya tentang kejadian alam, perusahaan dan pelbagai ilmu kebendaan lainnya yang termasuk dalam pengertian pengetahuan; Pengetahuan yang dapat menjadi bekalan manusia dalam usaha memakmurkan bumi dan menggunakan kekayaannya dengan baik; pengetahuan yang dapat menolong manusia dalam mencari rahasia alam yang tersembunyi. Namun sewaktu manusia meluaskan ilmunya dalam perkara-perkara tadi maka harus menjadi serana utnuk mengingat Allah yang memberikan kepadanya akal dan fikiran yang waras kepadanya, Allah yang menjadikan alam semesta ini dalam keadaan mudah digunakan manusia. Sebagaimana pengetahuan yang diperolehnya haruslah bertujuan mencari kebajikan dan keridhaan Allah SWT.

9. Islam adalah undang-undang
Islam adalah undang-undang sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna; yaitu bahwa Islam telah membawa hukum-hukum (undang-undang) untuk mengatur hubungan individu antara sesama mereka. Islam telah menjelaskan hukum-hukum dan balasan terhadap mereka yang melanggar undang-undang tersebut, baik hukum dan balasan itu bersifat sipil yang dilaksanakan atas harta atau tindak pelanggaran yang dilaksanakan atas anggotapelaku pelanggaran terhadap kebebasan atau hartanya.

Undang-undang Islam telah merangkum berbagai sudut pandang hubungan antara sesama manusia. Oleh karena itulah seorang muslim tidak boleh meninggalkan undang-undang Islam dan menggantikannya dengan undang-undang lain. Ironisnya umat Islam saat ini banyak yang telah meninggalkan undang-undang Islam dan menerapkan undang-undang asing. Undang-undang hanya dilaksanakan dalam bidang yang sempit, hanya terbatas dalam undang-undang kekeluargaan, bahkan ada sebagian lainnya yang menerapkan undang-undang yang lebih sempit lagi, sehingga wajar kalau umat Islam saat mengalami kemunduran dan keterbelakangan.

10. Islam adalah ilmu
Ilmu yang dimaksudkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna adalah makrifah (pengetahuan) dan pemahaman tentang hakikat sesuatu dengan tepat sesuai dengan realita dan kenyataan yang ada, mengetahui sesuatu yang diturunkan Allah, mengetahui tujuan diciptakannya manusia dan kehidupan akhirat yang mengakhiri kehidupan manusia.
Ilmu yang paling tinggi dan mulia kedudukannya ialah ilmu tentang mengenal Allah dan mengenal Islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Dengan mengenal Allah dan Islam seorang muslim akan mengenal Tuhannya, rasulnya, agamanya dan ajaran yang terkandung dalam agama tersebut.
Setelah mengenal ilmu tentang ma’rifatullah, ma’rifaturrasul serta ma’rifatul Islam, seorang muslim juga disarankan memiliki dan menggelitu ilmu yang berkaitan dengan urusan hidup dalam berbagai bentuk. Islam memandang tinggi kedudukan ilmu dan ulama, memberikan kedudukan yang tinggi kepada ulama, dan tidak menyamakan kedudukan mereka dengan orang lain.

Dalam Al-Quran disebutkan:
شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ
“Allah mempersaksikan bahwa tiada tuhan melainkan Dia, yang menegakkan keadilan, para malaikat dan orang-orang yang berilmu”. (Ali Imran:18)
Allah juga berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Adakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu”. (Az-Zumar:9)
Sementara itu orang yang berilmu harus senantiasa menggunakan ilmunya hanya semata-mata mencari keridhaan Allah. Berusaha membersihkan diri dan yakin bahwa apa yang diketahuinya amatlah sedikit berbanding dengan apa yang tidak diketahuinya. Allah berfirman:
وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً
“Dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit”. (Al-Isra:85)
Sehingga dengan demikian dirinya termotivasi untuk menambah ilmu pengetahuannya secara menerus. Allah berfirman:
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Katakanlah, Ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (Toha:114)

