Tag Archives: Shalat

Teman Dalam Kubur

Baiklah, sekarang fokuskan dirimu, luangkan waktu sebentar saja, kita akan bermain dengan imajinasi. Bayangkanlah hal berikut.
Berapa banyak kenalan dalam daftar kontakmu sekarang ini? 800? 1000? 1500? Saya yakin banyak sekali. Sekarang coba kamu pilah lagi, dari sekian banyak kontak tadi, berapa orang yang kamu anggap temanmu? 400? 500? 600?,
Ok sekarang kecilkan lagi, dari sekian banyak temanmu itu berapa orang yang benar-benar dekat denganmu? 100? 200? Semakin sedikit kan.
Ok, fokus ya. Dari mereka yang dekat tadi, berapa orang yang kamu rasakan bersahabat karib? Hmmm..10? 20? Ini mungkin terlalu banyak. Ok anggaplah 10 orang. Bayangkan baik-baik. Tetap fokus.
Dari sisa 10 orang tadi, berapa orang yang layak kamu anggap seperti saudara kandung yg bisa saling berbagi suka dan duka, rela berkorban jiwa dan raga, sehidup semati? ..erhmm…kamu terlalu lama berfikir. Ok anggaplah ada, 1 atau 2 mungkin masih masuk akal.  Continue reading Teman Dalam Kubur

Rahasia Iblis

Suatu ketika Allah SWT memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis agar menghadap Baginda Rasul saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disuka maupun yangdibencinya. Hal ini dimaksudkan untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad saw dan juga sebagai peringatan dan perisai umat manusia.

Kemudian Malaikat itupun mendatangi Iblis dan berkata : “Hai
Iblis! Engkau diperintah Allah untuk menghadap Rasulullah saw. Bukalah semua rahasiamu dan jawablah setiap pertanyaan Rasulullah dengan jujur. Jika engkau berdusta walau satu perkataanpun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat pedih”. Continue reading Rahasia Iblis

Amalan Berpahala Haji

1.KELUAR DARI RUMAH MENUJU SHALAT FARDHU DI MASJID DALAM KONDISI SUDAH BERSUCI.

Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu, pahalanya seperti pahala haji orang berihram.” (Shahih: Shahih Abu Dawud, no 558)

2. SHALAT BERJAMA’AH DI MASJID KEMUDIAN DUDUK BERDZIKIR SAMPAI TERBIT MATAHARI LALU SHALAT 2 RAKA’AT


Continue reading Amalan Berpahala Haji

Panduan Cara Shalat Gerhana Bulan dan Matahari

Tata Cara Shalat Gerhana
Panduan Hukum Sholat Gerhana
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum sholat gerhana. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa sholat gerhana hukumnya adalah sunnah mu`akkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Bahkan sampai ada yang mengklaim bahwa hukum sunnah mu`akkadah ini adalah dengan dasar ittifaq al-Fuqohâ` (kesepakatan ulama ahli fikih). Imam Nawawîrahimahullâhu juga berpendapat demikian, beliau mengatakan:
وأجمع العلماء على أنها سنة
“Para ulama berkonsensus bahwa hukum sholat gerhana adalah sunnah” (Syarh Shahîh Muslim VI/451)

