Tag Archives: Hati

Sunan Bonang – Menjadi Pribadi yang Menang

​*Menjadi Pribadi yang Menang (Falsafah Hidup Sunan Bonang)*

Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam arena peperangan *“Baratayudha”* _(jihad)_ antara kekuatan _nafsu muthmainnah/_ nafsu yang tenang/ sumber inspirasi ilahi _(Pendawa Lima)_ melawan _nafsu ammarah/_ nafsu yang mengajak pada keburukan, dan _nafsu lawwamah/_ nafsu yang mengajak pada penyesalan masa lalu, dan kebimbangan masa depan  (100 pasukan Kurawa).

Perang berlangsung di medan perang  yang bernama *“Padang Kurusetra”* _(Kalbu)._ Melambangkan peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang adalah perang melawan diri sendiri yang letaknya di dalam kalbu. Continue reading Sunan Bonang – Menjadi Pribadi yang Menang

Cium Tangan Sang Guru

Mungkin guru ngaji kita seorang ustadz yang sederhana, tidak rupawan, tidak ahli ceramahan, tidak dapat gajian, tidak punya gelar pendidikan, tidak dikenal banyak orang, tidak pernah tampil di tv, radio dan koran, dan mungkin penampilannya kampungan…

MUNGKIN DIMATA DUNIA BELIAU TIDAK DIPERHITUNGKAN!

Tapi ingatlah 8 jasa-jasa luar biasa guru ngaji kita dibawah ini yang tidak bisa dinilai dengan apapun..

1. Jika iman adalah jalan keselamatan, ketenangan dan kebahagia dunia akhirat. maka ingat, guru ngaji kita lah yang menanamkan iman pada kita.

2. Jika isi otak, hati dan jiwa manusia lebih utama daripada isi perut manusia. maka ingat, guru kitalah yang telah mengisi ilmu dan ruhiyah otak, hati dan jiwa kita. Continue reading Cium Tangan Sang Guru

Kendalikan Nafsumu

Sahabat yang baik,
jangan coba menyerah untuk kendalikan nafsu
dan jangan menyerah untuk mencoba bersabar dalam meluruskan rayuan nafsu.

Ketahuilah! Ia tidak pernah bosan untuk meminta, menuntut dan memenuhi semua keinginannya.
Nafsu seperti anak kecil yang terus merengek dan untuk itulah ia mesti disapih dengan baik.
Senanglah mendidik nafsu dengan ilmu dan mintalah pertolongan Alloh dari keburukan nafsu.

Berdoalah, Wahai yang membolak balikan hati, tetapkanlah hati kami diatas petunjuk agamamu dan diatas ketaatan kepadaMu.

www.harisanusi.com

Hati yang Paling Baik

Berkata Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad:

 
يا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ ربَّانيٌّ،ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ،وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّناعقٍ يميلون مع كلِّرِيح؛ لم يستضيئوا بنورالعلم ولم يلجَئوا إلىركنٍ وثيقٍ؛
العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُالمالَ، العلمُ يزكُوْ علىالعمل والمالُ تنقُصُه النفقةُ،ومحبةُ العالم دينٌ يُدانبها، العلمُ يُكسِب العالمَالطاعةَ في حياته وجميلَالأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُالمال تزول بزواله، ماتخُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ،والعلماءُ باقُون ما بقيالدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ.

 

“Wahai Kumail bin Ziyaad! Hati adalah wadah, maka hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan); hafalkanlah apa yang akan aku katakan kepadamu !

Continue reading Hati yang Paling Baik

Tempat Hati Nurani yang Rendah dan Tinggi

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Al-Fawaid mengatakan: 
Hati memiliki enam tempat yang selalu dia jelajahi.
 Tiga tempat rendah dan tiga tempat tinggi. 
Tiga tempat rendah yang selalu dia jelajahi dan jumpai adalah: 
(1) dunia yang berhias untuk menggodanya, 
(2) hawa nafsu yang berbisik kepadanya, dan 
(3) setan yang selalu mengusik keberadaannya. 

Adapun tiga tempat tinggi yang selalu dia jelajahi dan jumpai adalah: 
(1) ilmu yang menunjukinya, 
(2) akal yang membimbingnya, dan 
(3) Illah yang disembahnya. 
Maka Sejauh mana hati kita terpaut dengan Allah, sejauh itu pula keterpautan hati makhluk kepada kita. Siapa yang hatinya senang melayani Allah, niscaya Allah akan menjadikan makhluk merasa senang melayaninya. Siapa yang hatinya sejuk dengan mengingat Allah, niscaya Allah akan menjadikan hati makhluk merasa sejuk dengan memandangnya.

Kaidah Ushul Fiqh Dalam Dakwah

Kaidah 1: memberi keteladanan sebelum berdakwah
Kaidah 2: Mengikat hati sebelum menjelaskan
Kaidah 3: Mengenalkan sebelum memberi beban
Kaidah 4: Bertahap dalam pembebanan
Kaidah 5: Memudahkan, bukan menyulitkan
Kaidah 6: Yang Pokok sebelum yang cabang
Kaidah 7: Membesarkan hati sebelum memberi ancaman
Kaidah 8: Memahamkan bukan mendikte.
Kaidah 9: Mendidik, bukan menelanjangi
Kaidah 10: Muridnya guru, bukan muridnya buku
Sumber ‘Fiqih Dakwah’ oleh Jum’ah Amin Abdul Aziz