11. Islam adalah kehakiman
Islam adalah kehakiman, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Al-Imam Syahid Hasan Al-Banna, maksudnya adalah bahwa salah satu dari manhaj Islam ialah mengatur antara sesama manusia, karena manusia sangat memerlukan seorang hakim yang dapat mengatur dan menyelesaikan perselisihan mereka serta dapat mengembalikan hak kepada pemiliknya.
Kesimpulan dalam masalah kehakiman ini dapatlah kita katakana bahwa Islam telah menganggap masalah kehakiman sebagai fardhu, karena itulah kita lihat bahwa Rasulullah saw mengangkat para hakim untuk bertugas di tempat-tempat yang jauh dari Madinah. Dan hakim muslim ini disyaratkan mempunyai pengetahuan yang luas terutama tentang hukum-hukum Islam. Atas dasar ini pula kita lihat bahwa salah satu dari syarat kelayakan seseorang hakim ialah kemampuannya untuk melakukan ijtihad, karena tugas mengatur adalah termasuk dalam pengertian wilayah dan sultan. Orang kafir tidak layak dan tidak berhak menjadi wali atau hakim atas orang Islam. Karena Allah SWT berfirman:
وَلَن يَجْعَلَ اللّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً
“Dan Allah tidak sekali-kali memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memerintah orang-orang yang beriman”. (An-Nisa:141)
Seorang hakim yang Muslim mesti mengatur hukum dan permasalahannya menurut hukum-hukum Islam dan haram hukumnya menggunakan hukum-hukum yang lain. Terutama pada saat mengatur undang-undang Islam, sebagaimana juga harus memiliki kehati-hatian dan teliti, dan berusaha semampunya untuk melaksanakan dan menerapkan keadilan. Karena seandainya yang dilakukan adalah betul dan tepat maka baginya dua ganjaran, namun jika seandainya beliau keliru atau tersalah maka tetap akan balasan beu diberikan satu ganjaran.

12. Islam adalah kebendaan atau usaha dan kekayaan
Dengan ini Al-Mursryid ingin mengatakan bahwa Islam tidak mengabaikan permasalahan kebendaan. Islam mengatur masalah kerohanian dan juga kebendaan, tetapi seorang Muslim haruslah mengawasi hatinya agar ikhlas kepada Allah, tidak diperhambakan oleh kebendaan sekalipun kebendaan itu merupakan kekayaan yang tinggi dan berlimpah. Muslim berhak melakukan kerja yang mendatangkan penghasilan dengan syarat dilakukan dengan cara yang halal dan tidak diharamkan syariat.
Di samping itu seorang muslim haruslah mengeluarkan apa yang telah Allah wajibkan atas pemiliknya seperti zakat, dan nafkah yang telah disyariatkan. Atas dasar ini seorang muslim tidaklah ditegah mencari kekayaan semata , namun menyadari bahwa pada dasarnya kekayaan adalah menjadi sarana setiap usaha yang dilakukan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bila seorang Muslim yang mempunyai kekayaan senantiasa bertaqwa dan menunaikan kewajiban yang telah difardhukan Allah maka dirinya termasuk dalam golongan wali-wali Allah; yang benar-benar bertaqwa kepada Allah.
Manakah yang lebih baik antara si fakir yang sabar atau si kaya yang bersyukur?
Sebagian ulama ahli fiqih berpendapat, golongan pertamalah yang lebih baik. Segolongan yang lain berpendapat bahwa golongan kedualah yang lebih baik. Tetapi hakikat yang sebenarnya adalah yang terbaik dari keduanya adalah mereka yang lebih bertaqwa kepada Allah.
Seorang muslim tidak selayaknya bersikap zuhud dengan mengelak diri dari melakukan kerja yang mendatangkan pendapatan dengan alasan zuhud atau menghindari diri dari tipu daya dunia dan untuk mengisi seluruh waktunya dalam beribadah kepada Allah. Karena hakikat zuhud yang sebenarnya adalah bertahta dalam hati, bukan pada anggota zahir. Ibadah tidak bertentangan dengan bekerja dan berusaha, namun bekerja dan mencari nafkah dengan cara yang halal adalah sebagian dari ibadah.
Dalam hadits disebutkan:
اليدالعليا خيرمن اليدالسفل
‘Tangan yang di atas (memberi) lebih baik dari tangan yang di bawah (menerima)’.
Manusia tidak akan dapat memberikan sesuatu kecuali beliau mempunyai sesuatu, dan kekayaan hanyalah sarana untuk mencapai keridhaan Allah. Selain dari itu adalah menjadi kewajiban kepada negara membantu seorang muslim dalam mendapatkan pekerjaan dengan menyediakan kemudahan dan memberikan bantuan berupa sarana dan prasarana untuk dapat bekerja dengan baik dan mendapatkan rezki yang halal.