Pendapat Imam Nawawî ini perlu ditinjau ulang. Sebab, ada sebagian ulama yang berpandangan bahwa sholat gerhana hukumnya adalah wajib. Sebagaimana dituturkan oleh al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullâhu, beliau berkata :
فالجمهور على أنها سنة مؤكدة، وصرح أبو عوانة في صحيحه بوجوبها، ولم أره لغيره، إلا ما حُكي عن مالك أنه أجراها مجرى الجمعة، ونقل الزين بن المنير عن أبي حنيفة أنه أوجبها، وكذا نقل عن بعض مصنفي الحنفية أنها واجبة
“Jumhur berpendapat bahwa hukumnya (sholat gerhana) adalah sunnah mu`akkadah. Abû ‘Awânah menegaskan di dalam Shahîh-nya bahwa hukumnya wajib. Saya tidak melihat ada orang lain yang berpendapat demikian, kecuali yang diriwayatkan dari Mâlik bahwa beliau menganggap pelaksanannya sama dengan sholat Jum’at. Az-Zain bin al-Munîr mengutip dari Abu Hanifah bahwa beliau mewajibkanya, demikian pula dinukil dari sebagian penulisMushonnaf yang bermadzhab Hanafiyah bahwa sholat gerhana hukumnya wajib.” (Fath al-Bârî II/527)
Ahli Tafsir kontemporer, al-‘Allâmah as-Sa’dî rahimahullâhu mengatakan :
وقال بعض العلماء بوجوب صلاة الكسوف؛ لأن النبي r فعلها وأمر بها
“Sebagian ulama berpendapat akan wajibnya sholat gerhana, sebab Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam mengamalkan dan memerintahkannya.” (al-Mukhtârât al-Jalîyah minal Masâ`ili al-Fiqhîyah hal. 73)
Pendapat yang râjih adalah : sholat gerhana hukumnya adalah wajib. Sebagaimana dituturkan oleh Faqîh az-Zamân, al-‘Allâmah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullâhu beliau berkata :
“Sebagian ulama berpendapat bahwa sholat gerhana wajib hukumnya, dengan dasar sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam : “Apabila kalian melihat gerhana, maka sholatlah”. Ibnul Qoyyim berkata di dalam buku beliau, Kitâb ash-Sholâh, pendapat yang kuat dalam masalah ini yaitu wajib hukumnya. Beliau rahimahullâhu benar, sebab Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan sholat gerhana dan beliau sendiri keluar (dari rumahnya) dalam keadaan ketakutan. Beliau berkata bahwa (hikmah syar’i terjadinya) gerhana untuk menakuti (manusia). Nabi pun berkhutbah dengan khutbah yang agung dan dipaparkan kepada beliau surga dan neraka. Kesemua ini merupakan indikasi (qorînah) yang besar atas kewajiban sholat gerhana. Seandainya kita katakan bahwa sholat gerhana tidak wajib, sedangkan manusia di kala terjadinya gerhana mereka meninggalkan sholat, padahal ada perintah dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam dan ada penekanan untuk melaksanakannya, namun mereka dianggap tidak berdosa. Maka pendapat ini perlu diteliti kembali. Bagaimana mungkin gerhana itu untuk menakuti manusia namun kita tidak memperdulikannya seakan-akan ini suatu hal yang biasa. Lantas di mana rasa takut kita? Sungguh pendapat (Ibnul Qoyyim) ini adalah pendapat yang sangat kuat. Saya tidaklah memandang bahwa manusia ketika mendapati gerhana matahari atau bulan, kemudian mereka tidak mempedulikannya, semuanya sibuk dengan perniagaannya, sibuk dengan bersenda gurau, dan semuanya sibuk dengan perkebunannya. Maka hal ini dikhawatirkan akan menjadi penyebab turunnya hukuman yang Allôh telah memperingatkannya dengan terjadinya gerhana ini. Maka pendapat akan wajibnya sholat gerhana lebih kuat ketimbang pendapat yang menyatakan sunnah.” (asy-Syarh al-Mumti’ V/237-240)
Pendapat ini pula yang dipegang oleh Syaikhunâ Masyhur Hasan Âlu Salmân hafizhahullâhudi dalam buku beliau al-Qoul Mubîn fî Akthâ’il Mushollîn.
Adab & Anjuran Ketika Terjadi Gerhana
Ketika terjadi gerhana, baik gerhana matahari dan bulan, dianjurkan dan disunnahkan untuk melakukan sebagai berikut :
1. Merasa takut kepada Allôh Ta’âlâ di kala terjadi gerhana.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi Sallam :
إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله، لا ينكسفان لموت أحد، ولكن الله يخوِّف بهما عباده
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda diantara tanda-tanda Allôh. Gerhana matahari dan bulan terjadi bukan disebabkan oleh kematian seseorang. Akan tetapi Allôh bermaksud menakuti hamba-hamba-Nya dengannya.” (HR Bukhârî)
Di dalam hadits Abû Burdah dari Abû Mûsâ Radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata :
خسفت الشمس فقام النبي r فَزِعًا يخشى أن تكون الساعة، فأتى المسجد فصلى بأطول قيام، وركوع، وسجود رأيته قط يفعله، وقال: ((هذه الآيات التي يرسل الله لا تكون لموت أحد ولا لحياته،ولكن يخوِّف الله بها عباده،فإذا رأيتم شيئًا من ذلك فافزعوا إلى ذكر الله ودعائه، واستغفاره))
“Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi Shallallâhu ‘alaihi Sallam sontak berdiri terkejut dan merasa ketakutan kiamat akan datang. Beliau lantas pergi ke masjid dan melakukan sholat yang panjang berdiri, ruku’ dan sujudnya. Aku melihat beliau begitu ajegnya melakukannya. Setelah itu Nabi bersabda : “Gerhana ini adalah tanda-tanda yang Allôh mengutusnya bukan disebabkan karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun gerhana ini diutus supaya Allôh menakuti hamba-hamba-Nya. Apabila kalian melihat sesuatu dari gerhana, maka takutlah dan bersegeralah berdzikir kepada Allôh, berdoa dan memohon pengampunan-Nya.” (Muttafaq ‘Alaihi)
Al-Hâfizh berkata : “Bisa jadi ketakutan Nabi Shallallâhu ‘alaihi Sallam ketika terjadinya gerhana merupakan pendahuluan terjadinya tanda-tanda kiamat (besar), seperti terbitnya matahari dari barat. Bukanlah suatu hal yang mustahil terjadinya gerhana merupakan perantara terbitnya matahari (dari timur) dengan terbitnya matahari (dari barat)…” (Fathul Bârî II/546)
Jadi, hendaknya seorang mukmin tatkala mendapati gerhana, ia merasa takut kepada AllôhTa’âlâ, khawatir Allôh akan menurunkan adzabnya kepada kita. Apabila Nabi yang mulia‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm saja merasa takut, padahal beliau adalah hamba Allôh yang paling dicintai Allôh, lantas mengapa kita melewati waktu gerhana dengan perasaan biasa saja, bahkan kita lalui dengan perbuatan-perbuatan yang sia-sia, bahkan maksiat.
2. Berusaha menghadirkan apa yang dilihat oleh Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallamberupa perkara­-perkara besar yang dilihat beliau ketika sholat gerhana.
Hal ini akan membuahkan rasa takut kepada Allôh Ta’âlâ. Karena Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di dalam sholat gerhana, melihat surga dan neraka. Beliau sampai-sampai berhasrat hendak meraih setandan buah dari surga sehingga beliau merasa gembira. Beliau juga melihat beberapa bentuk siksa api neraka. Beliau melihat seorang wanita yang diadzab oleh sebab kucingnya, beliau melihat ‘Amrû bin Luhay menyeret ususnya di api neraka dan dia adalah orang pertama yang merubah agama Ibrâhîm ‘alaihi as-Salâm. Dan beliau melihat bahwa penghuni neraka terbanyak adalah kaum wanita, disebabkan mereka seringkali membangkang untuk berlaku baik terhadap suaminya.
Dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘anhumâ beliau berkata bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda selepas gerhana :
إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته، فإذا رأيتم ذلك فاذكروا الله
“Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda dari tanda-tanda Allôh. Gerhana matahari dan bumi tidaklah terjadi oleh sebab kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat gerhana maka berdzikirlah kepada Allôh.” 
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasûlullâh, kami melihat Anda sedang meraih sesuatu di tengah sholat kemudian kami melihat Anda mundur ke belakang.”
Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam menjawab :
إني رأيت الجنة فتناولت منها عنقودًا، ولو أصبته لأكلتم منه ما بقيت الدنيا، ورأيت النار فلم أرَ منظرًا كاليوم قط أفظع، ورأيت أكثر أهلها النساء
“Sesungguhnya aku tadi melihat surga dan aku tadi berupaya meraih setandan buah-buahan darinya. Seandainya kamu mendapatkannya dan memakannya, niscaya kamu (tidak butuh lagi makanan) di dunia. Kemudian aku melihat neraka dan belum pernah aku melihat pemandangan yang ngerinya seperti itu. Dan kulihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.”
Para sahabat bertanya, “Oleh sebab apa wahai Rasûlullâh?” Rasûlullâh menjawab, “oleh sebab kekufuran mereka”. Mereka bertanya lagi, “apa karena mereka kufur kepada Allôh?”. Rasûlullâh menjawab :
يكفرن العشير ويكفرن الإحسان، لو أحسنت إلى إحداهن الدهر كلَّه، ثم رأت منك شيئًا قالت: ما رأيت منك خيرًا قط
“Mereka mengkufuri suami dan kebaikannya. Apabila kalian berbuat baik kepada salah seorang dari wanita setiap waktu, kemudian dia melihat ada sesuatu yang kurang baik darimu, dia akan berkata : “aku tidak pernah melihatmu berbuat baik sedikitpun.”.” (Muttafaq ‘alaihi)
