Sahabat yang baik,

Bergembiralah karena kita segera menyambut bulan Ramadhan. Inilah satu bulan yang mulia, saat Allah Swt. memberikan keberkahan yang luar biasa. Siapapun yang bersungguh-sungguh meniti jalan taat dan memaksimalkan kebaikan di bulan ini, maka Allah Swt. akan menggolongkannya dalam golongan orang-orang yang bertakwa, sebagaimana tercantum dalam surat  Al Baqarah ayat 187

“…Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”

Oleh karena itu, di akhir Ramadhan nanti akan ada dua golongan; golongan orang yang takwanya bertambah, dan orang yang biasa saja melalui Ramadhan. Inilah yang disabdakan oleh Nabi yang jujur lagi membawa berita yang benar.

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” HR. Thabrani

Sahabat yang mulia,

Hari-hari di bulan Ramadhan semoga kita lalui dengan semakin bertambah dan kokoh imannya disebabkan energi dan tenaga yang dipakai untuk mengisi kebaikan di bulan Ramadhan adalah takwa. Karena itulah mari kita membangun tekad untuk meraih derajat takwa di sisi Allah Swt.

 

Karakter Cerdas di Bulan Ramadhan

Sahabat,

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. “Orang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” HR Tirmidzi.

Dari hadits di atas, disebutkan orang yang paling cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya. Ketahuilah, bahwa musuh yang paling berbahaya bagi manusia adalah dirinya sendiri; hawa nafsunya, fikirannya, firasatnya, kata-katanya, dan perilakunya sendiri. Tidak ada yang mampu mencelakakan manusia kecuali apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri.

Maka Ramadhan adalah bulan dimana Allah Swt. memberikan pertolongan kepada diri kita untuk mengendalikan hawa nafsu kita.

Sesungguhnya hawa nafsu itu bertempat di perut bani Adam, demikian sabda Rasulullah saw. Para ulama menyampaikan karakter khas hawa nafsu adalah hadirnya kebutuhan untuk makan, minum, syahwat, dan tidur. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam hadits qudsi riwayat Bukhari, bahwa setiap amalan manusia dibalas minimal 10 kali lipat, kecuali puasa. Puasa adalah milik Allah dan Allah yang akan langsung memberikan ganjarannya, karena orang yang berpuasa telah meninggalkan hawa nafsu, makan, dan minumnya karena Allah.

Jika manusia bisa mengendalikan hawa nafsunya, ia mampu untuk membersihkan hati dan jiwanya, untuk melakukan hal yang produktif. Bukankah Allah menyukai hamba-Nya yang bertaubat dan membersihkan diri?

Sahabat yang bersih hatinya,

Ada hal yang menarik, selama 9 tahun Rasulullah berpuasa Ramadhan, beliau hanya berbuka dengan kurma dan air. Kami belum pernah menemukan riwayat beliau makan selain itu. Ketika hal ini ditadabburi, Rasulullah menyengaja mempersedikit makan, minum, tidur, dan beliau menyengaja meninggalkan istri-istrinya, karena memang targetnya untuk mengendalikan hawa nafsu.

Maka barangkali orang yang tidak mampu mempersedikit makan dan minum, boleh jadi ia akan berat untuk melakukan amalan-amalan yang dianjurkan di bulan Ramadhan. Bukankah Rasulullah mewasiatkan kepada kita untuk mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air, dan sepertiga udara? Bukankah Rasulullah berpesan bahwa cukup bagi kita makan hanya untuk menegakkan tulang punggung kita. Mengapa? Karena itu ditujukan untuk mengendalikan hawa nafsu kita, sehingga kita menjadi ringan dalam melakukan ibadah.

Sahabat yang semoga menjadi ahli surga,

Misi kita yang utama adalah mengabdi pada Allah Swt dan menjadi khalifah di muka bumi. Dunia ini meskipun sebentar, namun merupakan hal yang vital. Ia adalah ladang amal untuk kita petik di akhirat kelak.

Untuk menggapainya, kita awali dengan kebiasaan-kebiasaan. Kita sadari manusia adalah makhluk kebiasaan. Maka di Ramadhan ini, mari kita bangun kebiasaan-kebiasaan baik yang akan menetap dalam diri jika ditenagai dengan kesungguhan. Kesungguhan akan melahirkan prestasi berupa amal-amal shalih, yang akan berujung menjadi reputasi akhir yang baik, husnul khatimah. Awali kebiasaan ini di bulan Ramadhan, sehingga Ramadhan melatih kita untuk mengendalikan hawa nafsu, di saat yang sama menaikkan level ketakwaan kita. Ramadhan-pun mengajarkan kita untuk berbekal sebaik-baiknya untuk negeri akhirat kelak. Kami cinta Ramadhan.

Artikel Terkait

error: Content is protected !!
WhatsApp chat