13. Islam adalah jihad.
Islam adalah jihad, seperti yang dijelaskan oleh Al-Imam Syahid Hasan Al-Banna, maksudnya adalah bahwa Islam telah mewajibkan jihad.Dan Hakikat jihad adalah mengorbankan seluruh tenaga, waktu, fikiran dan harta pada jalan Allah, sekalipun sesuatu yang dikorbankan itu merupakan darah yang ditumpahkan dalam medan perang.
Jihad tidaklah terbatas pada pengorbanan jiwa saja, malah termasuk juga pengorbanan harta benda, jihad pena dan lidah. Seorang muslim dapat menunaikan jihad secara peribadi, sebagaimana dapat menunaikannya sebagai anggota dalam jamaah; seperti menjadi anggota dalam jamaah Ikhwan Muslimin. Sewaktu menunaikan jihad sebagai anggota dalam jamaah maka haruslah menselaraskan jihadnya dengan langkah-langkah jamaah, sehingga dengan penyelarasan ini hakikat jihad secara jamaah yang dilakukan oleh lkhwan akan tercapai.
Umat Islam saat ini banyak yang menyampingkan dan menjauhkan diri dari jihad, padahal jihad adalah fardhu ‘ain atas diri umat Islam, karena sebagian besar dari negara-negara Islam telah dirampas oleh orang-orang kafir. Umumnya Islam hari ini dalam keadaan kelemahan dan kehinaan yang menuntut supaya umat Islam berjihad pada jalan Allah demi membebaskan kaum Muslimin dari kelemahan dan kehinaan, dan juga menyelamatkan mereka dari kegelinciran ajaran Islam.Tegaknya sebuah negara yang benar-benar Islami merupakan suatu keharusan dan sebagai wasilah utama dan sangat penting dalam rangka menerapkan ajaran Islam. Karena itulah, menegakkan sebuah negara yang seperti ini adalah menjadi kewajiban Ikhwan. Oleh karena kewajiban ini dan kewajiban Islamiah lainnya merupakan satu kesatuan, maka dari itulah Ikhwan Muslimin saat ini rela mengorbankan seluruh tenaga, fikiran dan harta mereka untuk berjihad dan menegakkan syariat Allah.