3. Menyeru untuk melakukan sholat jama’ah.
Sebagaimana dalam hadits ‘Abdullâh bin ‘Amr Radhiyallâhu ‘anhumâ beliau berkata :
لَمّا كسفت الشمس على عهد رسول الله r نودي: إن الصلاة جامعة
“Ketika terjadi gerhana matahari di zaman Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, diserukan : “Sesungguhnya sholat secara berjama’ah”.” (Muttafaq ‘alayhi)
Juga sebagaimana di dalam hadits ‘Â`isyah Radhiyallâhu anhâ beliau berkata :
خسفت الشمس على عهد رسول الله r، فأمر النبي r مناديًا ينادي أن الصلاة جامعة، فاجتمعوا واصطفوا فصلى بهم أربع ركعات في ركعتين وأربع سجدات
“Pada zaman Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam terjadi gerhana matahari, lalu NabiShallallâhu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menyerukan sholat secara berjama’ah. Kemudian para sahabat berkumpul dan berbaris melakukan sholat empat kali ruku’ dan sujud di dalam dua rakaat.” (HR an-Nasâ`î dan Abû Dâwud, dishahihkan oleh al-Albânî di dalamIrwâ` al-Gholîl no 658).
4. Tidak ada adzan dan iqomah pada sholat gerhana.
Karena Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukan sholat gerhana tanpa adzan dan iqomah. Barangsiapa yang melakukan sholat gerhana secara berjama’ah diawali dengan adzan dan iqomah, maka ia harus menunjukkan dasar dan tuntunannya dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.
Al-Hâfizh Ibnu Hajar menukil ucapan Ibnu Daqîq al-Îd tentang sholat gerhana, beliaurahimahullâhu berkata :
وقد اتفقوا على أنه لا يُؤَذَّنُ لها ولا يُقام
“Telah sepakat para ulama bahwa sholat gerhana tidak ada adzan dan iqomah…” (Fathul Bârî II/533)
Al-Imâm Ibnu al-Qudâmah rahimahullâhu berkata :
ويُسَنُّ أن ينادى لها: الصلاة جامعة.. ولا يسن لها أذان ولا إقامة
“Disunnahkan untuk menyerukan di sholat gerhana dengan ash-Sholâh Jâmi’ah… dan tidak disunnahkan melakukan adzan dan iqomah.” (al-Mughnî III/323)
5. Mengeraskan bacaan ketika sholat gerhana.
Dan mengeraskan bacaan ini hukumnya adalah sunnah, sebagaimana dalam hadits ‘Â`isyahRadhiyallâhu ‘anhâ beliau berkata :
جهر النبي r في صلاة الكسوف بقراءته، فإذا فرغ من قراءته كبَّر فركع، وإذا رفع من الركعة قال: ((سمع الله لمن حمدهُ ربنا ولك الحمد)) ثم يعاود القراءة في صلاة الكسوف أربع ركعات في ركعتين، وأربع سجدات
“Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam mengeraskan bacaan beliau ketika sholat gerhana. Apabila beliau selesai membaca al-Qur`ân, maka beliau bertakbir kemudian ruku’. Ketika bangkit dari ruku’ beliau mengucapkan Sami’a-Llôhu liman hamidahu Robbanâ walaka-l hamdu, kemudian beliau mengulangi membaca al-Qur`an di sholat gerhana sebanyak empat ruku’ dan sujud dalam dua raka’at.” (Muttafaq ‘alaihi)
Para ulama berbeda pendapat tentang mengeraskan bacaan di sholat gerhana. Hanafiyah berpendapat bahwa sholat kusuf (gerhana matahari) dilakukan dengan sirr (lirih) dengan argumentasi bahwa hukum asal sholat di siang hari adalah dengan bacaan lirih. Adapun sholat khusûf dilakukan secara sendiri-sendiri dengan bacaan yang lirih. Mâlikiyah dan Syâfi’iyah berpendapat, sholat gerhana matahari dilakukan dengan lirih karena dilakukan di siang hari, sedangkan sholat gerhana bulan dilakukan dengan jahr (bacaan keras) karena dilakukan pada malam hari. Hanâbilah berpendapat bahwa sholat gerhana matahari dan bulan, kedua-duanya dilakukan dengan mengeraskan bacaan.
Yang lebih râjih adalah, mengeraskan bacaan ini dilakukan baik untuk sholat gerhana di siang hari ataupun sholat gerhana di malam hari, sebagaimana dalam hadits ‘Â`isyahRadhiyallâhu ‘anhâ di atas. Sebab, sunnah yang disyariatkan di dalam sholat jama’ah adalah mengeraskan bacaan, sebagaimana di dalam sholat istisqô’ (sholat minta hujan), sholat Îd dan sholat Tarâwîh. Demikianlah pendapat yang lebih râjih insyâ Allôh dan pendapat inilah yang dipegang oleh Imam Ibnu Qudâmah dan Ibnu Qoyyim al-Jauziyah.
6. Melakukan sholat gerhana secara berjama’ah di masjid.
Sebagaimana dalam hadits Â’isyah Radhiyallâhu ‘anhâ, beliau berkata :
خرج النبي صلى الله عليه وسلم إلى المسجد، فقام وكبر، وصف الناس وراءه
“Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju ke masjid, kemudian beliau berdiri dan bertakbir, sedangkan manusia berbaris di belakang beliau.” (Muttafaq ‘alaihi)
Para ulama berbeda pendapat tentang disyariatkannya jama’ah pada sholat gerhana. Mereka membedakan antara sholat kusûf (gerhana matahari) dan khusûf (gerhana bulan).
Ulama ahli fikih bersepakat bahwa sholat gerhana matahari disunnah untuk dilaksanakan secara berjama’ah di masjid dan diserukan sebelumnya dengan seruan : “ash-Sholatu Jâmi’ah”. Syâfi’iyah dan Hanâbilah memperbolehkan untuk melakukannya secara sendiri-sendiri (munfarid), dengan alasan berjama’ah hanyalah sebatas sunnah saja, bukanlah merupakan syarat. Sedangkan Hanafiyah berpendapat, apabila imam tidak datang, maka manusia boleh sholat sendiri-sendiri di rumah mereka.
Adapun sholat gerhana bulan, Hanafiyah dan Mâlikiyah berpendapat lebih disukai untuk melaksanakannya secara munfarid sebagaimana sholat-sholat sunnah lainnya. Sebab, menurut mereka, sholat gerhana bulan belum pernah ada yang menukilkan pernah dilaksanakan oleh Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, padahal gerhana bulan itu lebih sering terjadi ketimbang gerhana matahari. Mereka juga beralasan bahwa hukum asal sholat yang bukan wajib adalah tidak dilaksanakan secara berjama’ah dan dilakukan di rumah, sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam :
صلاة الرجل في بيته أفضل إلا المكتوبة
“Sholatnya seseorang di rumahnya adalah lebih utama, kecuali sholat yang wajib.”
Kecuali, apabila ada dalil khusus yang menunjukkan pelaksanaannya secara berjama’ah, seperti sholat îd, tarawih dan gerhana matahari. Menurut mereka, berkumpul pada malam hari dapat menyebabkan timbulnya fitnah.
Sedangkan Syâfi’iyah dan Hanâbilah berpendapat bahwa sholat gerhana bulan (khusûf) dilakukan secara berjama’ah sebagaimana sholat gerhana matahari (kusûf). Mereka juga melandaskan pendapatnya dengan riwayat Ibnu ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘anhumâ yang melakukan sholat gerhana bulan bersama manusia di masjid, beliau berkata :
صليت كما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Saya melakukan sholat sebagaimana saya melihat Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallammelakukannya.”
Sebagaimana pula di dalam hadits Mahmûd bin Lubaid, beliau mengatakan :
فإذا رأيتموها كذلك فافزعوا إلى المساجد
“Apabila kalian melihat gerhana bulan, maka bersegeralah ke masjid.”
Pendapat yang râjih adalah, tidak ada bedanya antara sholat gerhana matahari dan bulan. Disunnahkan untuk melakukannya secara berjama’ah di masjid, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Qudâmah. Walaupun dibolehkan melakukannya secara sendiri-sendiri, namun mengamalkannya secara berjama’ah adalah lebih utama, sebab nabi melakukan sholat gerhana secara berjama’ah dan disunnahkan untuk mengamalkannya di masjid. (al-Mughnî III/323)
Wallôhu a’lam bish showâb.
7. Wanita juga ikut sholat gerhana.
Sebagaimana ‘Â`isyah dan Asmâ` Radhiyallâhu ‘anhumâ melakukan sholat gerhana bersama Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Dari Asmâ` binti Abî Bakr Radhiyallâhu ‘anhumâbeliau berkata :
أتيت عائشة رضي الله عنها زوج النبي r – حين خسفت الشمس – فإذا الناس قيام يصلون، وإذا هي قائمة تصلي، فقلت: ما للناس؟ فأشارت بيدها إلى السماء، وقالت: سبحان الله، فقلتُ: آية؟ فأشارت أي نعم…
“Saya mendatangi ‘Â`isyah Radhiyallâhu ‘anhâ, isteri Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallamketika terhadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan sholat. Ketika beliau (‘Â`isyah) turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya : “Kenapa orang-orang ini?”. Beliau mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, “maha suci Allôh”. Saya bertanya : “tanda (gerhana)?”, beliau memberikan isyarat untuk mengatakan iya…”
Imam Bukhârî membuat bab di dalam Shahîh-nya “Bâb ash-Sholâh an-Nisâ` ma’a ar-Rijâl fî al-Kusûf” (Bab tentang sholatnya kaum wanita bersama pria di sholat gerhana). Al-Hâfizh mengomentari : “Beliau menunjukkan dengan bab ini untuk membantah orang yang berpendapat dilarangnya wanita sholat gerhana” (Fath al-Bârî II/543). Imam Nawawî mengatakan : “hal ini menunjukkan disunnahkannya sholat gerhana bagi wanita, dan posisinya di belakang kaum pria.” (Syarh Shahîh Muslim VI/462).
8. Sholat gerhana juga dilakukan walaupun dalam keadaan safar.