14. Islam adalah dakwah
Islam juga mewajibkan seorang Muslim untuk melakukan dakwah, menyeru manusia kepada Allah melalui wasilah yang disyariat seperti tulisan, ceramah, pidato, melakukan perjalanan secara individu atau rombongan dan lainnya. Wasilah yang paling penting dalam dakwah adalah dengan cara menerapkan diri seorang muslim dengan corak dan gaya hidup Islam (dakwah bil hal) sehingga dengan demikian ia akan mampu menyeru manusia lain kepada Islam, karena mereka yang diseru dapat melihat pada dirinya suatu contoh yang hidup dengan nilai-nilai Islam.
Dunia Islam saat ini telah lama kehilangan uswah dan teladan yang patut dicontoh, karena itulah maka salah satu sarana dari asas-asas dakwah Islamiah adalah menitikberatkan tentang tarbiyah dan membentuk individu Muslim. Semoga dengan ini Ikhwan dapat menjadi contoh dan teladan Islamiah yang hidup. Kemudian menyebarkan contoh dan teladan tersebut ke dalam masyarakat dengan cara menarik pandangan masyarakat kepada contoh-contoh itu, sehingga mereka dapat melihat bagaimana Islam mencorakkan manusia dan menjadikannya sebagi cahaya yang bersinar di tengah-tengah masyarakat sekitar. Berdakwah menyeru kepada Islam adalah kewajiban setiap Muslim. Allah SWT berfirman:
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّه وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِآِينَ
“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutkan menyeru (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk ke dalam golongan orang musyrik’. “ (Yusuf: 108)Selain dari itu, sebagian dari kewajiban dalam Islam ialah menegakkan jamaah yang berdakwah kepada jalan Allah, jamaah yang dapat menyatukan para du’at, agar dengan penyatuan ini dapat memberikan pengaruh mereka yang lebih besar dan berfungsi dalam kehidupan manusia. Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maaruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang yang beruntung”. (Ali Imran:104)
Atas dasar inilah jamaah Ikhwan Muslimin berdiri demi menyambut dan menunaikan perintah Allah dan menyeru kepada jalan-Nya.

15. Islam adalah ketentaraan
Islam adalah ketentaraan, sebagaimana yang telah dimaksudkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna; bahwa ketentaraan adalah sebagian dari tanda-tanda zahir persiapan diri menghadapi jihad. Tentara adalah satu-satunya wasilah yang paling kuat untuk dapat menghadang musuh dan melakukan pertahanan. Adalah menjadi kenyataan bahwa menyediakan kekuatan tentara adalah memerlukan kepada perajurit, perbekalan dan senjata. Oleh karena itulah tiap-tiap individu dari umat Islam haruslah mendapatkan pendidikan ketentaraan baik dari sudut kedisiplinan, ketaatan, pembiasaan diri menanggung beban kesulitan, hidup yang tidak mengenal istirahat dan memiliki peraturan yang baik disamping menyediakan pelbagai bentuk persenjataan.

16. Islam adalah fikrah
Islam adalah fikrah, sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna; bahwa persediaan untuk kekuatan tentara haruslah tegak di atas fikrah yang tertentu, yaitu fikrah Islamiah. Dengan perkataan lain, kekuatan tentara Islam haruslah tegak di atas dasar untuk melaksanakan perintah Islam sesuai dengan manhajnya, juga untuk mempertahankan Islam dan menyeru manusia kepadanya.

Kebenaran juga memerlukan kekuatan yang dapat melindungi dan mempertahankannya dari penyerobotan dan pelemahan, kekuatan yang dapat menghilangkan ranjau-ranjau yang terdapat di pertengahan jalan. Tentara Islam telah mampu melindungi dakwah Islamiah dan menghilangkan berbagai rintangan dan ranjau yang ada di jalan. Dengan perlindungan ini manusia dapat melihat Islam, mengenal keindahannya dan mengetahui hakikatnya. Lantaran itulah, mereka telah memeluk Islam secara beramai-ramai.
Pedang tidak dapat memasukkan Islam ke dalam hati, tetapi pedang memainkan peranan dalam menghapuskan halangan yang merintangi Islam untuk masuk ke dalam hati manusia. Dengan terhapusnya rintangan itu maka hati manusia terus terbuka luas untuk menerima Islam, karena cahaya Islam dapat menerangi hati-hati tersebut.
Kalaulah Islam tersebar dengan pedang niscaya kita akan melihat kemajuan Islam di negara-negara Islam yang telah kehilangan kekuatan, tetapi hal ini tidak berlaku. Fikrah Islamiah diperlukan suatu bentuk pendekatan yang baru dan penerangan yang cukup, agar umat Islam dicorakkan dengan fikrah Islamiah.
Inilah yang diusahakan oleh Ikhwan sesuai kemampuan dan kekuatan mereka. Dunia hari ini telah menjadi medan pertarungan fikrah-fikrah yang beraneka ragam. Fikrah-fikrah ini dilatar belakangi oleh negara yang menganutinya. Negara-negara ini menggunakan seluruh tenaga dan kekuatannya untuk menyebarkan dan mempertahankan fikrah tersebut, tetapi tidak ada sebuah Negara pun hari ini yang menganut fikrah Islamiah dan tegak di atas prinsip-prinsip Islam serta menyumbangkan seluruh tenaga dan kekuatannya untuk mempertahankan dan menyebarkan Islam.
Bertolak dari asas ini, maka tanggungjawab Ikhwan amatlah besar. Di atas pundak merekalah terletak tugas dan kewajiban mempertahan dan menyebarkan Islam sehingga khilafah Islam yang sebenarnya dapat tegak diberbagai Negara Islam; khilafah yang dapat memikul tugas mempertahan dan menyebarkan dakwah Islamiah; yang dapat mengarahkan umat Islam dan kekayaan negara untuk mengembalikan kehidupan Islamiah yang telah sirna; yang menegakkan sebuah masyarakat Islam yang sebenarnya di permukaan bumi serta menghilangkan berbagai halangan yang merintangi dakwah Islamiah.