Dalilnya adalah sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam :
إن الشمس والقمر لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته، ولكنهما آيتان من آيات الله فإذا رأيتموهما فصلوا
“Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan terjadi bukanlah disebabkan oleh kematian atau kelahiran seseorang, namun keduanya merupakan dua tanda dari tanda-tanda Allôh. Apabila kalian melihatnya, maka sholatlah!.” (HR Bukhârî)
Imam Ibnu Qudâmah rahimahullâhu berkata :
وتشرع في الحضر والسفر، بإذن الإمام وغير إذنه
“Disyariatkan sholat gerhana baik dalam keadaan menetap maupun bepergian (safar), baik dengan izin imam maupun tanpa izin imam.” (al-Mughnî III/322)
9. Memperpanjang bacaan sholat.
Sebagaimana hadits Ibnu ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘anhumâ tentang sifat sholat gerhana Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, yaitu bacaannya sepanjang surat al-Baqoroh kemudian melakukan ruku’ dengan panjang. Lalu beliau berdiri kembali dengan panjang namun tidak sepanjang rakaat pertama, dan melakukan ruku’ dengan panjang namun tidak sepanjang ruku’ pertama.” (Muttafaq ‘alaihi)
Namun, panjangnya sholat hendaklah tidak sampai memperberat makmum. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam Ibnu Baz rahimahullâhu di dalam kumpulan fatwa beliau, Majmû’ Fatâwa wa Maqolât Mutanawwi’ah (XIII/35).
10. Disunnahkan untuk khutbah.
Sebagaimana hadits ‘Â`isyah Radhiyallâhu ‘anhâ beliau berkata : “Sesungguhnya NabiShallallâhu ‘alaihi wa Sallam keluar dari kediamannya dan tengah terjadi gerhana matahari saat itu. Kami pun keluar menuju ke kamar dan kami bergabung dengan wanita-wanita lainnya… kemudian Nabi melakukan sholat berdiri yang panjang, lalu ruku’ dengan panjang. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan berdiri cukup panjang namun tak sepanjang berdirinya yang pertama, kemudian beliau ruku’ tak selama ruku’nya yang pertama. Lalu beliau sujud kemudian beliau berdiri kembali dan melakukan hal yang sama dengan rakaat pertama namun tak sepanjang rakaat pertama. Kemudian beliau sujud dan matahari pun mulai muncul. Setelah selesai, beliau baik di atas mimbar dan berkata :
إن الناس يفتنون في قبورهم كفتنة الدجال
“Sesungguhnya manusia akan difitnah di dalam kubur mereka sebagaimana fitnahnya Dajjâl”
Di dalam riwayat yang lain. ‘Â`isyah Radhiyallâhu ‘anhâ berkata : “Kami mendengar khutbah beliau selepas sholat gerhana, beliau memperingatkan dari siksa kubur.” (HR an-Nasâ’î).
Beberapa ulama Mâlikiyah, Hanafiyah dan sebagian riwayat dari Hanâbilah berpendapat tidak adanya khutbah sholat gerhana. Menurut mereka, tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukan khutbah. Sedangkan Syâfi’iyah dan madzhab ahli hadits menetapkan adanya khutbah.
Imam Nawawî rahimahullâhu berkata :
اختلف العلماء في الخطبة لصلاة الكسوف فقال الشافعي، وإسحاق، وابن جرير، وفقهاء أصحاب الحديث يستحب بعدها خطبتان، وقال مالك وأبو حنيفة: لا يستحب ذلك،ودليل الشافعي الأحاديث الصحيحة،في الصحيحين وغيرهما أن النبي r خطب بعد صلاة الكسوف
“Para ulama berbeda pendapat tentang khutbah sholat gerhana. Asy-Syâfi’î, Ishâq, Ibnu Jarîr dan fuqohâ` ahli hadits, menyunnahkan khutbah selesai sholat dengan dua kali khutbah. Sedangkan Mâlik dan Abû Hanîfah tidak menyunnahkan demikian (yaitu tidak menyunnahkan khutbah setelah sholat gerhana). Dalilnya asy-Syâfi’î adalah hadits-hadits yang shahih, diantaranya yang terdapat di dalam Shahîhain dan selainnya, bahwa NabiShallallâhu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah selepas sholat gerhana.” (Syarh al-Muslim VI/454)
Menceritakan perbedaan pendapat ini, al-Hâfizh Ibnu Hajar setelah menyebutkan ucapan Imam Bukhârî “Bâb Khuthbah al-Imâm fî al-Kusuf” berkata :
“Para ulama berbeda pendapat tentang khutbah sholat gerhana. Asy-Syâfi’î, Ishâq dan mayoritas ahli hadits menyunnahkan khutbah. Ibnu Qudâmah berkata : Belum pernah sampai (riwayat) kepada kami dari Ahmad Rahimahullâhu bahwa ada khutbah sholat gerhana. Penulis al-Hidâyah dari kalangan Hanafiyah mengatakan : “tidak ada khutbah sholat gerhana, sebab belum pernah ada nukilan (dari Rasûlullâh) tentang hal ini. Pendapat ini dibantah sebab banyak hadits yang tsâbit yang menjelaskan adanya khutbah.
Pendapat yang masyhûr menurut Mâlikiyah adalah tidak ada khutbah sholat gerhana, padahal Mâlik sendiri meriwayatkan hadits yang menyebutkan adanya khutbah. Sebagian ulama madzhab Mâliki menjawab bahwa hadits (yang disebutkan oleh Imam Malik) tidak dimaksudkan untuk khutbah secara khusus, namun dimaksudkan untuk menjelaskan bantahan kepada sebagian orang yang meyakini bahwa gerhana terjadi oleh sebab kematian beberapa orang.
Pendapat ini dibantah sebab ada hadits-hadits yang shahih yang menegaskan bahwa yang dilakukan Rasûlullâh adalah khutbah, sebab memiliki syarat khutbah yang meliputi hamdalah, pujian, wejangan dan selainnya, sebagaimana terkandung dalam hadits. Jadi bukan hanya terbatas untuk menjelaskan sebab-sebab terjadinya gerhana. Hukum asal perkara yang disyariatkan adalah diikuti dan pengkhususan tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil…” (Fath al-Bârî II/534)
Pendapat yang râjih adalah, disunnahkannya melakukan khutbah selepas sholat gerhana sebagaimana yang telah tetap di dalam hadits-hadits nabi, seperti yang diriwayatkan dari Asmâ`, Ibnu ‘Abbâs dan ‘Â`isyah, semuanya muttafaq ‘alaihi. Riwayat Muslim dari Jâbir, riwayat Ahmad dan al-Hâkim dari Samurah dan riwayat Ibnu Hibbân dari ‘Amru bin al-‘Ash. Bahkan di dalam riwayat Ahmad, an-Nasâ`î dan Ibnu Hibbân dengan jelas disebutkan di dalam lafazhnya bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam naik ke atas mimbarnya. (Lihat ad-Dirôyah fî Takhrîji al-Hidâyah I/225 dan al-Mughnî karya Ibnu Qudâmah III/328).
Faqîhuz Zamân, al-‘Allâmah Muhammad Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullâhu menguatkan pendapat adanya khutbah sekali setelah sholat gerhana, sebagaimana dalam asy-Syarh al-Mumti’ V/259).
Demikian pula dengan Imâm Ibnu Baz rahimahullâhu di dalam Majmû’ Fatâwa wa Maqolât Mutanawwi’ah XIII/44.
Sifat khutbah sholat gerhana Nabi
Sifat dan cara khutbah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di dalam khutbah sholat gerhana sebagaimana dalam hadits-hadits yang shahih, terhimpun dalam poin-poin sebagai berikut :
1. Selepas sholat gerhana, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam naik ke atas mimbar. (HR an-Nasâ`î : 1498)
2. Kemudian nabi berkhutbah, mengucapkan hamdalah, memuji dan menyanjung kemudian mengucapkan amma ba’du. (HR al-Bukhârî : 1053)
3. Kemudian Nabi menjelaskan bahwa gerhana matahari adalah dua tanda diantara tanda-tanda Allôh, yang gerhana terjadi bukanlah disebabkan karena kematian atau kelahiran seseorang. Lalu Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan untuk berdzikir kepada Allôh, bertakbir, sedekah, membebaskan budak, beristighfar dan berdoa. (Muttafaq ‘alaihi)
4. Beliau juga memerintahkan untuk bersegera sholat ketika terjadi gerhana dan melakukan sholat sampai gerhana selesai. (HR Bukhârî : 1063)
5. Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam menceritakan bahwa beliau melihat surga dan neraka. Dimana beliau sampai berkeinginan untuk meraih setandan buah-buahan. Beliau juga menceritakan ngerinya siksa neraka yang apinya saling melalap satu dengan lainnya dan kebanyakan penghuninya adalah wanita. (Muttafaq ‘alaihi)
6. Beliau menceritakan tentang fitnah dan siksa kubur. (Muttafaq ‘alaihi)
7. Beliau juga menceritakan tentang hal-hal lain yang bermaksud membuat manusia menjadi takut dan ingat kepada Rabb-nya. Sebagaimana dalam hadits-hadits lainnya yang shahih.
11. Bersegera melakukan amal shalih
Seperti bedzikir, doa, istighfâr, takbir, membebaskan budak, bersedekah, sholat dan ber-ta’awwudz (memohon perlindungan) dari siksa neraka dan kubur. Hadits-haditsnya banyak, sebagiannya telah disebutkan di atas.
Jadi, sungguh ironi apabila kita menyibukkan diri dengan perbuatan sia-sia, atau bahkan melakukan kemaksiatan tatkala terjadinya gerhana. Padahal, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, manusia yang paling mulia, merasa takut dan bersegera untuk sholat serta banyak berdzikir dan melakukan amal-amal shalih lainnya. Wallôhul Musta’an
Sifat Sholat Gerhana Rasûlullâh
Para ulama berbeda pendapat tentang sifat sholat gerhana. Hanâbilah, Syâfi’îyah dan Mâlikiyah berpendapat bahwa sholat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat, dan tiap rakaatnya terdiri dari dua kali berdiri, dua kali membaca al-Qur`ân, dua kali ruku’ dan dua kali sujud. Adapun Abû Hanîfah, ats-Tsaurî dan an-Nakhâ’î serta penduduk Kufah, berpendapat bahwa sholat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat dengan sifat sama seperti sholat sunnah lainnya, yaitu satu kali ruku’, berdiri dan membaca al-Qur`ân. Namun pendapat mereka ini menyelisihi hadits yang lebih shahih. (Lihat Syarh Muslim VI/450, Nailul AuthârII/637 dan al-Mughnî I/450).
Ada pula riwayat hadits yang menjelaskan bahwa sholat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat, tiap rakaatnya 3 kali ruku’, riwayat lain menyatakan 4 kali ruku’, riwayat lain menyatakan 5 kali ruku’. Ini semua, menurut Imam Ibnul Qoyyim adalah tidak benar. Beliaurahimahullâhu berkata :
لا يصححون التعدد لذلك، كالإمام أحمد، والبخاري، والشافعي، ويرونه غلطًا)). وذهبت الحنفية إلى أنها تصلى ركعتين كسائر النوافل
“Bilangan sifat tersebut tidak dibenarkan, diantaranya oleh Imam Ahmad, Bukhârî dan Syâfi’î, mereka berpandangan hadits-haditsnya gholath/keliru.” (Zâdul Ma’âd 453).
Sebagian ulama mencacat riwayat-riwayat ini dan mengatakan hukumnya syâdz (ganjil), sebagaimana diutarakan oleh Ibnu Hajar dalam al-Fath (II/532) dan Syaikhul Islâm dalamFatâwa-nya (17-18/18).
Adapun yang râjih insyâ Allôh, adalah sholat dua rakaat yang tiap rakaatnya terdiri dari dua ruku’, dua kali berdiri dan membaca al-Qur`ân dan dua kali sujud. Berikut ini adalah sifat sholat gerhana Rasûlullâh sebagaimana yang ma’tsur di dalam hadits-hadits yang shahih :
1. Bertakbir dengan takbîratul Ihrâm.
2. Membaca doa istiftah atau iftitah.
3. Ber-ta’awwudz atau mengucapkan A’ûdzu billâhi min asy-Syaithân ar-Rajîm.
4. Mengucapkan Bismillâhi ar-Rahmân ar-Rahîm.
5. Membaca surat al-Fâtihah dan surat yang panjang secara keras (jahr).
6. Bertakbir kemudian ruku’ yang cukup lama sembari membaca doa ruku’ secara berulang-ulang.
7. Bangkit sembari mengucapkan Sami’a Allôhu liman Hamidahu, dan mengucapkanRobbanâ walaka al-Hamd.
8. Membaca surat al-Fâtihah dan surat yang panjang secara keras (jahr), namun tidak sepanjang surat yang pertama.
9. Bertakbir kemudian ruku’ yang cukup lama –namun tidak selama ruku’ yang pertama- sembari membaca doa ruku’ secara berulang-ulang.
10. Bangkit sembari mengucapkan Sami’a Allôhu liman Hamidahu, dan mengucapkanRobbanâ walaka al-Hamd. Dan yang lebih benar adalah memanjangkan i’tidâl kurang lebih sama dengan panjangnya ruku’.
11. Bertakbir lalu sujud yang lama sebagaimana lamanya ruku’ pertama.
12. Bertakbir, kemudian bangkit ke posisi duduk diantara dua sujud. Yang benar adalah memanjangkan duduk ini yang panjangnya sama dengan sujud.
13. Bertakbir lalu sujud yang lama, namun lamanya tidak seperti sujud pertama.
14. Bertakbir, kemudian bangkit berdiri ke rakaat kedua, dan melakukan hal yang sama dengan rakaat pertama. Yaitu, melakukan dua ruku’ dan dua sujud, dimana ruku’ dan sujud pertama lebih lama daripada ruku’ dan sujud kedua.
15. Lalu duduk tasyahhud dan mengucapkan sholawat atas nabi.
16. Lalu melakukan dua salam sembari menengok ke kanan dan kiri.
Demikianlah sifat sholat gerhana matahari, sebagaimana diriwayatkan oleh para imam ahli hadits, dan disebutkan oleh Syaikh Sa’îd Wahf al-Qohthônî dalam buku Sholâh al-Kusûf fî Dho’i al-Kitâb was Sunnah.
Dan alhamdulillah penulis banyak mengambil faidah pembahasan dari buku tersebut di atas, dengan beberapa buku lainnya.
(buku Tata cara shalat gerhana)
Oleh : Abû Salmâ al-Atsarî

Sholat Dhuha Yuk

Sahabatku tercinta, sudahkah kita membiasakan sholat dhuha? Bacalah berita gembira dari Rasulullah bagi penikmat/pecandu shalat dhuha.
“Setiap pagi, setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sedekah, maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, sungguh dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).

Continue reading Sholat Dhuha Yuk

Kata Bijak Imam Al Ghozali

Yang singkat adalah waktu,
yang menipu adalah dunia,
yang dekat adalah kematian,
yang berat adalah amanah,
yang jauh adalah masa lalu,
yang besar adalah hawa nafsu,
yang membakar amal adalah ghibah,

yang tajam/mendorong ke neraka adalah lidah,
yang berharga adalah iman,
yang ditunggu Allah adalah taubat.
yang ringan adalah meninggalkan shalat,
yang sulit adalah ikhlas,
yang mudah adalah berbuat dosa,
yang susah adalah sabar,
yang sering terlupa adalah bersyukur
~ Imam Al Gozali ~

Menyibak Makna Spiritual Isra’ Mi’raj


Peristiwa Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang sangat dramatik dan fantastik. Dalam tempo singkat-kurang dari semalam (minal lail)-tetapi Nabi berhasil menembus lapisan-lapisan spiritual yang amat jauh bahkan hingga ke puncak (Sidratil Muntaha).