17. Islam adalah akidah yang benar dan ibadat yang sah
Akidah yang dimaksudkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna aalah suatu pegangan yang diterima dan merasuk dalam hati. Akidah seperti ini bisa jadi benar atau salah. Seandainya akidah itu benar, maka itulah akidah yang hakiki, tetapi sebaliknya akidah itu salah, maka itulah akidah yang batil, rusak dan dusta. Tidak ada dalam dunia ini akidah yang benar selain dari akidah Islam. Akidah-akidah lain yang bertentangan dengan akidah Islam adalah merupakan akidah-akidah yang batil dan sesat.

Akidah Islam tegak di atas iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, kepada nabi dan rasul yang diutus oleh Allah, hari akhirat dan mengimani bahwa Qadha dan Qadar adalah dari Allah.
– Iman kepada Allah tegak di atas dua asas;
1. Beriman akan rububiyyah Allah swt, maksudnya adalah dengan mengimani bahwa Allah swt yang telah menciptakandan menjadikan sesuatu, yang menghidup dan mematikan; yang memiliki dan berkuasa; dan juga sifat-sifat Allah yang lain.
2. Mengimani akan uluhiah Allah swt; yaitu mengimani bahwa Allah sajalah yang berhak menerima pengabdian. Dan inilah pengertian ‘La Ilaha Illa Allah’, pengabdian tidak seharusnya diberikan kepada selain dari Allah.
– Maksud beriman kepada malaikat percaya adanya makhluk yang bergelar malaikat. Jumlah malaikat hanya diketahui oleh Allah saja. Sementara Jibrail, Mikail, Israfil, Izrail adalah sebagian dari nama malaikat tersebut.
– Makna Beriman dengan kitab-kitab yang diturunkan dari langit adalah mengimani bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul-Nya, mengimani bahwa kitab-kitab tersebut adalah kalam Allah, seperti kitab Taurat dan Injil; juga mengimani bahwa kitab dan kalam Allah yang terakhir diturunkan adalah Al-Quran. Rasulullah saw hanyalah bertugas untuk menyampaikan Al-Quran kepada manusia. Oleh itu lafaz dan makna Al-Quran adalah dari Allah. Al-Quran adalah terpelihara dari berbagai penyimpangan dan kekurangan.
– Mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur’an telah terjadi penambahan atau kekurangan berlaku dalam Al-Quran adalah keluar dari landasan Islam.
– Adapun yang dimaksudkan dengan beriman kepada rasul-rasul ialah beriman kepada semua rasul-rasul yang diutuskan Allah, bilangan para rasul itu sangat banyak dan Al-Quran telah menyebutkan sebagian dari mereka sementara sebagian yang lainnya tidak disebutkan. Termasuk dalam pengertian beriman kepada rasul-rasul ialah mengimani bahwa Muhammad saw adalah rasul akhir zaman, tidak ada nabi sesudah Rasulullah saw. Mengimani dan mengikuti ajaran Muhammad saw adalah wajib. Manusia tidak bebas mengikuti ajaran lain atau beri’tikad bahwa Muhammad saw bukan rasul yang diutuskan Allah. Mereka yang beri’tikad demikian telah terkeluar dari Islam dan kufur.
– Adapun maksud beriman dengan hari akhirat adalah membenarkan bahwa setelah kehidupan dunia ini masih ada kehidupan lainnya yaitu akhirat, karena Allah akan menghidupkan manusia sekali lagi dan melakukan hisab terhadap perbuatan dan amalan mereka di dunia. Hasil dari hisab ini menjadikan segolongan manusia dimasukkan ke dalam surga dan sebagian yang lainnya dimasukkan ke dalam neraka.
Pengumpulan di padang mahsyar, hisab dan balasan ini dilakukan atas roh dan jasad manusia. Kita berkeyakinan bahwa syafaat Rasulullah saw di hari akhirat adalah benar dan hak, dan syafaat ini berlaku dengan izin Allah terhadap mereka yang dikehendaki Allah. Kita juga berikeyakinan bahwa azab dan nikmat kubur adalah benar dan hak.
– Adapun manusia beriman dengan qadha dan qadar (baik dan buruk) adalah mengimani bahwa apa yang berlaku di dunia ini adalah dengan perbuatan, ilmu dan kehendak Allah. Dan manusia bertanggungjawab terhadap perbuatan dan amalannya. Manusia tidak berhak menjadikan qadha dan qadar sebagai alasan, karena Allah memiliki hujah yang putus terhadap hambanya.