Walaupun terjadi dalam sekejap, tetapi memori Rasulullah SAW berhasil menyalin pengalaman spiritual yang amat padat di sana. Kalau dikumpulkan seluruh hadis Isra Mi’raj (baik sahih maupun tidak), maka tidak cukup sehari-semalam untuk menceritakannya. Mulai dari perjalanan horizontalnya (ke Masjid Aqsha) sampai perjalanan vertikalnya (ke Sidratil Muntaha). Pengalaman dan pemandangan dari langit pertama hingga langit ketujuh dan sampai ke puncak Sidratil Muntaha.

Ada pertanyaan yang mengusik. Mengapa Allah SWT memperjalankan hambanya di malam hari (lailan), bukan di siang hari (naharan)? “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS al-Isra [17]: 1).

Dalam bahasa Arab kata lailah mempunyai beberapa makna. Ada makna literal berarti malam, lawan dari siang. Ada makna alegoris (majaz) seperti gelap atau kegelapan, kesunyian, keheningan, dan kesyahduan; serta ada makna anagogis (spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu’), kepasrahan (tawakkal), kedekatan (taqarrub) kepada Allah.

Dalam syair-syair klasik Arab, ungkapan lailah lebih banyak digunakan makna alegoris ketimbang makna literalnya. Seperti ungkapan syair seorang pengantin baru: “Ya lalila thul, ya shubhi qif” (wahai malam bertambah panjanglah, wahai Subuh berhentilah). Kata lailah di dalam bait itu berarti kesyahduan, keindahan, kenikmatan, dan kehangatan; sebagaimana dirasakan oleh para pengantin baru yang menyesali pendeknya malam.

Di dalam syair-syair sufistik orang bijak (hukama) juga lebih banyak menekankan makna anagogis kata lailah. Para sufi lebih banyak menghabiskan waktu malamnya untuk mendaki (taraqqi) menuju Tuhan. Mereka berterima kasih kepada lailah (malam) yang selalu menemani kesendirian mereka. Perhatikan ungkapan Imam Syafii: Man thalabal ula syahiral layali (barangsiapa yang mendambakan martabat utama banyaklah berjaga di waktu malam), bukan sekadar berjaga. Kata al-layali di sini berarti keakraban dan kerinduan antara hamba dan Tuhannya.

Arti lailah dalam ayat pertama surah al-Isra di atas menunjukkan makna anagogis, yang lebih menekankan aspek kekuatan spiritual malam (the power of night). Kekuatan emosional-spiritual malam hari yang dialami Rasulullah, dipicu oleh suasana sedih yang sangat mendalam, karena sang istri, Khadijah, dan sekaligus pelindungnya telah pergi untuk selama-lamanya. Rasulullah memanfaatkan suasana duka di malam hari sebagai kekuatan untuk bermunajat kepada Allah SWT.

Kesedihan dan kepasrahan yang begitu memuncak membawa Rasulullah menembus batas-batas spiritual tertentu, bahkan sampai pada jenjang puncak yang bernama Sidratil Muntaha. Di sanalah Rasulullah di-install (diisi) dengan spirit luar biasa sehingga malaikat Jibril sebagai panglima para malaikat juga tidak sanggup menembus puncak batas spiritual tersebut.

Kehebatan malam hari juga digambarkan Tuhan di dalam Alquran: “Dan pada sebahagian malam hari shalat Tahajudlah kalian sebagai suatu ibadah tambahan bagi kalian: mudah-mudahan Tuhan kalian mengangkat kalian ke tempat yang terpuji. (QS al-Isra [17]: 79).

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS al-Dzariyat [51]: 17).

Kata lailah dalam ketiga ayat di atas, mengisyaratkan malam sebagai rahasia untuk mencapai ketinggian dan martabat utama di sisi Allah SWT di malam hari.

Ayat pertama (QS al-‘Alaq [96]: 1-5) di turunkan di malam hari, ayat-ayat tersebut sekaligus menandai pelantikan Muhammad SAW sebagai Nabi di malam hari. Tidak lama kemudian turun ayat dalam surah Al-Muddatstsir yang menandai pelantikan Nabi Muhammad, sekaligus sebagai Rasul menurut kalangan ulama ‘Ulumul Qur’an.

Peristiwa Isra dan Mi’raj, ketika seorang hamba mencapai puncak maksimum (sudrah al-muntaha) juga terjadi di malam hari. Yang tidak kalah pentingnya ialah lailah al-qadr khair min alf syahr (malam lailatul qadr lebih mulia dari seribu bulan), bukannya siang hari Ramadlan (nahar al-qadr).

Kecerdasan

Surah al-Isra [17] diapit oleh dua surah yang serasi yaitu al-Nahl [16] dan al-Kahfi [18]. Surah al-Nahl dianggap simbol kecerdasan intelektual, karena berkaitan dengan dunia keilmuan (kisah lebah). Surah al-Kahfi sebagai simbol surah kecerdasan spiritual, karena berkaitan dengan cerita keyakinan dan spiritualitas (kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa, Ashabul Kahfi dan Dzulqarnain).

Sedangkan surah Al-Isra sering dijadikan sebagai simbol kecerdasan emosional, karena di dalamnya diceritakan pengaruh kematangan emosional dan prestasi puncak seorang hamba. Itulah sebabnya, ketiga surah yang menempati pertengahan juz Alquran disebut dengan surah tiga serangkai, yaitu surah IQ, EQ, SQ.

Keutamaan di malam hari, juga banyak membuat anak manusia menjadi lebih sadar (insyaf) dari perbuatan masa lalu yang kelam dan hitam. Malam hari banyak menumpahkan air mata tobat para hamba yang menyadari akan kesalahannya. Malam hari paling tepat untuk dijadikan momentum menentukan cita-cita luhur.

Mungkin inilah salah satu keistimewaan pondok pesantren yang memanfaatkan malam hari untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti santrinya. Sementara di sekolah-sekolah umum, jarang sekali memanfaatkan malam hari untuk pembinaan budi pekerti. Padahal, Allah sudah mengisyaratkan bahwa pada umumnya shalat itu ditempatkan di malam hari. Hanya shalat Zhuhur dan Ashar di siang hari, selebihnya di malam hari (shalat Maghrib, Isya, Tahajjud, Witir, Tarawih, Fajr, Subuh). Ini isyarat bahwa pendekatan pribadi secara khusus kepada Tuhan lebih utama di malam hari.

Sebenarnya peristiwa Isra-Mi’raj mempunyai dua macam peristiwa. Pertama, perjalanan horizontal dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha. Dan kedua, perjalanan vertikal dari Masjid Aqsha ke Sidratil Muntaha. Perjalanan Isra mungkin masih bisa dideteksi dengan sains dan teknologi, tetapi perjalanan Mi’raj sama sekali di luar kemampuan otak pikiran manusia.

Perjalanan Mi’raj ini, juga masih diperdebatkan banyak ulama, apakah dengan fisik dan roh Rasulullah atau hanya rohaninya saja. Mayoritas ulama Suni memahami bahwa yang diperjalankan Tuhan ke Sidratil Muntaha ialah Nabi Muhammad SAW secara utuh, lahir dan batin. Sementara pendapat lain memahami hanya rohaninya saja.