18. Islam adalah ibadah yang sah
Islam adalah ibadah yang sah; sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna; bahwa Islam mengandungi berbagai bentuk ibadah. Sebagiannya ialah ibadat hati seperti kasih, takut, percaya dan tawakkal kepada Allah. Sebagian yang lain adalah ibadat anggota zahir seperti zikrullah, menunaikan kewajiban yang telah difardhukan Allah seperti shalat, puasa dan haji.
Semua ibadat-ibadat ini tegak di atas dua asas:
1. Ibadah-ibadah yang sesuai menurut apa yang telah disyariatkan Allah;
2. Ibadah-ibadah yang ikhlas karena Allah semata.

Di atas dua asas ini, melakukan Bid’ah dalam agama adalah haram dan mereka yang beribadah kepada Allah menurut cara yang bid’ah tidak mendapat ganjaran dan keuntungan namun menanggung kerugian. Demikian juga keadaannya mereka yang melakukan ibadah yang pada zahirnya menurut apa yang telah disyariatkan, tetapi ibadah tersebut tidak dilakukan dengan ikhlas karena Allah, namun dengan tujuan yang lain. Mereka yang melakukan ibadat seperti ini juga akan mendapat kerugian.
Kita berdoa kepada Allah supaya memberi taufik kepada kita untuk melakukan ibadah yang sah dan menjadikan ibadat tersebut ikhlas kepada Allah semata.
Selain dari itu saudara haruslah mengetahui bahwa semua bentuk amal, sekalipun yang harus jika dilakukan dengan ikhlas kepada Allah dan untuk mendapatkan keredhaan Allah, maka amal-amal tersebut akan menjadi amal saleh yang akan diganjari pahala.
Sumber : Al-Ikhwan.net

 

Kaidah Ushul Fiqh Dalam Dakwah

Kaidah 1: memberi keteladanan sebelum berdakwah
Kaidah 2: Mengikat hati sebelum menjelaskan
Kaidah 3: Mengenalkan sebelum memberi beban
Kaidah 4: Bertahap dalam pembebanan
Kaidah 5: Memudahkan, bukan menyulitkan
Kaidah 6: Yang Pokok sebelum yang cabang
Kaidah 7: Membesarkan hati sebelum memberi ancaman
Kaidah 8: Memahamkan bukan mendikte.
Kaidah 9: Mendidik, bukan menelanjangi
Kaidah 10: Muridnya guru, bukan muridnya buku
Sumber ‘Fiqih Dakwah’ oleh Jum’ah Amin Abdul Aziz