Yang pasti, perjalanan singkat itu berhasil merekam berbagai pemandangan spiritual bagi Rasulullah SAW, dan hendaknya bisa dijadikan pelajaran dan hikmah bagi umat Islam. Sebab, perjalanan malam hari itu, telah membangkitkan semangat baru Rasulullah dalam menyebarkan dakwah Islam.
Nasaruddin Umar
Republika Online

Hikmah Isra’ Mi’raj


Sekarang kita telah memasuki separo lebih bulan rojab dimana pada akhir bulan ini kita sebagai seorang muslim telah diingatkan kembali sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat islam. Sebuah peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup (siirah) Rasulullah SAW yaitu peristiwa diperjalankannya beliau (isra) dari Masjid al Haram di Makkah menuju Masjid al Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi’raj) dari Qubbah As Sakhrah menuju ke Sidrat al Muntaha (akhir penggapaian).

Peristiwa ini terjadi antara 16-12 bulan sebelum Rasulullah SAW diperintahkan untuk melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah). Allah SWT mengisahkan peristiwa agung ini di S. Al Isra (dikenal juga dengan S. Bani Israil) ayat pertama:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

Artinya; Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu (potongan) malam dari masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Lalu apa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Isra wal Mi’raj ini? Barangkali catatan ringan berikut dapat memotivasi kita untuk lebih jauh dan sungguh-sungguh menangkap pelajaran yang seharusnya kita tangkap dari perjalanan agung tersebut:
Pertama: Konteks situasi terjadinya

Kita kenal, Isra’ wal Mi’raj terjadi sekitar setahun sebelum Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah (Yatsrib ketika itu). Ketika itu, Rasulullah SAW dalam situasi yang sangat “sumpek”, seolah tiada celah harapan masa depan bagi agama ini. Selang beberapa masa sebelumnya, isteri tercinta Khadijah r.a. dan paman yang menjadi dinding kasat dari penjuangan meninggal dunia. Sementara tekanan fisik maunpun psikologis kafir Qurays terhadap perjuangan semakin berat. Rasulullah seolah kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan itu berkunang-kunang tiada jelas.

Dalam sitausi seperti inilah, rupanya “rahmah” Allah meliputi segalanya, mengalahkan dan menundukkan segala sesuatunya. “warahamatii wasi’at kulla syaei”, demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya. Beliau di suatu malam yang merintih kepedihan, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan, tiba-tiba diajak oleh Pemilik kesenangan dan kegetiran untuk “berjalan-jalan” (saraa) menelusuri napak tilas “perjuangan” para pejuang sebelumnya (para nabi). Bahkan dibawah serta melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di “Sidratul Muntaha”. Sungguh sebuah “penyejuk” yang menyiram keganasan kobaran api permusuhan kaum kafir. Dan kinilah masanya bagi Rasulullah SAW untuk kembali “menenangkan” jiwa, mempermantap tekad menyingsingkan lengan baju untuk melangkah menuju ke depan.

Artinya, bahwa kita adalah “rasul-rasul” Rasulullah SAW dalam melanjutkan perjuangan ini. Betapa terkadang, di tengah perjalanan kita temukan tantangan dan penentangan yang menyesakkan dada, bahkan mengaburkan pandangan objektif dalam melangkahkan kaki ke arah tujuan. Jikalau hal ini terjadi, maka tetaplah yakin, Allah akan meraih tangan kita, mengajak kita kepada sebuah “perjalanan” yang menyejukkan. “Allahu Waliyyulladziina aamanu” (Sungguh Allah itu adalah Wali-nya mereka yang betul-betul beriman”. Wali yang bertanggung jawab memenuhi segala keperluan dan kebutuhan. Kesumpekan dan kesempitan sebagai akibat dari penentangan dan rintangan mereka yang tidak senang dengan kebenaran, akan diselesaikan dengan cara da metode yang Hanya Allah yang tahu. Yang terpenting bagi seorang pejuang adalah, maju tak gentar, sekali mendayung pantang mundur, konsistensi memang harus menjadi karakter dasar bagi seorang pejuang di jalanNya. “Wa laa taeasuu min rahmatillah” (jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah).

Kedua: Pensucian Hati

Disebutkan bahwa sebelum di bawa oleh Jibril, beliau dibaringkan lalu dibelah dadanya, kemudian hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Apakah hati Rasulullah kotor? Pernahkan Rasulullah SAW berbuat dosa? Apakah Rasulullah punya penyakit “dendam”, dengki, iri hati, atau berbagai penyakit hati lainnya? Tidak…sungguh mati…tidak. Beliau hamba yang “ma’shuum” (terjaga dari berbuat dosa). Lalu apa signifikasi dari pensucian hatinya?

Rasulullah adalah sosok “uswah”, pribadi yang hadir di tengah-tengah umat sebagai, tidak saja “muballigh” (penyampai), melainkan sosok pribadi unggulan yang harus menjadi “percontohan” bagi semua yang mengaku pengikutnya. “Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswah hasanah”.

Memang betul, sebelum melakukan perjalanannya, haruslah dibersihkan hatinya. Sungguh, kita semua sedang dalam perjalanan. Perjalanan “suci” yang seharusnya dibangun dalam suasa “kefitrahan”. Berjalan dariNya dan juga menuju kepadaNya. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat menempuhnya. Dan hati yang intinya sebagai “nurani”, itulah lentera perjalanan hidup.

Cahaya ini berpusat pada hati seseorang yang ternyata juga dilengkapi oleh gesekan-gesekan “karat” kehidupan (fa alhamaha fujuuraha). Semakin kuat gesekan karat, semakin jauh pula dari warna yang sesungguhnya (taqawaaha). Dan oleh karenanya, di setiap saat dan kesempatan, diperlukan pembersihan, diperlukan air zamzam untuk membasuh kotoran-kotoran hati yang melengket. Hanya dengan itu, hati akan bersinar tajam menerangi kegelapan hidup. Dan sungguh hati inilah yang kemudian “penentu” baik atau tidaknya seseorang pemilik hati.

ألا إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلحت سير عمله، وإذا فسدت فسدت سير عمله.

Disebutkan bahwa hati manusia awalnya putih bersih. Ia ibarat kertas putih dengan tiada noda sedikitpun. Namun karena manusia, setiap kali melakukan dosa-dosa setiap kali pula terjatuh noda hitam pada hati, yang pada akhirnya menjadikannya hitam pekat. Kalaulah saja, manusia yang hatinya hitam pekat tersebut tidak sadar dan bahkan menambah dosa dan noda, maka akhirnya Allah akan akan membalik hati tersebut. Hati yang terbalik inilah yang kemudian hanya bisa disadarkan oleh api neraka. “Khatamallahu ‘alaa quluubihim”.

Di Al Qur’an sendiri, Allah berfirman” قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: Sungguh beruntung siapa yang mensucikannya, dan sungguh buntunglah siapa yang mengotorinya”. Maka sungguh perjalanan ini hanya akan bisa menuju “ilahi” dengan senantiasa membersihkan jiwa dan hati kita, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah sebelum perjalanan sucinya tersebut.

Ketiga: Memilih Susu – Menolak Khamar

Ketika ditawari dua pilihan minuman, dengan sigap Rasulullah mengambil gelas yang berisikan susu. Minuman halal dan penuh menfaat bagi kesehatan. Minuman yang berkalsium tinggi, menguatkan tulang belulang. Rasulullah menolak khamar, minuman yang menginjak-nginjak akal, menurunkan tingkat inteletualitas ke dasar yang paling rendah. Sungguh memang pilihan yang tepat, karena pilihan ini adalah pilihan fitri “suci”.

Dengan bekal jiwa yang telah dibersihkan tadi, Rasulullah memang melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, hanya memang ada dua alternatif di hadapan kita. Kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan selalu identik dengan manfaat, sementara keburukan akan selalu identik dengan kerugian. Seseorang yang hatinya suci, bersih dari kuman dosa dan noda kezaliman, akan sensitif untuk menerima selalu menerima yang benar dan menolak yang salah. Bahkan hati yang bersih tadi akan merasakan “ketidak senangan” terhadap setiap kemungkaran. Lebih jauh lagi, pemiliknya akan memerangi setiap kemungkaran dengan segala daya yang dimilikinya.

Dalam hidup ini seringkali kita diperhadapkan kepada pilihan-pilihan yang samar. Fitra menjadi acuan, lentera, pedoman dalam mengayuh bahtera kehidupan menuju tujuan akhir kita (akhirat). Dan oleh karenanya, jika kita dalam melakukan pilihan-pilihan dalam hidup ini, ternyata kita seringkali terperangkap kepada pilihan-pilihan yang salah, buruk lagi merugikan, maka yakinlah itu disebabkan oleh tumpulnya firtah insaniyah kita. Agaknya dalam situasi seperti ini, diperlukan asahan untuk mempertajam kembali fitrah Ilahiyah yang bersemayam dalam diri setiap insan.

Keempat: Imam Shalat Berjama’ah

Shalat adalah bentuk peribadatan tertinggi seorang Muslim, sekaligus merupakan simpol ketaatan totalitas kepadaYang Maha Pencipta. Pada shalatlah terkumpul berbagai hikmah dan makna. Shalat menjadi simbol ketaatan total dan kebaikan universal yang seorang Muslim senantiasa menjadi tujuan hidupnya.

Maka ketika Rasulullah memimpin shalat berjama’ah, dan tidak tanggung-tanggung ma’mumnya adalah para anbiyaa (nabi-nabi), maka sungguh itu adalah suatu pengakuan kepemimpinan dari seluruh kaum yang ada. Memang jauh sebelumnya, Musa yang menjadi pemimpin sebuah umat besar pada masanya. Bahkan Ibrahim, Eyangnya banyak nabi dan Rasul, menerima menjadi Ma’mum Rasulullah SAW. Beliau menerima dengan rela hati, karena sadar bahwa Rasulullah memang memiliki kelebihan-kelebihan “leadership”, walau secara senioritas beliaulah seharusnya menjadi Imam.

Kempimpinan dalam shalat berjama’ah sesungguhnya juga simbol kepemimpinan dalam segala skala kehidupan manusia. Allah menggambarkan sekaligus mengaitkan antara kepemimpinan shalat dan kebajikan secara menyeluruh: “Wahai orang-orang yang beriman, ruku’lah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu serta berbuat baiklah secara bersama-sama. Nisacaya dengan itu, kamu akan meraih keberuntungan”. Dalam situasi seperti inilah, seorang Muhammad telah membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin bagi seluruh pemimpin umat lainnya.

Bagaimana dengan kita sebagai pengikut nabi muhammad dalam masalah ini? Masalahnya, umat Islam saat ini tidak memiliki kriteria tersebut. Kriteria “imaamah” atau kepemimpinan yang disebutkan dalam Al Qur’an masih menjadi “tanda tanya” besar pada kalangan umat ini. “Dan demikian kami jadikan di antara mereka pemimpin yang mengetahui urusan Kami, memiliki kesabaran dan ketangguhan jiwa, dan adalah mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami”.

Kita umat Islam, yang seharusnya menjadi pemimpin umat lainnya, ternyata memang menjadi salah satu pemimpin. Sayang kepemimpinan dunia Islam saat ini terbalik, bukan dalam shalat berjama’ah, bukan dalam kebaikan dan kemajuan dalam kehidupan manusia. Namun lebih banyak yang bersifat negatif.
Kelima: Kembali ke Bumi dengan Shalat

Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, dan dengan segera pula beliau kembali menuju alam kekiniannya. Rasulullah sungguh sadar bahwa betapapun ni’matnya berhadapan langsung dengan Yang Maha Kuasa di suatu tempat yang agung nan suci, betapa ni’mat menyaksikan dan mengelilingi syurga, tapi kenyataannya beliau memiliki tanggung jawab duniawi. Untuk itu, semua kesenangan dan keni’matan yang dirasakan malam itu, harus ditinggalkan untuk kembali ke dunia beliau melanjutkan amanah perjuangan yang masih harus diembannya.

Inilah sikap seorang Muslim. Kita dituntut untuk turun ke bumi ini dengan membawa bekal shalat yang kokoh. Shalat berintikan “dzikir”, dan karenanya dengan bekal dzikir inilah kita melanjutkan ayunan langkah kaki menelusuri lorong-lorong kehidupan menuju kepada ridhaNya. “Wadzkurullaha katsiira” (dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak), pesan Allah kepada kita di saat kita bertebaran mencari “fadhalNya” dipermukaan bumi ini. Persis seperti Rasulullah SAW membawa bekal shalat 5 waktu berjalan kembali menuju bumi setelah melakukan serangkaian perjalanan suci ke atas (Mi’raj).

sumber : Pesantrenvirtual.com

ISRA’ MI’RAJ: Mu’jizat, Salah Tafsir, dan Makna Pentingnya

Dalam memperingati isra’ dan mi’raj sering kita diajak oleh pembicara pengajian akbar melanglang buana sampai ke langit, dan kadang-kadang dibumbui dengan analisis yang nampaknya berdasar sains. Bagi saya, aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian isra’ mi’raj.

Tulisan ini saya maksudkan untuk mendudukkan masalah isra’ mi’raj sebagai mana adanya yang diceritakan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits sahih. Untuk itu pula akan saya ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan isra’ mi’raj dengan kajian astronomi. Makna penting isra’ mi’raj yang mestinya kita tekankan.

Kisah dalam Al-Qur’an dan Hadits

Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang isra’:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:

“Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.

Kejadian-kejadian sekitar isra’ dan mi’raj dijelaskan di dalam hadits- hadits nabi. Dari hadits-hadits yang sahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah. Kemudian didatangkan buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan buraq itu Nabi melakukan isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina.

Nabi SAW salat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, “Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau.”

Dengan buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat salat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.

Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah salat wajib. Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh- sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”

Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah salat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian- kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan badan fisik hingga bisa salat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan ruh para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu’min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.

“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia….” (QS. 17:60).
“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai saya (kata Nabi SAW), saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya inginkan dan saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Hakikat Tujuh Langit

Peristiwa isra’ mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an.

Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan? Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa’ atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.

Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur’an tidak selalu menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal. Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan:

“Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan TUJUH tangkai yang masing-masingnya berbuah seratus butir. Allah MELIPATGANDAKAN pahala orang-orang yang dikehendakinya….”
Juga di dalam Q.S. Luqman:27:

“Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan TUJUH lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….”
Jadi ‘tujuh langit’ lebih mengena bila difahamkan sebagai tatanan benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.

Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, … sampai langit ke tujuh dalam kisah isra’ mi’raj? Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama, matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari. Nah, orang mungkin akan berfikir langit dunia itulah orbit bumi, langit ke dua orbit Mars, ke tiga orbit Jupiter, ke empat orbit Saturnus, ke lima Uranus, ke enam Neptunus, dan ke tujuh Pluto. Kok, klop ya. Kalau begitu, Masjidil Aqsha yang berarti masjid terjauh dalam QS. 17:1, ada di planet Pluto.

Dan Sidratul Muntaha adalah planet ke sepuluh yang tak mungkin terlampaui. Jadilah, isra’ mi’raj dibayangkan seperti kisah Science Fiction, perjalanan antar planet dalam satu malam. Na’udzu billah mindzalik.

Saya berpendapat, pengertian langit dalam kisah isra’ mi’raj bukanlah pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan ruh para Nabi. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah isra’ mi’raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra’ mi’raj adalah mu’jizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Makna pentingnya

Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan isra’ mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa isra’ mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah salat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.

Makna penting isra’ mi’raj bagi ummat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah salat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan salat sebagai ibadah utama dalam Islam. Salat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.

Salat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45)

T. Djamaluddin adalah peneliti bidang matahari & lingkungan antariksa, Lapan, Bandung.